
Sepulangnya dari kampus Dira ingin meminta izin pada Arga untuk pergi ke suatu tempat.
"Mas hari ini aku gak ikut kamu ke cafe ya ..." ucap Dira.
"Kenapa sayang?" tanya Arga.
"Aku ada janji dengan dosen pembimbingku untuk membahas proposal ku," jawab Kanzia.
"Kalau begitu aku antar kamu dulu baru kita ke cafenya." Arga hendak mengantar Dira, tapi Dira menolaknya.
"Gak usah Mas, aku bisa berangkat sendiri atau nanti aku juga bisa minta tolong sama Mita." tolak Kanzia.
"Tapi kamu gak apa apa, kan berangkat sendiri?" tanya Arga.
"Iya Mas gak papa, kamu gak perlu khawatir lagian aku bukan anak kecil yang kemana mana harus dianterin," ucap Dira berusaha membuat Arga tidak jadi mengantarnya.
"Baiklah, tapi kamu harus kabari aku kalau sudah sampai di sana."
"Iya suamiku yang bawel ... udah sana kamu berangkat kasian Ivan sama Arka pasti udah nungguin kamu," ucap Dira sambil membukakan pintu mobil untuk Arga.
"Kamu gak mau ketemu sama cowok, kan Ra? Kamu keliatannya senang banget gak aku antar." Arga menatap Dira sambil memegang dagunya.
"Emang aku mau ketemu cowok, kan kamu tau sendiri kalau dosen pembimbing aku itu cowok, lumayan duda anak satu, udah gitu ganteng lagi," jawab Dira ia tahu Arga sedang menggodanya.
Arga yang mendengar ucapan Dira melototkan matanya, ia baru menyadari kalau dosen itu adalah seorang duda yang tampangnya tidak kalah dengannya, yang juga menjadi salah satu incaran gadis gadis di kampusnya.
"Ra kalau gitu aku ikut aja," ucap Arga tidak jadi masuk ke mobilnya.
"Astaga ... kayaknya gue salah ngomong. Gue harus lakuin sesuatu jangan sampai Arga benar benar ikut," batin Dira.
"Mas aku cuma bercanda, lagian aku ketemu dosen bukan sendiri tapi ada beberapa orang juga, udah sana berangkat gak usah mikir yang aneh aneh, katanya kamu percaya sama aku tapi baru gitu doang kamu udah curiga sama aku Mas," ucap Dira dengan ekspresi terlihat sendu. Tentu saja Arga yang melihat itu tidak tega dan membiarkan Dira pergi sendiri.
"Ya udah tapi ingat kamu harus langsung hubungi aku kalau udah sampai." Setelah mengatakan hal itu Arga pun masuk ke mobilnya dan melakukannya.
Dira hanya menatap mobil Arga yang sudah semakin jauh dari kampus. "Maaf Mas, aku harus berbohong," gumam Dira.
__ADS_1
Sebenarnya ia tidak ada jadwal untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya, ia hanya membuat alasan agar bisa pergi menemui dokter yang selama ini menangani penyakitnya.
Setelah kepergian Arga, Dira pun segera berangkat ke tempat tujuannya dengan menggunakan taksi online.
Beberapa menit kemudian Dira sudah sampai di rumah sakit, di sana ia bertemu dengan dokter Mira. Dira pun mulai melakukan pemeriksaan, dokter Mira hanya bisa menghela napas saat melihat hasil pemeriksaan Dira. Sebelum itu ia juga sudah mengirim pesan singkat pada Arga, kalau ia sudah sampai di tempat tujuannya.
"Bagaimana hasilnya Dok? Apa kali ini penyakit saya masih bisa disembuhkan?" tanya Dira pada dokter Mira.
"Hem, seperti yang sudah saya katakan beberapa hari yang lalu, obat yang saya berikan hanya membantu kamu untuk mengurangi rasa sakitnya, kita harus tetap melakukan pencangkokan pada jantung kamu dan tentunya kita membutuhkan seorang pendonor," jelas dokter Mira.
"Apa itu artinya akan sulit untuk saya sembuh Dok? Atau mungkin saya–"
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk membantumu sembuh, saya sudah meminta salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini untuk membantu menangani, jadi jangan putus asa dan tetaplah berdoa," ucap dokter memotong ucapan Dira.
Dira hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mendengar ucapan dokter Mira. Benar kata dokter Mira ia tidak boleh berputus asa, bukankah ia juga pernah mengalami hal ini, ia harus yakin kali ini ia juga pasti bisa sembuh.
"Oh iya Ra, kapan kamu akan memberitahu keluarga mu? Kamu tidak mungkin kan terus terusan menyembunyikannya dari mereka, terutama suami kamu ia harus tau tentang penyakitmu."
"Saya akan memberitahunya secepatnya dok," ucap Dira.
Dokter Mira tersenyum mendengar ucapan Dira, lalu setelah itu ia pun beranjak dari ruang pemeriksaan dan ia segera menghubungi Arga kalau ia sudah selesai dengan urusannya dan ia akan langsung pulang ke rumah.
"Ga, Lo gak ngerasa kalau sikap Dira agak aneh gak?" tanya Ivan, kembali membahas tentang Dira.
"Lo kenapa tiba tiba tanya soal Dira? Emangnya kenapa?" bukannya menjawab pertanyaan Ivan, Arga malah balik bertanya.
"Gue hanya merasa kalau Dira menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap Ivan.
"Gue juga sebenarnya merasa sedikit aneh dengan sikap Dira beberapa hari ini, tapi gue nggak mau memaksa dia untuk cerita, gue akan tunggu sampai dia siap untuk menceritakan semuanya," ucap Arga.
Tentu saja ia juga merasa kalau Dira sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat penting darinya, dan ia juga diam diam mengambil vitamin Dira dan meminta seseorang untuk mencari tau tentang vitamin yang diminum Dira. Karna setiap kali ia melihat istrinya itu meminum vitamin tersebut, entah kenapa ia selalu merasa gelisah dan ketakutan, tapi ia tetap berusaha untuk berpikir positif.
*
*
__ADS_1
Arga telah sampai di rumahnya dan ia langsung disuguhkan dengan pemandangan sang istri yang sedang memasak di dapur.
"Sayang, aku pulang ..." ucap Arga lalu menghampiri Dira dan memeluknya dari belakang.
"Mas, lepasin aku bau gak usah peluk peluk," ucap Dira berusaha melepaskan belitan tangan Arga.
Bukannya melepaskan pelukannya Arga malah menciumi tubuh Dira. "Enggak bau kok kamu malah sangat wangi," ucap Arga semakin menempel ada Dira.
"Astaga, Mas bisa bisanya bilang aku wangi, yang ada aku itu bau bawang Mas," gerutu Dira sambil tetap fokus dengan masakannya jangan sampai gosong.
Akhirnya Dira telah selesai dengan masakannya dan barulah Arga melepaskan pelukannya.
"Mas kami gak mandi dulu?" tanya Dira yang melihat Arga sudah duduk di meja makan.
"Nanti aja sekalian barengan kamu," ucap Arga dengan santainya.
"Dasar mesum," ucap Dira sambil menyendokkan makanan untuk Arga.
Di tengah tengah mereka makan, Arga tiba tiba saja menanyakan soal vitamin yang selalu di minum Dira.
"Sayang kamu masih minum vitaminnya?" tanya Arga.
Dira menghentikan suapannya dan menatap Arga heran, tidak biasanya Arga menanyakan soal vitamin yang ia minum.
"Oh iya masih Mas, Memangnya kenapa?" tanya Dira.
"Kayaknya vitaminnya bagus makanya kamu masih tetap meminumnya, aku juga jadi pengen nyobain, bolehkan?"
"Gak bisa," ucap Dira.
"Loh kenapa gak bisa?"
"Soalnya itu vitamin khusus untuk perempuan, jadi Mas tidak bisa mengkonsumsinya." Dira kembali beralasan.
"Kok aku baru dengar ya," ucap Arga.
__ADS_1
"Udah Mas katanya tadi mau mandi bareng, cepat habisin makannya," ucap Dira tersenyum genit kearah Arga. Ia sengaja mengalihkan perhatian Arga agar tidak lagi membahas soal vitamin itu.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan Ra, kamu membuatku takut ..." batin Arga. Ia tau kalau Dira sengaja mengalihkan pembicaraan.