
Relina menunduk dan melihat seekor angsa kecil, dengan pakaian serta perhiasan yang mencolok ditubuhnya, melewati celah di antara dua kakinya. Seketika dia menangkap angsa itu tepat di lehernya. Seperti itulah cara menangkap angsa.
Waktu Relina kecil, dia takut sekali dengan angsa yang berlari mengejarnya. Ada tetangga di kampung yang memelihara banyak angsa dan sering mengejar anak-anak, yang lewat saat pulang sekolah. Betis gadis itu pernah di gigit dan itu sakit sekali, ada bekas warna merah dan bengkak yang selama tiga hari tidak hilang.
Sekarang setelah dia dewasa dan melihat angsa kecil, yang cantik ada di halaman bandara, membuatnya berpikir, mungkin hewan itu bukan peliharaan sembarangan.
‘Eh, tunggu dulu ... bukannya di bandara nggak boleh bawa binatang peliharaan kecuali di kandang kan?’ batin Relina, sambil mengusap kepala angsa dalam gendongan, yang sudah berhasil ditangkapnya.
Seorang wanita tua yang rambutnya di cat tampak tersenyum manis padanya, lalu mengambil anak angsa itu dari tangan Relina.
“Terima kasih ya, kamu pintar tangkap angsa ... ayo ... Kimiko!” kata wanita itu lagi, sambil mencium lembut bagian atas kepala angsa.
“Kimiko itu nama angsa ini?” tanya Relina heran karena setahu dia, Kimiko adalah nama bintang panas negeri bunga sakura, yang bermain di beberapa film dewasa.
“Iya,” jawab si wanita sambil tersenyum manis. “Siapa namamu, Nak?” tanya wanita itu.
“Saya Relina,” jawab Relina sambil mengulurkan tangannya dan kedua wanita itu menyambut dengan hangat.
Wanita itu menyahut, “Aku Sahasi, kamu dari mana?”
Relina tersenyum dan melirik angsa yang memakai gelang mutiara di kakinya dan kalung emas dengan gantungan angsa cantik menghiasi lehernya.
“Saya dari Palembang.”
Jawaban Relina membuat Shasi mengerutkan alisnya. Sudah beberapa hari ini dia curiga dengan Junda yang bersikap menjaga jarak darinya. Ya, sifat cucunya itu berubah sejak berkata secara jujur bahwa dirinya menyukai seorang wanita yang berasal dari Pulau Sumatera.
Baginya saat ini, Junda sudah keterlaluan karena tega meninggalkannya berhari-hari demi wanita yang disukainya. Bahkan cucu lelakinya itu, mengabaikannya, untuk pertama kalinya menentang mitos, yang dipercaya. Dia hanya menyayangi Junda, tidak ingin ada hal buruk terjadi padanya, juga bukan mengekangnya. Akan tetapi, saat ini semua yang dilakukannya untuk cucu kesayangannya, seolah-olah salah dan Junda menyangkalnya.
Sebenarnya, Shasi tengah menyelidiki Junda, setelah tadi siang dia mendengar cucunya akan menjemput seseorang.
Wanita itu mengetahui secara tidak sengaja, saat dia hendak masuk ke ruangan Junda dan mendengar pria itu menghubungi seseorang, percakapannya dengan orang yang ada di balik telepon, terasa sangat dekat.
Namun, sudah sekian lama dia menunggu, Junda tidak kunjung datang, tapi justru angsanya terlepas saat Shasi berada dalam persembunyian. Dia tidak bisa pergi tanpa membawa angsa kesayangannya. Menurut pengalaman pribadinya, bepergian dengan membawa binatang kesayangan akan berpotensi mengurangi tingkat stres seseorang.
__ADS_1
Angsa adalah salah satu simbol Cinta! Oleh karena itu, Shasi selalu membawa Kimiko pergi kemana pun.
Shasi sering sakit-sakitan sejak beberapa bulan terakhir, dia selalu ingin menghabiskan waktu bersama Junda karena merasa waktunya tidak lama lagi. Saat dia melakukan pengintaian secara mandiri, dia menganggapnya sebagai menghabiskan waktu bersama.
“Apa kamu dari Pelembang?”
Relina pun mengangguk dan Shasi tersenyum lagi.
Relina membalas senyuman wanita yang menurutnya cukup energik dibalik usianya yang sebenarnya sudah tua. Penampilan wanita itu sangat modis dan elegan menunjukkan status sosial yang bagus di masyarakat.
Relina tadi melihat Shasi keluar dari salah satu ruangan yang agak tersembunyi. Ada beberapa ruangan yang ada di sepanjang koridor menuju aula penjemputan atau area keluar bandara.
Sementara pintu ruangan itu tertutup oleh beberapa bunga dan juga spanduk yang bertuliskan pengumuman. Seandainya dia tidak berteriak, Relina tidak akan melihat keberadaannya.
Wanita itu dengan cepat mengusir pikiran buruknya pergi. Ada banyak penumpang yang berasal dari pulau Sumatera mengingat ada pengumuman bahwa pesawat dari Propinsi Sumatera Selatan itu baru saja tiba.
“Apa kamu sendiri?” tanya Shasi yang mulai menampakkan kecurigaannya, lalu Relina mengangguk.
Mendengar ucapan Shasi, kali ini Relina menggelengkan kepalanya. Shasi pun terlihat lega, ternyata bukan gadis ini yang dibicarakan Junda, pikirnya.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Terima kasih sudah menangkap Kimiko!”
“Oh, tidak masalah Bu. Tidak perlu berterima kasih,” jawab Relina lembut sambil menundukkan kepalanya menunjukkan rasa hormat.
‘Ah ... jarang ada anak muda sopan seperti dia ... Seandainya saja gadis itu memiliki tanda yang sama dengan Junda!’ batin Shasi sambil berbalik badan.
Akan tetapi belum juga Shasi mengambil satu langkah, angsa kecil peliharaan kesayangan wanita itu menjulurkan lehernya yang panjang. Tanpa diduga angsa itu menggigit pangkal lengan Relina, membuat perempuan itu meringis. Dia berusaha untuk tidak berteriak menahan sakitnya karena dia sadar tengah berada di tempat umum.
‘Ahk ... ini sakit, sekali!’ pekik Relina dalam hati.
Wanita berambut sebahu itu sontak mengusap kasar pangkal lengannya yang, sakit. Akan tetapi, ada yang lebih mengejutkan lagi. Kemeja yang berwarna pink yang dipakai Relina sedikit sobek karena saat angsa itu menggigit, antara Relina dan si wanita tua itu saling menarik.
“Oh, maafkan Kimiko, ya?” kata Shasi tampak kepanikan yang sangat dia tidak enak pada Relina atas apa yang terjadi.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, kok, Bu. Ini Cuma binatang,” kata Relina melangkah menjauh mencoba mencari toilet umum, sambil menarik kopernya. Dia harus pergi ke tempat itu untuk melihat apakah tangannya terluka atau tidak. Sebab ada rasa perih yang tidak biasanya.
Dia tidak akan membuka lengan panjang kemejanya yang menutupi tangannya, untuk melihat. Dia akan merasa sangat malu berbuat yang menurutnya tidak pantas kalau dilakukan di tempat umum.
Diam-diam Shasi mengikutinya, dia penasaran apakah Relina akan terluka, hanya karena digigit binatang yang, tidak bergigi tajam. Ya, seperti paus bongkok yang hanya memakan plankton di laut, mereka binatang yang tidak bergigi tajam.
Setelah sampai di toilet, Relina membuka lengan baju dan menyingkapkannya. Dia memperhatikan tangan dan sekitar sikunya yang merah dan sedikit bengkak.
“Ahk, angsa kecil juga tapi sudah sakit gini!” gumam Relina sambil mengancingkan kembali lengan kemeja panjangnya.
Setelah itu, Relina baru saja hendak keluar sambil menyeret kopernya, saat beberapa wanita yang datang secara bergerombol memasuki toilet.
Sementara ada Shasi yang tengah berdiri di sisi pintu masuk toilet wanita itu, dengan raut wajah tercengang setelah melihat pemandangan yang sangat indah di hadapannya.
Dia melihat Relina memiliki tanda bahulawean yang sangat besar di siku tangan kirinya. Tiba-tiba hati wanita itu bergemuruh, jantungnya berdegup kencang, ada rasa sesak yang naik dari ulu hati menjalar keleher dan membuat wajah serta hidungnya terasa panas.
‘’Aku harus mendapatkan wanita itu demi Junda. Harus!’ batin Shasi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi yang dia lihat hanyalah beberapa orang wanita yang sedang mengantri di toilet sambil berbincang-bincang.
“Ya Tuhan ... kemana gadis itu?” Gumamnya, setengah tidak sadar dia berjalan terburu-buru mencari keberadaan Relina.
Shasi terus berjalan ke sana ke mari, seperti orang bingung sambil menggendong angsa peliharaan kesayangannya. Langkahnya semakin cepat menuju tempat pertama kali mereka bertemu, sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Dia berniat menghubungi Junda.
Kini ponsel sudah ada di tangan dan Shasi mulai menekan layar,hingga wanita itu tidak memperhatikan Kimiko yang kembali berbuat ulah, ingin kabur dari dalam tas bambu yang dirancang sedemikian rupa agar membuat binatang peliharaan yang dibawa merasa nyaman.
Koek! Binatang itu kembali bersuara keras.
Angsa putih kembali mencoba kabur hingga Shasi tidak seimbang antara memegang ponsel dan juga peliharaannya. Sementara napas wanita itu kembang kempis menahan lelah, keringat membasahi wajah dan pakaiannya, sambil terus berjalan dia berusaha menghubungi Junda.
Setelah dia berhasil menyambungkan panggilan, saat itu pula angsa yang ditangannya kembali terlepas, namun kakinya tidak seimbang membuatnya terjatuh. Di saat yang bersamaan dia melihat pemandangan, di mana seorang gadis berjalan menghampiri seorang pemuda dengan pakaian formal dan mereka saling menatap dan melempar senyum.
“Junda ... gadis itu adalah ...” teriak Shasi dengan suara yang tidak jelas. Sementara tatapan matanya menjadi kabur lalu gelap.
Bersambung
__ADS_1