Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 27 : Modus Arga


__ADS_3

Dira masih belum beranjak dari duduknya sambil memegangi dadanya, ucapan Arga tadi masih terngiang terngiang.


"Astaga wajah dingin itu kenapa bisa terlihat sangat manis ketika mengucapkannya ... apa dia bilang senyumnya cuma buat gue?" ucapnya dalam hati.


Arga yang melihat Dira belum beranjak dari duduknya, kembali menghampiri Dira.


"Kok kamu malah diem, kamu gak usah terlalu mikirin ucapan Gita soal Elena tadi," ucap Arga yang mengira jika Dira kepikiran tentang peringatan Gita.


"Eh, eng– enggak aku gak mikirin itu, ya udah ayo kita berangkat ke cafe," ajak Dira pada Arga untuk mengalihkan kegugupannya.


Sesampainya di cafe Arga langsung menghampiri Arka dan Ivan yang sudah terlebih dahulu sampai di cafe.


"Lo kemana aja sih? Kita udah lumutan di sini nungguin Lo," ucap Arka.


"Gue tadi temenin Dira ketemu sama si Gita dan kedua temannya," jawab Arga.


"Ngapain dia ngajak istri Lo ketemu? Apa dia mau cari masalah lagi, apa mereka belum jera setelah dikeluarin dari kampus?" ucap Ivan yang ikutan kesal dengan ketiga perempuan itu.


Dira yang mendengar jika Gita dan kedua temannya ternyata di keluarin dari kampus karena kejadian beberapa hari lalu begitu kaget.


"Mas jadi mereka di keluarin dari kampus, kok bisa?" tanya Dira pada Arga.


"Ya bisalah kalok suami Lo yang turun tangan," ucap Arka.


"Ha! jadi maksudnya mas Arga yang membuat mereka di keluarin dari kampus?" Dira kaget dengan ucapan Arka.


"Mas yang dikatakan Arka bener?" Dira kembali bertanya karna melihat Arga hanya diam saja.


"Iya," ucap Arga santai.


"Mas kamu gak perlu sampe minta dia di keluarin dari kampus, kan kasian mas mereka sudah semester akhir," ucap Dira merasa kasihan dengan mereka bertiga.


"Itu sepadan dengan perbuatan mereka karna udah berani nyakitin kamu apalagi sampai buat kamu sampai tak sadarkan diri seperti kemarin," ucap Arga.


"Tapi Mas, itu terlalu berlebihan mereka melakukan hal itu karena salah paham aja, mereka gak tau kalau kita sudah menikah," ucap Dira.


"Bahkan suami Lo bisa ngelakuin hal yang lebih dari itu Dir ..." ucap Ivan menimpali ucapan Dira.


"Lagian aku pingsan bukan karena mereka aku memang sedang tidak enak badan aja, Mas jangan keluarin mereka ya," Dira berusaha membujuk Arga.


"Tidak ada yang berlebihan jika ada yang berani nyakitin istri ku," ucap Arga datar.


"Mas ..." belum sempat Dira melanjutkan ucapannya Arga sudah membawanya ke ruang kerjanya.


"Udah gak usah dipikirin soal mereka, kamu tunggu di sini aja aku harus meeting dengan Arka dan Ivan," ucap Arga sambil mendudukkan Dira di sofa ruang kerjanya.


"Tapi Mas bisa, kan biarin mereka tetap kembali kuliah," Dira memegang tangan Arga, masih berusaha membujuknya.


"Soal itu, nanti kita bicarakan," ucap Arga dan pergi meninggalkan Dira di ruang kerjanya.

__ADS_1


Arga, Ivan dan Arka sedang membicarakan tentang perkembangan cafe.


Sementara Dira yang berada di ruangan Arga terlihat melamun setelah menerima telpon dari seseorang, Arga tiba tiba masuk dan menyadarkan Dira dari lamunannya.


"Apa kamu masih memikirkan ketiga perempuan itu?" tanya Arga pada Dira.


"Eh, mm,,, mas kamu gak bisa buat mereka kembali ke kampus?" tanya Dira kembali.


"Kenapa kamu begitu peduli dengan mereka? Aku hanya membuat mereka di keluarkan dari kampus, bahkan jika aku mau mereka bisa mendapatkan yang lebih dari itu," ucap Arga.


Dira terdiam mendengar ucapan Arga tanpa berani melihat wajah Arga yang terlihat marah dan kembali berucap.


"Aku hanya tidak ingin mereka merasa benci karna hal itu dan akan menjadi dendam di hati mereka untuk waktu yang berkepanjangan, aku hanya ingin memaafkan mereka bukan membalasnya Mas," ucap Dira sambil menundukkan kepalanya


"Aku tidak ingin suatu saat mereka membalasnya dengan hal hal yang buruk yang dapat menghalangi kebahagian kita di masa depan karena dendam di hati mereka," ucap Dira kembali, mengatakan alasannya.


Arga yang melihat Dira yang terus memohon seperti itu menjadi tidak tega.


"Baiklah aku akan menuruti permintaan kamu, tapi tidak untuk lain kali, jika mereka kembali membuat masalah aku tidak akan segan segan untuk memberikan mereka pelajaran," ucap Arga tegas.


"Jadi mereka bisa kuliah lagi Mas? Kamu gak bohongkan?" tanya Dira.


"Mm," Arga hanya menjawab dengan deheman.


"Terimakasih Mas," ucap Dira girang dan langsung memeluk Arga. "Sekali lagi terimakasih Mas," ucap Dira kembali tanpa melepaskan pelukannya.


"Hm,,, segitu senengnya kamu sampai kamu peluk peluk aku," ucap Arga yang melihat Dira masih memeluknya.


"Gak sengaja, tapi nyaman banget meluknya, dasar modus," ucap Arga menggoda Dira.


"Siapa juga yang modus, aku cuma reflek karena terlalu senang," ucap Dira tidak terima dikatain modus.


"Iya lain kali kamu kalok mau peluk langsung bilang aja, jangan malu malu," ucap Arga kembali menggoda Dira.


"Ish, kok kamu sekarang tambah ngeselin," Dira keluar dari ruang kerja Arga sambil cemberut.


"Sini, peluk aku sepuasnya gak usah ngambek!" teiak Arga terus menggoda Dira yang hendak keluar dari cafe.


"Ogah! Aku lebih baik peluk Devi aja," ucap Dira kesal dan malah menyebut Devi, Dira yang menyadari ucapannya langsung mengehentikan langkahnya sambil menutup mulutnya dengan tangan karna sudah salah ngomong.


"He,,," Dira hanya cengengesan sambil melihat kearah Arga.


"Oh, jadi kamu lebih suka dipeluk Devi dari pada dipeluk suami sendiri," ucap Arga yang mulai terlihat kesal.


Dira yang melihat wajah kesal Arga merutuki mulutnya sendiri yang bisa bisanya asal ngomong aja.


"Mas aku cuma bercanda aku mana berani peluk cowok lain, bisa bisa aku jadi istri durhaka," ucap Dira cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas maaf ya ... tadi aku cuma asal sebut aja," Dira mulai mengeluarkan mode menggemaskannya.

__ADS_1


Arga yang melihat hal itu jadi gemas dengan Dira. "Ok aku maafin tapi, kamu harus peluk aku," ucap Arga mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Kamu gak modus kan?"


"Enggak aku cuma mau buktiin ucapan kamu, tapi kalok kamu gak mau berarti kamu memang beneran mau meluk si Devi kesayangan kamu itu," ucap Arga.


Dira bener bener gak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang dulunya dingin kalau bicara irit banget, sekarang menjelma menjadi cowok cerewet dan jail.


"Mas kamu serius mau dipeluk?" tanya Dira.


"Serius lah, emang kamu pikir aku bercanda, anggap aja sebagai kompensasi karna tadi kamu udah main peluk tubuh aku tanpa izin," ucap Arga mulai beralasan.


"Di sini?" tanya Dira sekali lagi.


"Iya, udah cepet kamu kelamaan," ucap Arga tidak sabaran.


"Tapi masak di sini sih, nanti kalok ada orang yang liat gimana mas? Aku malu," Dira berusaha menghindari permintaan Arga.


"Di sini udah sepi gak bakalan ada yang liat, lagian walaupun ada yang liat juga gak papa, orang cuma pelukan doang," ucap Arga.


"Tapi–" sebelum melanjutkan ucapannya Arga terlebih dahulu menarik tubuh Dira ke pangkuannya.


"Kamu kelamaan," ucap Arga dan langsung memeluk Dira yang ada di pangkuannya.


Deg!


Sementara Dira merasakan jantungnya berdetak cepat dengan perlakuan Arga, apalagi dengan posisi mereka saat ini.


"Kok malah aku yang meluk kamu, cepet peluk," Arga melingkarkan tangan Dira ke lehernya.


Tanpa protes Dira menuruti perkataan Arga dan memeluk Arga sambil mengelus kepala Arga seperti anak kucing.


"Ra," panggi Arga.


"Hm," Dira hanya menjawab dengan deheman.


"Kamu gugup ya di peluk sama orang ganteng? sampe sampe suara detak jantung kamu kedengaran jelas sampai telinga aku."


"Ishh, gak usah protes kalok mau aku peluk," ucap Dira kesal dengan Arga yang terus menggodanya.


"Woy!"


.


.


.


Bersambung . . . . . .

__ADS_1


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN AND FAVORITπŸ˜‰πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»


__ADS_2