
"Anindira, Lo beneran gak sedang nyembunyiin sesuatu dari gue bukan?" tanya Mita kembali.
"Iya, memangnya hal apa yang bisa gue sembunyikan dari Lo Mita ..." jawab Dira.
"Dir," ucap Mita dengan tatapan yang terlihat khawatir dengan sahabatnya itu.
"Gue beneran gak kenapa napa dan gue nggak menyembunyikan apapun dari Lo," ucap Dira berusaha meyakinkan Mita.
"Awas saja kalau sampai Lo rahasia rahasiaan sama gue, ya udah ayok kita temui dosen," ucap Mita mengajak Dira beranjak dari sana.
"Maaf Mit, jika gue merahasiakan tentang sakit gue ke Lo, gue cuma gak mau Lo khawatir,,," batin Dira.
"Kok gue ngerasa Dira kayak nyembunyiin sesuatu," gumam Arka yang ikut beranjak bersama Ivan.
"Semoga aja Dira memang beneran baik baik saja," ucap Ivan ikut menimpali gumaman Arka.
*****
Dira dan Mita sudah selesai dengan bimbingannya. "Ah akhirnya, nggak sia-sia gue begadang tiap malam buat ngerjain skripsi," ucap Mita merasa lega.
"Iya kita harus lebih semangat lagi buat menyelesaikan skripsi kita bicara cepat lulus," ucap Dira.
"Iya Lo benar Dir, semangat!" ucap Mita.
Saat ia dan Mita sedang membahas tentang skripsi mereka, Dira menerima pesan dari Arga jika ia sudah menunggu di depan kampus.
"Mit, gue duluan ya, soalnya ayang gue udah jemput," ucap Dira pamit duluan pada Mita.
"Idih, mentang mentang udah punya ayang," cibir Mita pada Dira.
"Ya elah Mit ... kan Lo juga ada Abang Arka buat Lo jadiin ayang Lo," ucap Dira.
"Ih,,, ogah gue," ucap Mita.
"Hati hati Mit, jangan terlalu benci siapa tau dia jodoh Lo," ucap Dira.
"Nggak mungkin lah," ucap Mita dengan yakin.
"Ya udah gue balik dulu kasian ayang gue capek nunggunya, diakan sekarang gak bisa jauh dari gue," ucap Dira.
"Dasar bucin!"
"Hei dedek Mita kesayangan Abang Arka ..." ucap Arka yang tiba tiba muncul dibelakang Dira.
"Baru juga diomongin udah muncul aja orangnya," gumam Mita yang melihat kedatangan Arka.
"Ya udah gue balik dulu, udah ada babang Arka yang temenin Lo," Dira berbisik pada Mita.
"Sialan Lo," umpat Mita pada Dira yang hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Dira.
__ADS_1
"Lo mau pulang Mit," tanya Arka setelah kepergian Dira.
"Nggak! Mau nginep gue," jawab Mita ketus.
"Ya elah jangan jutek jutek sama calon jodoh Lo Mit," Arka mulai menggoda Mita.
"Siapa juga yang mau jadi jodoh Lo," sewot Mita.
"Beneran gak mau jadi jodoh gue,,, secara gue kan gantengnya gak ketulungan," ucap Arka mulai narsis.
"Uwekkk!" Mita terlihat seperti orang yang ingin muntah mendengar ucapan Arka.
"Lo kenapa? Kan Lo belum gue apa apain kenapa udah mual mual aja, Lo gak mungkin hamil hanya karna gue mikirin Lo doang kan," ucap Arka kembali menggoda Mita yang mulai terlihat kesal dengannya.
"Buk!" Mita memukul Arka dengan tasnya, ia benar benar gak habis pikir dengan isi otak Arka dengan kegesrekkan yang udah gak ada obatnya itu.
"Lo bener bener udah gila deh kayaknya,"
"Iya gue emang udah gila," Arka menjeda ucapannya "Udah tergila gila sama kamu," ucap Arka dengan senyum manis yang terlihat menyebalkan itu.
"Amit amit, jangan sampai gue dapet jodohnya kayak modelan gini," gumam Dira yang masih bisa didengar Arka, ia bergidik ngeri dengan kelakuan Arka.
"Awas nanti jatuh cinta cinta kepada diriku ... jangan jangan ku jodohmu," Arka malah menyanyikan lirik lagu dari salah satu band kesukaannya.
"Berisik! Lo bener bener butuh obat Ar," ucap Mita kemudian beranjak meninggalkan Arka yang tersenyum kearahnya.
*****
Setelah memastikan keadaan aman Dira pun akhirnya mulai melangkah, baru beberapa langkah ia maju ke tengah jalan, tiba tiba mobil berwarna kuning yang tadinya berhenti, tiba tiba melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya.
Dira yang belum sempat menghindar karena kejadiannya begitu tiba tiba hampir saja tertabrak untungnya seseorang tidak dikenal tiba tiba menariknya ke sisi jalan.
"Apa anda tidak papa?" tanya orang tersebut.
Belum sempat Dira menjawab ia merasakan penglihatannya buram, dan ia pun tidak sadarkan diri. Suasana yang tadinya sepi kini mulai terlihat ramai karena kejadian itu, sementara mobil yang barusan hampir saja menabrak Dira sudah melaju kencang meninggalkan tempat kejadian.
Arga yang melihat keramaian diluar cafe pun penasaran dan keluar untuk melihat. "Ada apa sih, kok pada rame?" tanya Arga.
"Oh di depan ada orang yang hampir tertabrak, untung saja ada yang menariknya katanya sih seorang mahasiswa, sepertinya memang disengaja,"
Arga tiba tiba merasakan perasaan yang tidak enak, ia pun segera beranjak ke kerumunan tersebut untuk melihat siapa orang yang hampir tertabrak itu, ia langsung terduduk lemas begitu melihat orang yang tidak sadarkan diri di tengah kerumunan orang orang itu ternyata adalah istrinya.
"Anindira!" Arga langsung mendekat ke tubuh Dira dan membawanya ke pelukannya.
"Sayang bangun, bang Rangga apa yang terjadi ? Kenapa bisa istriku tak sadarkan diri?" tanya Arga pada Rangga orang yang ia minta untuk mengawasi Dira yang juga ada di sana.
"Sepertinya mobil tadi memang sengaja ingin menabrak istri kamu Ga, tapi kamu tenang aja istri kamu sepertinya hanya kaget," ucap Rangga menenangkan Arga yang terlihat sangat cemas, ia yang sudah curiga dengan mobil tadi yang awalnya berhenti tiba tiba melaju kencang saat Dira menyebrang. Seandainya ia tidak cepat mungkin saja sekarang Dira sudah terluka parah.
"Tolong cari tau pelakunya, aku akan membawa istri ku ke rumah sakit," ucap Arga yang menggendong Dira.
__ADS_1
Saat Arga hendak membawa Dira ke rumah sakit, Arka dan Ivan yang melihatnya langsung menghampirinya.
"Ga Dira kenapa?" tanya Arka.
"Iya Ga, kenapa Dira bisa pingsan lagi?" tanya Ivan.
"Dira hampir ditabrak mobil, gue harus bawa dia ke rumah sakit," ucap Arga.
"Ya udah kalau gitu kita ikut, biar gue yang nyetir," ucap Ivan dan masuk ke mobil Arga.
"Sayang bangun ..." tanpa sadar Arga meneteskan air matanya.
"Anindira, bangun sayang jangan buat aku takut," ucap Arga lirih.
Sepanjang perjalanan arga terus memegangi tangan Dira dan memanggil namanya, sampai akhirnya terdengar suara lenguhan dari bibir Dira.
"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Arga langsung memeluk Dira.
"Kamu membuat ku takut, apa ada yang sakit?" tanya Arga sambil memeriksa tubuh Dira.
"Aku nggak papa mas, aku cuma kaget aja," jawab Dira.
"Tapi kita harus tetap ke dokter, aku takut kamu ada yang terluka," ucap Arga.
"Aku beneran gak papa, aku gak perlu ke rumah sakit, sebaiknya kita langsung ke kantor aja bukannya tadi kamu bilang ada meeting," ucap Dira beralasan agar tidak di bawa ke rumah sakit.
"Udah kamu gak usah memikirkan hal itu, kamu harus tetap diperiksa," ucap Arga.
"Mas," dengan ekspresi memelas Dira berusaha menghindar untuk pergi ke rumah sakit.
Arka dan Ivan hanya diam saja mendengarkan obrolan Arga dan Dira. Belum sempat Arga menjawab ucapan Dira, seseorang tiba tiba menelponnya jika Arga harus menggantikan papanya untuk meeting dan tidak bisa ditunda.
"Baiklah, saya akan segera kembali ke kantor," ucap Arga mematikan sambungan telponnya.
"Kamu beneran gak papakan sayang?" yang dijawab anggukan oleh Dira.
"Van, langsung anterin gue ke kantor, nanti Lo bisa pakek mobil gue buat balik sama Arka," pinta Arga pada Ivan yang membawa mobilnya.
"Ok Ga,,,," jawab Ivan.
Dira yang mendengar hal itu merasa lega, akhirnya Arga tidak jadi membawanya ke rumah sakit.
"Maaf mas aku belum bisa jujur ke kamu," ucap Dira dalam hati sambil menghela napas.
Bersambung . . . . . .
JANGAN LUPA DI LIKE๐๐ป
Komen dan favorit juga ya๐
__ADS_1
Mampir juga yuk kesini