
"Mohon maaf menggangu waktu anda sebentar, apakah tuan dan nyonya adalah keluarga dari tuan Ivan Sanjaya?" tanya seorang polisi pada kedua orang tua Ivan.
"Iya benar kami adalah orang tuanya," jawab papa Ivan.
"Begini pak, dari hasil penyelidikan tim kami, kami menemukan adanya kejanggalan pada kecelakaan yang menimpa anak bapak, kami mendapati rem mobil yang digunakan anak bapak seperti sengaja di rusak," ucap polisi tersebut.
"Jadi maksud bapak ada orang yang ingin melenyapkan putra saya?" ucap papa Ivan dengan ekspresi terkejut.
"Kami belum bisa memastikannya, tapi jika memang benar itu perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab kami dari pihak kepolisian pasti akan mengusut masalah ini dan menangkap pelakunya, maka dari itu kami butuh bantuan bapak dan ibu," ucap polisi tersebut.
Setelah mendapatkan keterangan dari orang orang terdekat Ivan kedua polisi itu pun beranjak dari rumah sakit.
"Apa selama ini Ivan memiliki musuh? Karna setahu papa Ivan bukanlah tipe orang yang suka mencari masalah dengan orang lain," ucap papa Ivan dengan napas berat.
"Om tenang saja, kita berdua pasti akan membantu untuk mencari tau siapa dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Ivan, jadi om tidak usah terlalu banyak berpikir, jangan sampai om dan tante juga ikutan sakit," ucap Arka.
"Benar yang dikatakan Arka, biarkan kami yang mengurus masalah ini," ucap Arga.
-
-
-
Arga baru tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul satu pagi. Setelah mendapatkan telpon dari Arka ia langsung bergegas menuju rumah sakit untuk memastikan kebenaran dari ucapan Arka yang mengatakan kalau Ivan kecelakaan, bahkan saat dalam perjalanan menuju rumah sakit ia masih mengira kalau Arka hanya sedang mengerjainya. Karna rasa penasaran bercampur perasaan was was tentang kondisi Ivan membuat Arga sampai lupa mengabari sang istri yang mungkin saja masih menunggunya di rumah.
"Dira pasti khawatir karna aku tidak menjawab panggilan telpon darinya," gumam Arga sambil memeriksa ponselnya dan ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Dira.
"Karna terlalu panik aku sampai lupa mengabari Dira dan malah meninggalkan ponsel di mobil," gumam Arga lalu segera turun dari mobil.
Arga melangkah masuk ke dalam rumah dengan ekspresi yang sulit diartikan, sebuah fakta mengejutkan tentang Ivan membuatnya sedikit merasa bersalah, apalagi saat Ivan mengatakan keinginannya sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri dan sekarang Ivan masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma.
"Kamu jam segini baru pulang?" tanya Rika sambil membawa segelas air putih di tangannya yang baru saja ia ambil dari dapur.
"Astaga mama buat aku kaget," ucap Arga sambil mengelus dadanya karna suara mamanya mengejutkan Arga, ia pikir semua orang di rumah sudah tidur. "Kenapa jam segini mama belum tidur? Memangnya papa belum pulang?" tanya Arga, karna biasanya jika mamanya belum tidur sampai jam segitu karna menunggu kepulangan papanya.
"Mama belum tidur bukan karna nungguin papa kamu, tapi karna mama nemenin Dira yang dari tadi gak mau masuk kamar karna nungguin kamu yang belum pulang tanpa ada kabar, di telpon gak diangkat, pesan juga gak di balas," ucap Rika ketus, ia kesal pada putranya yang telah membuat menantunya khawatir.
__ADS_1
"Maaf ma, tadi Arga buru buru ke rumah sakit karna Ivan mengalami kecelakaan dan ponsel Arga ketinggalan di mobil," ucap Arga.
"Astagfirullah Ivan kecelakaan?! Terus sekarang kondisinya gimana? Gak ada yang parah kan?" tanya Rika khawatir. Ia sangat terkejut mendengar kabar soal Ivan.
"Ivan saat ini masih dalam keadaan koma, dan dokter belum bisa memastikan kapan Ivan akan sadar," jawab Arga dengan suara lirih.
Rika yang paham dengan perasaan putranya yang mengkhawatirkan sahabatnya mendekat dan menepuk pelan bahu Arga. "Kita doakan saja semoga Ivan segera sadar dari komanya, ya udah mending kamu bawa istri kamu ke kamar, kasian dia dari tadi nungguin kamu sampai tertidur di sofa," ucap Rika menunjuk Dira yang tertidur di sofa ruang tamu.
"Astaga, kenapa mama biarin Dira tidur di sini," ucap Arga yang baru menyadari keberadaan Dira yang sedang tertidur di sofa ruang tamu.
"Sayang bukankah aku sudah bilang supaya tidak menungguku jika sudah terlalu malam, kamu benar benar keras kepala," gumam Arga lalu mengangkat tubuh Dira dengan hati hati.
"Itu karna dia khawatir, karna suaminya yang tiba tiba tidak bisa dihubungi apalagi sampai tengah malam begini kamu masih belum pulang Dira takut kamu kenapa napa di luar sana," ucap Rika kembali ketus.
"Iya maaf, Makasih Mama sudah menemani Dira," ucap Arga lalu beranjak sambil menggendong Dira menuju kamarnya di lantai atas.
Arga dengan hati hati membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dan menyelimutinya, Arga terus menatap wajah lelap Dira, bahkan ia berkali kali menciumi wajah istrinya yang sama sekali tidak terganggu dengan apa yang ia lakukan pada istrinya.
"Maaf sayang sudah membuat kamu khawatir," gumam Arga sambil mengelus pipi Dira dengan ekspresi yang sulit diartikan, pengakuan Ivan tentang perasaannya pada istrinya masih terngiang dipikirannya, perasaannya saat ini bercampur aduk antara rasa bersalah dan marah karna Ivan masih memiliki perasaan pada istrinya sampai saat ini.
Pagi harinya.
"Sayang bangun kita sholat subuh dulu," ucap Arga sambil mencium pipi Dira dengan gemas.
Dira pun langsung terbangun saat mendengar suara Arga dan langsung disuguhkan dengan wajah tampan Arga yang tersenyum manis sambil menatapnya.
"Mas kamu sudah pulang? Kamu baik baik saja kan?" tanya Dira yang dengan gerakan cepat duduk menghadap Arga sambil memeriksa tubuh Arga.
"Aku baik baik saja sayang, maaf telah membuat kamu khawatir," ucap Arga.
"Terus kenapa kamu gak bisa dihubungi, aku juga menelpon bang Rangga tapi katanya kamu sudah pulang, aku pikir kamu kenapa napa Mas," ucap Dira terisak.
"Sayang maaf," Arga pun langsung memeluk Dira. "Udah kamu jangan nangis, bukankah aku sekarang sudah ada di hadapan kamu dalam keadaan baik baik saja," ucap Arga sambil mengusap usap bahu Dira.
"Lalu kamu semalam ke mana? Kamu gak macam macam di belakang aku kan Mas?" ucap Dira melepaskan pelukannya dan menatap Arga dengan tatapan curiga.
Cup!
__ADS_1
"Kamu kebiasaan banget sih sayang, suka berpikiran yang aneh aneh, aku mana berani macam macam sama kamu apalagi sampai kepincut sama wanita lain, kan kamu tau sendiri cinta aku sudah habis buat kamu doang," ucap Arga memberikan senyum termanisnya untuk Dira.
"Ih ... Mas kamu kebiasaan banget sih main nyosor tanpa aba aba," gerutu Dira sambil mengusap bibirnya yang basah karna ulah suaminya.
"Oh jadi kamu maunya aku kasih aba aba dulu, ya udah ayo kita ulangi lagi, atau kamu mau yang lebih juga boleh aku siap 24 jam layani kamu," ucap Arga sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Dira.
"Gak usah kebanyakan modus, mending kita cepet cepet ke kamar mandi buat wudhu lalu setelah itu kita sholat keburu waktu subuhnya habis."
"Berarti setelah sholat subuh boleh dong sayang," ucap Arga sambil menatap Dira dengan seringai mesumnya.
Bug!
Dira langsung melempar bantal ke wajah Arga. "Dasar mesum," ucap Dira lalu beranjak meninggalkan Arga yang malah tertawa melihat kekesalan istrinya.
-
-
-
Arga sudah berada di perjalanan menuju kantornya, tapi sebelum itu ia akan mampir ke suatu tempat, karna pagi pagi sekali Rangga telah menelponnya dan mengabarinya kalau pelaku yang menyabotase rem mobil Ivan telah di temukan dan sekarang sudah berada di tempatnya.
"Di mana dia?" tanya Arga datar.
"Dia ada di tempat biasa," jawab Rangga menunjuk sebuah ruangan yang ada di tempat Rangga yang lebih tepatnya di sebut markas.
Arga pun langsung masuk ke ruangan tersebut, Arga menatap tajam laki laki yang ada di ruangan tersebut yang duduk di kursi dalam keadaan diikat.
"Lo," ucap Arga yang mengenali siapa laki laki tersebut.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
Favorit and Vote😉
__ADS_1