
Junda tampak begitu gagah, saat mengenakan setelan pakaian yang warna dan modelnya sama dengan semua anggota keluarganya.
Menurut Raina, Junda yang paling tampan di antara laki-laki yang ada, apalagi ketika pria yang sudah sah menjadi suaminya itu berjalan mendekatinya dan meraih tangannya untuk duduk bersanding di sampingnya.
Pernikahan antara Dion dan Anne itu dilangsungkan di rumah keluarga yang cukup besar namun sederhana, tidak banyak dekorasi yang menghiasi pelaminan, semua adalah hal biasa yang diadakan di perkampungan itu.
“Wah ada pengantin baru, mendatangi pengantin baru juga!”
“Ini pengantin barunya yang mana, ya?”
“Bisa-bisa ada gempa nanti malam soalnya ada dua pengantinnya!”
“Ternyata kamu dari dulu nggak mau kalah saingan, ya, Jun!”
“Akhirnya kamu nikah juga, Jun.”
“Iya, aku pikir kamu bakal jadi perjaka seumur hidup.”
Itu kelakar beberapa saudara dan kerabat yang melihat kemesraan antara Junda dan Relina. Mereka menjadi pusat perhatian yang berbeda, selain karena pernikahan yang tidak biasa, mereka juga tampak begitu serasi dan cocok. Pakaian batik yang mereka kenakan pun, seperti sudah disepakati sebelumnya karena warna dan coraknya hampir sama.
Junda dan Relina hanya tersenyum menanggapi komentar-komentar keluarga mereka. Selain kepada Anne,pihak keluarga pun memperkenalkan semua keluarga yang hadir, sepupu-sepupu Junda dan Dion, satu persatu termasuk paman dan bibi mereka.
Baik Relina maupun Anne, menyambut perkenalan itu dengan ramah dan senyuman yang tulus. Senang hati mendapatkan saudara yang banyak dan bertambah kebaikan dengan memiliki banyak persaudaraan. Itu lah salah satu tujuan pernikahan.
Harapan besar bahwa kehidupan setelah berumah tangga akan jauh lebih baik, serta hubungan kekerabatan yang lebih luas, terlepas dari segala ujian dan cobaan yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
Setelah semua prosesi pernikahan selesai, semua yang hadir mengucapkan syukur dan doa kebaikan untuk kedua mempelai. Tentu saja Relina ikut berdoa juga untuk kebaikan dirinya sendiri dan juga rumah tangganya kelak bersama Junda.
Hadiah pernikahan yang diberikan Dion kepada Anne sangat besar, tapi tidak membuat Relina menjadi iri hati karenanya. Dia bersyukur mendapatkan uang seadanya dari Junda saat pernikahan mendadak kemarin malam. Sebab dia yakin kasih sayang yang akan Junda berikan kepadanya akan jauh lebih banyak dan lebih besar setelah menjadi suaminya.
“Apa kamu mau hadiah pernikahan seperti itu untuk pernikahanmu?” tanya Junda tiba-tiba saat dia sudah selesai dilantunkan. Sementara beberapa orang mulai menikmati hidangan yang di sediakan.
Relina menoleh dan menggeleng sambil terus tersenyum.
“Aku yakin kasih sayang dan cintamu jauh lebih besar dari itu, iya, kan?”
__ADS_1
Junda pun mengangguk. Ingin rasanya ia mencium Relina saat itu juga tetapi itu tidak memungkinkan dia lakukan, mengingat suasana yang cukup ramai dan banyak orang memperhatikan mereka berdua.
“Aku mencintaimu, aku bisa memberikan apa yang Gunara berikan padamu.”
“Iya aku tahu.”
Saat berbicara kedua tangan mereka saling meremas dan kedua mata mereka pun saling menatap dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Ayo kita makan satu piring untuk berdua, aku suapin kamu, oke?”
Seketika Relina menggelengkan kepalanya mendengar usulan dari Junda.
“Aku gak mau, malu ah, makan sepiring berdua kayak nggak ada piring aja.”
“Kan biar kita terlihat mesra ....”
“Kamu masih saja suka maksa.”
“Ya, ya, baiklah ... sana makan sendiri saja!” Junda cemberut saat mengatakan ini membuat Relina tertawa kecil karena melihat raut wajah Suaminya menjadi lucu di matanya.
Dia masih ada di rumah Anne, dengan tenang mendekati kedua orang tua Rerlina yang duduk di antara keluarga dari pihak Anne dan tetangga.
Melihat Junda mendekat, mereka akhirnya mengambil tempat duduk secara terpisah dari beberapa orang yang ada di sana.
“Kamu, sudah makan, Nak Junda?” tanya Rosihan berbasa-basi. Junda mengangguk, menanggapi ayah mertuanya itu, sambil tersenyum.
“Sudah, Ayah,” jawabnya, setelah itu Junda mengutarakan niatnya untuk membawa istrinya pulang bersama keluarganya, kembali pulang ke kota Bogor, hari itu juga.
Dia mengatakan bahwa Relina pun sudah menyepakati dan mengemasi barangnya yang akan dibawa. Dengan kesungguhan dan antusias Junda mengatakan rencananya bahwa dia akan menjaga dan tetap mendukung apa yang akan dilakukan Relina untuk terus bekerja sampai proyek di perusahaan Gunara selesai.
“Jadi kamu mau membiarkan Relina kerja, sementara dia tetap melayani kamu sebagai suaminya gitu? Apa kamu enggak kasihan sama dia, kerja seperti itu capek, memangnya kamu enggak bisa gantiin, biar dia tetap berada di rumah?” Sahut Renita sambil menatap Junda kesal.
'Kalau bisa gantiin dia, pasti aku gantikan pekerjaannya' batin Junda.
Wajar saja bila seorang ibu kuatir pada anaknya yang baru saja sembuh dari sakit dan kembali bekerja sementara dia harus melayani suaminya di rumah. Bahkan dia ingin Relina tetap berada di sisinya dan tidak perlu lagi repot-repot bekerja. Anaknya cukup menunggu pemberian dari suaminya yang akan bertanggung jawab atas segala kebutuhannya.
__ADS_1
Junda sedikit terhenyak saat mendengar Renita mengatakan ketidak setujuan akan rencananya dan Relina. Biar bagaimanapun juga, rencana itu bukanlah murni atas keinginannya tetapi juga keinginan Relina.
Sebenarnya Renita juga tahu bahwa anaknya keras kepala, ingin tetap bekerja. Dia selama ini berusaha dengan keras menahan agar anaknya itu mau menunggu sampai pernikahan Anne berlangsung, setelah itu, barulah dia bisa kembali menangani proyeknya.
Sungguh kejadian lamaran dan pernikahan Relina yang mendadak itu sama sekali di luar dari keinginan dan rencana Renita. Dia tidak ingin anak gadisnya terlalu letih karena menjalani peran ganda.
“Sebanarnya Saya juga tidak mau Relina bekerja tetapi dia ingin menyelesaikan proyek karena itu, amanah yang harus dijalankan sebagaimana mestinya, begitu, Bu.” Junda menanggapi ucapan Renita dengan tegas.
Tanpa menjawab pernyataan Junda, Renita pergi meninggalkan menantu dan suaminya yang masih ih diam. Perempuan itu mencari Relina yang masih bersama Anne, sedang menikmati makanannya. Kedua wanita yang menjadi pengantin hampir bersamaan itu tengah berbincang membahas rencana dan keinginan mereka masing-masing.
Anne sangat menyetujui niat Relina dengan segala dukungan karena dia yakin, setelah mereka menikah maka tidak ada lagi sesuatu ataupun hal buruk yang akan terjadi pada sahabatnya itu.
Semua manusia menginginkan kebaikan setelah mereka mendapatkan banyak cobaan dalam kehidupan dan berhasil melewatinya.
“Ayo, kita pulang. Ada yang harus kita bicarakan.” Renita mengajak anak gadisnya itu pergi secara paksa dari acara pernikahan sahabatnya.
Relina tidak bisa membantah ibunya, hingga dia menuruti keinginan Renita. Segera dia berpamitan pada Anne serta mamanya dan mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi di Bogor setelah hari ini dan setelah Anne menjalankan bulan madunya bersama Dion.
Sesampainya di rumah, Relina tidak membantah semua yang sudah dikatakan Junda kepada kedua orang tuanya. Dia memang menginginkan hal yang sama, kembali ke Bogor menjadi istri sekaligus seorang wanita karir yang berhasil menyelesaikan proyek besar impiannya.
Renita tau betapa penting artinya proyek itu bagi anak gadisnya setelah ia mendengar semua ceritanya akan tetapi ia juga mengkhawatirkan kesehatan anak gadisnya dan juga tidak menginginkan hal buruk terjadi lagi kepadanya.
“Aku tahu Ibuk sayang sama aku, tapi kan sekarang ada Junda, yang akan menjagaku. Jadi, ibu nggak usah khawatir!”
“Gimana Ibuk nggak kuatir, kamu masih lemah, baru saja sembuh. Apalagi masih pengantin baru ....”
Betapa Renita mengenang akan pengalamannya sebagai pengantin baru yang akan melayani suaminya jauh lebih sering dan lebih banyak dari pasangan yang sudah lama berumah tangga.
Junda mengerti maksud Renita—ibu mertuanya itu bermaksud baik pada kesehatan Relina.
“Baik, Bu. Saya mengerti maksud Ibu. Jadi saya tidak akan menjadwalkan bulan madu tahun ini, untuk saya dan Reina.” Junda berkata dengan nada sumbang dan berat setelah percakapan antara ibu dan anak itu berakhir.
“Apa? Jadi kamu nggak sayang ya sama aku, kok nggak mau bulan madu sama aku? Padahal aku mau kita bulan madu bareng sama Ane.” Relina menyahut dengan wajah cemberut.
“Apa?” tanya Rosihan dan Renita bersamaan.
__ADS_1
Bersambung