Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 57 : Kebenaran tentang Dira


__ADS_3

Arga dan juga mamanya menunggu di depan ruang ICU. Arga terus mondar mandir di depan pintu ruangan tempat Dira sedang di periksa dengan perasaan cemas menunggu dokter selesai memeriksa istrinya.


Mama Rika tidak mengatakan apa pun, ia juga merasa khawatir dengan menantunya, tidak lupa ia juga telah menghubungi suami dan besannya untuk datang ke rumah sakit.


Klek!


Dokter pun keluar dari ruang ICU tersebut, membuat Arga langsung mendekat kearah dokter yang menangani Dira. "Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Arga langsung.


"Iya Dok menantu saya baik baik saja kan? Apa saya sudah bisa masuk untuk melihatnya?" tanya mama Rika yang juga tidak kalah khawatirnya dengan Arga.


"Silahkan Nyonya, anda sudah bisa menemui menantu anda, tapi anda harus tetap tenang jangan sampai menggangu pasien," jawab dokter.


"Maaf, bisa ikut saya ke ruangan saya? Akan saya jelaskan di sana soal keadaan istri anda," ucap dokter tersebut mengajak Arga ke ruangannya untuk memberitahukan tentang kondisi Dira.


Arga menganggukkan kepalanya setuju. "Ma aku ikut dokter dulu, Mama bisa masuk duluan sekalian aku titip Dira," ucap Arga lalu ia pun beranjak mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruangannya.


Baru saja mama Rika hendak masuk, Papa Arga tiba tiba saja datang bersamaan dengan kedua orang tua Dira yang juga telah tiba di rumah sakit.


Mama Dira langsung mendekat kearah mama Rika dan menanyakan keadaan putrinya. "Mbak apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Dira bisa masuk rumah sakit?" tanya mama Dira dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Bayangan bayangan tentang penyakit putrinya waktu kecil terus berputar di otaknya, menambah rasa takut dan khawatir.


"Aku juga belum tau pasti soal kondisi Dira saat ini, karna Arga masih bicara dengan dokter mengenai kondisi putri kita, hanya saja tadi saat aku ke rumah mereka Dira sudah dalam keadaan pingsan dalam gendongan Arga," jawab mama Rika.


"Pa, bagaimana ini Mama takut ..." tangis mama Dira.


"Ma, tenanglah ... kita berdoa saja semoga Dira baik baik saja," ucap papa Dira sambil memegang bahu istrinya untuk menenangkannya.


"Bagaimana Mama bisa tenang Pa? Putri kita ada di dalam sana dalam keadaan tidak sadarkan diri, bagaimana kalau kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali? Mama tidak sanggup pa ... Mama tidak akan pernah sanggup kehilangan Dira ..." ucap Mama Dira dengan suara lirih.


"Mama tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin saja putri kita hanya kelelahan," ucap papa Dira sambil memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita berdoa semoga Dira baik baik saja," ucap mama Rika sambil mengelus bahu besannya.


"Ayo sebaiknya kita masuk ke dalam," ucap papa Arga.


Mereka pun akhirnya masuk ke ruangan tempat Dira terbaring lemah dengan selang impus di tangannya dan monitor untuk memantau aktivitas jantung Dira.


Ayu mendekat ke ranjang putrinya, ia mengelus rambut Dira, dan mencium keningnya. Ia berharap putrinya akan baik baik saja.


Di saat yang bersamaan Arga masuk dengan wajah yang terlihat kacau sambil memegang sebuah kertas yang berisi laporan pemeriksaan Dira. Mama Rika yang melihat hal itu mendekat kearah putranya.


"Ada apa Nak? Kenapa kamu terlihat seperti itu? Istrimu baik baik saja kan?" tanya mama Rika cemas.


"Ma, Pa bisa kita keluar sebentar," ucap Arga pada kedua orang tua dan kedua mertuanya.


"Kamu kenapa Ga? Jangan buat mama khawatir?" tanya mama Rika begitu sudah di luar ruang perawatan Dira.


"Dira kenapa Ga?" tanya mama Rika kembali. " Kamu jangan buat kami semakin cemas Ga ..." ucap Mama Rika sambil mengusap bahu Arga yang menangis di pelukannya.


"Dira baik baik saja kan Ga?" tanya mama mertuanya mendekat kearah Arga yang sedang memeluk ibunya.


Arga masih tidak menjawab pertanyaan mertuanya dan memberikan kertas yang dari tadi dipegangnya pada mama Dira.


Ayu dengan ragu ragu mengambil dan membuka kertas tersebut. "Ini nggak mungkin–" ucap mama Dira saat membaca hasil pemeriksaan putrinya. Ia menutup mulutnya menahan suara tangis agar tidak keluar.


"Arga jawab, putri mama baik baik saja kan?! Dia hanya kelelahan kan Ga?! Ini pasti tidak benar kan?" tanya mama Dira sambil menarik punggung Arga yang masih memeluk mamanya. Ia berharap semua yang tertulis di sana hanya sebuah kesalahan.


Papa Dira mengambil kertas tersebut dari tangan istrinya dan ia sangat terkejut saat membaca setiap kata yang tertulis di lembaran kertas itu, begitu pun dengan kedua orang tua Arga, mereka tidak menyangka kalau menantunya mengidap penyakit jantung yang cukup mengkhawatirkan.


Arga memeluk erat tubuh mamanya, sambil terus terisak, ia merasa terpukul saat mengetahui hasil pemeriksaan istrinya. Ia merutuki dirinya bagaimana bisa ia tidak mengetahui tentang penyakit Dira, bahkan dokter mengatakan kalau kondisi Dira sudah semakin parah. Ia merasa menjadi suami yang tidak berguna, selama ini Dira telah menanggung sendiri rasa sakitnya. Seharusnya ia lebih peka dengan kondisi Dira sejak istrinya itu mulai bersikap aneh dan sering sekali pingsan.

__ADS_1


"Seharusnya aku mencari tau tentang hal ini lebih awal," batin Arga merasa bersalah.


"Kita harus bersikap biasa saja di hadapan Dira, jangan terlalu menunjukkan kesedihan kalian padanya, ia pasti akan sedih dan merasa bersalah pada kita yang akan membuat ia semakin tertekan, dan hal itu tidak baik untuk kesembuhannya," papa Arga mengeluarkan suaranya.


"Benar yang di katakan Papa kamu Ga, mari jangan perlihatkan kesedihan kita pada Dira, dan kita harus yakin kalau Dira pasti akan sembuh," ucap papa Dira sambil mengusap bahu istrinya.


"Kamu harus kuat Ga, karna orang yang paling dibutuhkan Dira saat ini adalah kamu," ucap papa Dira sambil menepuk punggung Arga. Terlihat jelas raut kecemasan di wajah mertuanya, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap tegar.


Setelah mendengarkan ucapan kedua laki laki yang sangat dihormatinya, sekarang Arga sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, ia harus lebih kuat dari Dira, ia tidak boleh menyerah istrinya adalah wanita kuat dia pasti bisa melewati semua ini.


"Dira ku tidak selemah itu, ia pasti bisa melewati semua ini, dan tetap di sampingku meraih kebahagian bersama keluarga kecil kami," batin Arga berusaha meyakinkan dirinya kalau Dira pasti bisa sembuh.


******


Arga duduk di samping ranjang Dira dengan terus menggenggam tangan sang istri. Sekarang Dira sudah berada di ruangan yang lebih besar, dan mewah agar istrinya itu merasa lebih nyaman saat melakukan perawatan di rumah sakit.


Arga terus menatap layar monitor, bergantian dengan menatap wajah cantik Dira yang terlihat begitu nyaman memejamkan matanya.


Setiap melihat layar monitor yang memperlihatkan detak jantung Dira, Arga merasa hatinya hancur, dadanya terasa seperti diremas, ingin rasanya ia teriak dan mengatakan kalau ia tidak baik baik saja, ia tidak sanggup untuk menghadapi semua ini, tapi ia teringat dengan semua ucapan papanya, kalau ia harus lebih kuat dari siapa pun.


"Aku tidak akan menyerah, apa pun akan aku lakukan untuk kesembuhan mu, aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi meninggalkan ku sayang ..." gumam Arga sambil mencium tangan Dira.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like👍


Komen


Favorit and Vote😉

__ADS_1


__ADS_2