
Di rumah sakit.
"Maaf sayang aku terlalu la–" Arga tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari keberadaan seseorang di ruang perawatan sang istri.
Arga yang baru saja kembali setelah keluar untuk menelpon seseorang di kejutkan dengan keberadaan kedua orang tuanya di ruangan itu, padahal ia sama sekali belum memberitahu mereka soal Dira yang kembali masuk rumah sakit. Arga menatap mamanya yang dengan telaten menyuapi Dira, tapi wanita paruh baya itu hanya menatapnya sekilas dengan ekspresi yang terlihat kesal, sementara papanya duduk di sofa sambil menyilang kan kedua kakinya dan tidak lupa tatapan tajamnya seakan akan ingin menguliti Arga.
"Ma, Pa," ucap Arga lalu menyalami kedua orang tuanya, tanpa berani menatap papanya.
"Ikut Papa, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu," ucap papa Arga dingin lalu melangkah keluar dari ruang perawatan menantunya.
Tanpa bertanya Arga pun dengan patuh mengikuti langkah papanya keluar. Sudah dapat ia pastikan kalau papanya pasti sudah mengetahui soal kejadian tadi siang, dan ia sudah siap menerima kemarahan papanya karna ia gagal menjaga istrinya.
"Seandainya orang suruhan papa tidak melaporkan soal istrimu yang masuk rumah sakit pasti kami tidak akan pernah tau kalau Dira kembali di rawat," ucap papa Arga.
"Aku baru saja ingin menelpon Papa dan Mama tapi kalian sudah keburu datang," ucap Arga beralasan, padahal ia berniat akan mengabarkan kedua orang tuanya besok pagi.
"Apa kamu tidak akan menjelaskan apa pun pada papa perihal penculikan Dira?" tanya Gilang tetap dengan ekspresi dinginnya, walaupun orang suruhannya telah melaporkan kejadian buruk yang hampir saja menimpa menantunya, tapi ia tetap ingin mendengarnya langsung dari mulut Arga.
"Tanpa aku jelaskan papa pasti sudah mengetahui semuanya," jawab Arga tidak kalah dingin.
"Papa ingin mendengar semuanya secara langsung dari kamu, cepat ceritakan semuanya pada papa bagaimana Dira bisa di culik oleh laki laki brengsek itu, apa kamu benar benar bisa menjaga istrimu?" ucap papa Arga.
"Maaf Pa ini memang salahku yang tidak menjaga istriku dengan baik, aku pikir dia tidak akan berani menggangu Dira lagi, setelah apa yang telah aku lakukan padanya dulu, ternyata aku terlalu meremehkannya," ucap Arga lirih, dan ia pun mulai menceritakan semuanya secara detail kepada papanya.
"Kurang ajar! Beraninya dia melakukan hal itu pada menantuku," geram papa Arga terlihat sangat kesal setelah mendengar detail kejadiannya langsung dari Arga. Padahal ketika orang suruhannya yang menceritakannya ia tidak sampai sekesal saat ini.
"Papa tidak perlu khawatir, aku sudah mengurus semuanya, kali ini Reno pasti akan mendapatkan hukumannya, aku akan pastikan besok pagi Reno akan di seret ke kantor polisi," ucap Arga yakin.
"Biar papa yang mengurus masalah Reno, orang seperti dia tidak akan mudah untuk di jebloskan ke penjara, karna pasti orang tuanya akan melakukan berbagai macam cara untuk menutupi kejahatan putra mereka, dia sudah berani menggangu menantu keluarga Rahardian itu artinya mereka sudah siap atas segala konsekuensinya, hukuman penjara tidak cukup untuknya, orang tuanya juga harus mendapatkan hukuman yang setimpal karna telah membiarkan putranya mengusik keluarga kita."
__ADS_1
"Maksud Papa?" tanya Arga tidak mengerti dengan maksud dari ucapan papanya.
"Sudahlah kamu tidak perlu tau maksud ucapan papa, kamu sebaiknya tetap fokus pada kesehatan istrimu, dan jaga dia baik baik jangan sampai kejadian seperti itu terulang kembali." ucap papa Arga kembali.
"Pa aku serius, jangan buat aku penasaran," ucap Arga.
"Sebaiknya kamu lihat saja besok apa yang akan papa lakukan pada orang yang berani buat masalah dengan menantuku," jawab papa Arga.
"Jangan bilang papa akan membuat orang tua Reno bangkrut hanya karna masalah putranya?" ucap Arga.
Gilang tidak menjawab pertanyaan Arga, dan ia malah tersenyum lalu meninggalkan Arga untuk kembali ke ruang perawatan menantunya.
Arga pun menyusul papanya, ia tidak lagi bertanya, ia yakin papanya pasti sudah memiliki rencana untuk membuat Reno membayar perbuatannya.
"Oh iya Ga, bagaimana dengan kondisi Dira saat ini? Apa sudah ada donor jantung untuknya?" tanya papa Arga.
Arga terlihat menghela napas, ia terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan papanya.
"Kondisi Dira saat ini semakin buruk, dan untuk donor jantung, sampai saat ini masih belum ada." jawab Arga terdengar lirih, terlihat jelas raut kesedihan di wajah Arga saat mengatakan hal itu.
Gilang menghentikan langkahnya, ia menatap Arga lalu menepuk bahu putra semata wayangnya, ia mengerti dengan perasaan Arga saat ini. "Kamu harus yakin kalau Dira pasti bisa kembali sembuh, kamu tenang saja papa juga pasti akan membantu sebisa mungkin mencarikan donor jantung untuk istrimu, bila perlu papa akan membuat sayembara untuk mendapatkan pendonor," ucap papa Arga berusaha menghibur putranya.
"Terimakasih Pa," ucap Arga.
"Kamu juga harus memberitahu kedua orang tua Dira, jangan sampai terjadi kesalahpahaman, karna mereka juga berhak tau soal kondisi putrinya," ujar Gilang mengingatkan putranya itu. Ia tau niat Arga baik, karna putranya itu tidak ingin membuat semua orang khawatir.
Sementara itu di tempat lain Ivan sedang menelpon seseorang, ekspresinya terlihat sangat serius, saat berbicara dengan orang yang ada di telpon.
Ivan terlihat menghela napas panjang sambil meremas rambutnya setelah panggilan telpon berakhir.
__ADS_1
"Kenapa sangat sulit untuk mendapatkan donor jantung untuk Dira," gumam Ivan terlihat prustasi. Selama beberapa hari ini Ivan terus mencari donor jantung yang cocok untuk Dira, dan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
"Sebaiknya gue telpon bang Bima saja," gumam Ivan lalu menghubungi nomor ponsel sepupunya itu.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Halo Van ada apa?" tanya Bima yang sudah mengangkat panggilan telpon Ivan.
"Gini bang gue mau menanyakan soal Dira, apa rumah sakit sudah menemukan donor untuknya?" tanya Ivan.
"Hm,,, soal itu, pihak rumah sakit masih berusaha untuk mendapatkannya," jawab Bima hati-hati. Ia takut Ivan akan marah marah seperti sebelumnya.
"Ck, kenapa sulit sekali, apa perlu aku yang memberikan jantungku pada Dira agar dia bisa segera di operasi?" gumam Ivan yang masih bisa di dengar oleh Bima.
"Kamu gak lagi mabuk kan Van?" tanya Bima yang mendengar Ivan mulai ngelantur tidak jelas.
"Bang gimana kalau gue cek jantung gue, siapa tau cocok dengan Dira," ucap Ivan kembali.
"Jangan suka sembarangan kalau ngomong Van, udah mending kamu istirahat aja sana, supaya otak kamu gak terus terusan mikirin yang aneh aneh, kata Tante akhir akhir ini kamu juga terlalu sering begadang. Ingat itu gak baik buat kesehatan tubuh kamu Van," ucap Bima mengingatkan.
"Iya bawel, Lo udah kayak mama gue aja Bang, ya udah kalau gitu gue tutup dulu," ucap Ivan lalu mematikan sambungan telponnya.
"Sampai kapan Lo akan bersikap seperti ini Van?" gumam Bima khawatir dengan Ivan. Ia benar benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya yang belum bisa melupakan perasaannya pada istri sahabatnya. Bahkan setiap kali ia bertemu pasti Ivan akan menanyakan bagaimana kondisi Dira.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
__ADS_1
Favorit and Vote😉