Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 65 : Nasib jomblo


__ADS_3

"Mit Lo gak takut sakit perut?" tanya Dira yang melihat Mita menuangkan sambal terlalu banyak di bakso yang di pesannya.


"Nggak akan, karna yang sakit saat ini adalah hati gue Dir, jadi gue butuh makanan yang pedes untuk itu," jawab Mita.


"Vino lagi?" tebak Dira.


"Ya begitulah. Tapi Lo gak usah khawatir soal itu, ini hanya sesaat karna gue sedang belajar untuk merelakan perasaan gue, bener kata Lo waktu itu Dir, kalau hidup ini harus terus berjalan gue gak boleh biarin perasaan sepihak ini malah menjadi penghalang buat gue meraih kebahagiaan." ujar Mita sambil mengaduk baksonya.


"Ini baru Mita yang gue kenal, udah sih Mit mending Lo sama Arka aja, dia juga orangnya baik kok," ucap Dira memberi saran.


"Gak ada yang lain Dir?" tanya Mita dengan nada bercanda.


"Gak ada, kan yang ngejar ngejar Lo saat ini cuma Arka doang Mit," Dira menimpali candaan Mita.


"Wah Dir, Lo kalok ngomong suka bener," ucap Mita sambil menyantap bakso super pedas itu.


"Arka juga bukan cuma baik tapi dia juga lumayan tampan loh Mit ..." ucap Dira kembali.


"Siapa yang tampan?!" ucap Arga yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Dira.


"Astaga Mas. . ." Dira di buat kaget oleh suara Arga, apalagi tadi dia sempat nyebut kalau Arka tampan. "Mas kamu kok ada di sini?" tanya Dira nyengir.


"Sejak kamu mengatakan kalau Arka itu baik dan tampan," jawab Arga terlihat kesal, lalu duduk di samping Dira.


"Makasih Lo Dir ... ternyata penglihatan Lo masih normal gak kayak seseorang," sindir Arka sambil menatap Mita yang sedang menikmati baksonya.


"Lo nyindir gue Ar? Bukan penglihatan gue yang gak normal, si Dira nya aja yang mata hatinya lagi ketutup, jadi dia gak bisa lihat mana yang ganteng sama enggak," ucap Mita mengejek Arka.


"Wah Mit bener bener deh mulut Lo ya." ucap Arka. Momen seperti ini yang ia suka, saat ia dan Mita saling mengejek satu sama lain, dengan begitu ia bisa merasa lebih dekat dengan Mita dan cara ia mengalihkan perhatian Mita agar tidak terus terusan memikirkan Vino.


"Kalian berdua bisa gak kalau ketemu gak usah berantem," ucap Ivan yang melihat Arka dan Mita masih saja beradu mulut, sementara sepasang suami istri yang ada di hadapannya terlihat seperti sedang perang dingin.


"Dir, gue beneran tampan kan?" tanya Arka pada Dira. Ia tidak menyadari seseorang sedang menatapnya tajam.

__ADS_1


"Aw!" Ivan menginjak kaki Arka, sambil memberikan kode untuk melihat ekspresi Arga yang sedang menatapnya tajam.


"Buset serem amat, pantesan dari tadi gue merasa merinding," gumam Arka. "Kok Lo gak kasih tau gue dari tadi Van," bisik Arka pada Ivan.


"Makanya lain kali jangan asal ngoceh aja tuh mulut."


"Sorry Ga," ucap Arka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bener sayang?" tanya Arga sambil menatap Dira. Ia tidak memperdulikan ucapan Arka.


"Apanya?" tanya Dira pura pura tidak mengerti.


"Seperti yang kamu katakan kalau Arka itu tampan?"


"Iya, Arka memang tampan kok," jawab Dira sengaja ingin membalas kekesalannya pada Arga.


"Tapi dia masih belum bisa menandingi ketampanan suami aku, sampai sampai semua wanita di sekitarnya terus melihat kearahnya tanpa berkedip," batin Dira.


Hanya dengan membayangkan saja tatapan penuh kagum dari wanita wanita itu mampu membuat Dira semakin kesal. Ia seharusnya sudah terbiasa dengan hal ini tapi entah kenapa semakin hari hal itu membuatnya merasa tidak nyaman, mungkin karna sekarang Arga adalah suaminya, apalagi mereka sama sekali tidak peduli dengan status Arga yang sudah menikah dan mereka tetap gencar untuk mencari perhatian suaminya. Walaupun Arga tidak menghiraukannya tapi yang namanya titisan pelakor pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan Dira tidak rela akan hal itu.


"Hm," jawab Dira sambil mengaduk aduk makanannya.


"Dimakan dong sayang jangan cuma diaduk aduk doang," ucap Arga yang melihat Dira sama sekali belum memakan makanannya.


"Hm," ucap Dira sambil tetap mengaduk makanannya dan mengedarkan pandangannya di sekitaran kantin, dan ia kembali mendapati banyak mahasiswa perempuan yang terus melihat Arga.


"Sayang kamu sebenarnya kenapa sih?" tanya Arga.


"Gak ada," jawab Dira.


Arga yang melihat hal itu menarik napas lalu memegang bahu Dira agar menghadap dirinya. "Sayang kamu cemburu?"


"Nggak, siapa juga yang cemburu," ucap Dira berusaha menghindari tatapan Arga.

__ADS_1


"Bener kamu gak cemburu, gimana kalau aku samperin salah satu dari mereka," ucap Arga sambil menatap gadis gadis yang terus memperhatikannya.


"Iya aku cemburu, aku gak suka mendengar mereka terus mengoceh tentang kamu tanpa memperdulikan aku sebagai istri kamu, bahkan aku ingin sekali menyumpal mulut mereka dengan sepatu ku," ucap Dira mengutarakan kekesalannya.


"Uluh uluh ternyata istri aku beneran cemburu ya, tapi kamu tenang saja aku cintanya sudah mentok sama kamu doang, jadi kamu tidak perlu takut aku akan tergoda dengan mereka," ucap Arga sambil mengacak acak rambut Dira gemas.


"Ih Mas rambut aku berantakan," protes Dira sambil menghentikan tangan Arga yang terus mengusap rambutnya. Hanya dengan perlakuan seperti itu mampu membuat rasa panas di hati Dira menghilang begitu saja. Ia memang bener bener udah bucin akut pada suaminya itu.


"Abisnya aku gemas banget sama istri aku ini," ucap Arga mencubit hidung Dira sambil tersenyum.


"Mas gak usah senyum senyum, nanti kalau mereka lihat mereka bakalan tambah suka sama kamu," ucap Dira.


Arga bukannya menghentikan senyumnya ia malah tertawa mendengar ucapan Dira. Membuat semua orang melihat kearahnya.


"Mas aku bilang jangan senyum," ucap Dira sambil menutup mulut Arga agar menghentikan tawanya. Tapi Arga malah memegang tangan Dira yang bertengger di mulutnya dan menciumnya.


"Iya iya aku hanya akan senyum buat kamu doang, sekarang mending kamu makan dulu biar aku suapi," ucap Arga kembali dengan ekspresi datarnya, dan mulai menyuapi Dira. Mereka benar benar melupakan keberadaan tiga orang yang hanya bisa menyaksikan keromantisan mereka sejak tadi.


"Kita benar benar dianggap ngontrak sama mereka berdua," ucap Arka sambil geleng geleng kepala.


"Udah biarin aja, namanya juga pasangan bucin," ucap Mita ikut menimpali ucapan Arka.


"Gini amat ya nasib kita jadi jomblo yang hanya bisa mengelus dada melihat kemesraan orang lain," Arka kembali bersuara.


"Woy, tolong hargai para jomblo ini, hentikan pemandangan manis ini sampai di sini," ucap Mita tapi ucapannya hanya dianggap angin oleh Arga dan Dira yang sedang saling suapi.


"Percuma kalian ngomong mereka berdua gak bakalan denger, udah mending kita cari bangku lain aja dari pada harus jadi nyamuk." ucap Ivan mengajak Arka dan Mita pindah tempat duduk.


Sementara kedua orang yang sedang dimabuk asmara sama sekali tidak memperdulikan ketiga jomblo itu yang sedang meratapi nasibnya, mereka benar benar lupa sedang berada di mana.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa like👍🏻

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote😉


__ADS_2