
Malam harinya.
Dira saat ini sedang duduk di taman belakang rumahnya sambil menikmati angin malam yang terasa begitu sejuk, bahkan Dira dapat merasakan semilir angin yang menerbangkan ujung rambut indahnya yang ia ikat tinggi.
Dira berulang kali menarik napas perlahan lahan, sambil mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang terlihat cerah dengan bintang bintang bertaburan yang menambah keindahan langit malam ini.
"Astaga sayang, ternyata kamu ada di sini," ucap Arga yang baru saja datang dengan ekspresi yang terlihat khawatir.
"Sini Mas, duduk di sini," ucap Dira mengajak Arga agar duduk di sampingnya.
Arga pun mengikuti ucapan Dira dan duduk di sampingnya. Dira langsung saja menyandarkan kepalanya pada bahu Arga sambil memeluk pinggang suaminya itu.
"Mas, dokter tadi bilang apa soal kondisi aku? Apa aku baik baik saja atau sebaliknya?" tanya Dira tiba tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
Arga yang mendengar pertanyaan Dira terdiam untuk beberapa saat sambil mendongakkan kepalanya ikut menatap langit. "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, aku pasti akan melakukan segala cara agar kamu bisa sembuh, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun," jawab Arga sambil mengusap rambut panjang Dira dengan penuh kelembutan.
"Apakah kondisi jantungku semakin buruk Mas?" tanya Dira kembali. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap wajah tampan Arga.
"Tentu saja kamu baik baik saja sayang ... kamu hanya perlu mengurangi aktivitas yang berat berat agar jantungmu bisa pulih kembali," bohong Arga.
"Syukurlah ..." ucap Dira sambil tersenyum lega.
"Ini sudah semakin malam, lebih baik sekarang kita masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan mu," ucap Arga lalu tanpa aba aba mengangkat tubuh Dira dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Dira pun tidak lagi bertanya dan mengeratkan pegangannya pada leher Arga, ia tau kalau Arga sengaja mengalihkan pembicaraan agar ia berhenti bertanya tentang kondisinya, ia juga sangat yakin kalau kondisinya tidak mungkin baik baik saja. Dira tidak ingin membuat Arga semakin sedih dan memutuskan untuk mempercayai semua yang dikatakan suaminya itu.
Sementara di tempat lain sepasang anak manusia yang kerjaannya selalu ribut setiap kali bertemu, kini terlihat semakin akrab, bahkan Mita yang biasanya jutek setiap kali bertemu Arka, malam ini ia terus tertawa saat keluar dari bioskop.
"Mit Lo mau sampai kapan ketawa kayak orang gak waras gitu, Lo gak malu apa diliatin banyak orang," ucap Arka sambil menunjuk orang orang di sekitar mereka yang terus menatap Mita aneh.
__ADS_1
"Nggak," jawab Mita kembali tertawa sambil terus melangkah meninggalkan bioskop dan hal itu tentunya membuat Arka kesal.
"Mit yang kita tonton kan film horor bukan film komedi kenapa Lo ketawa sampai keluar air mata gitu, gue yakin semua orang yang keluar dari bioskop pasti menganggap Lo aneh," ucap Arka sambil mengikuti Mita yang berjalan di depannya menuju tempat ia dan Mita akan mengisi perutnya.
"Gimana gue gak ketawa Ar, ekspresi ketakutan Lo itu yang buat ngakak, sumpah Ar Lo benar benar kocak banget, bahkan suara jeritan Lo memenuhi ruangan tadi," ucap Mita lalu duduk di kursi dan mulai memesan makanan.
"Ish,,, Lo ngeselin banget sih Mit, Lo pasti sengaja kan ngajakin gue nonton film horor, pantesan Lo langsung setuju saat gue ajak nonton," ucap Arka.
Setelah pulang dari kafe Arka menghubungi Mita dan mengajaknya untuk nonton dan entah ada angin apa Mita tanpa protes mengiyakan keinginannya dengan syarat ia yang harua memilih film yang akan mereka tonton, dan membuat Arka harus berakhir seperti sekarang ini, menjadi bahan tertawaan Mita.
Bayangan suasana romantis seperti yang ada di drama malah buyar karna kejahilan Mita.
"Untung aja gue sempat foto ekspresi ketakutan Lo tadi Ar," ucap Mita sambil menunjukkan foto Arka yang menurutnya sangat kocak, bahkan ia juga mengabadikan Vidio saat Arka teriak teriak tidak karuan di sepanjang film sampai ia harus menutup mulut Arka karna takut Arka menggangu orang orang yang menonton.
"Lo bener bener ngeselin Mit, niat banget Lo ngerjain gue," ucap Arka pasrah.
"Ngeselin tapi Lo cinta kan Ar ..." ucap Mita sambil memasukkan ponselnya ke tas dan tatapannya kembali fokus melihat buku menu yang ada di tangannya.
"Gak usah Lo tambahin pakek Sari juga kali Ar ..." protes Mita.
"Iya iya Abang Vi–no kesayanga Lo," ucap Arka mengeja nama Vino.
"Gak gitu juga kali, udah nih mending Lo sekarang pesan makan dari pada ngedumel terus, tadi Lo kan udah capek teriak teriak pasti sekarang Lo butuh tenaga, apalagi kalau sampai nanti hantu tadi datang nyamperin Lo," ucap Mita yang malah menakut nakuti Arka.
"Jangan aneh aneh Lo Mit, jangan sampai gue bawa Lo pulang ke rumah gue buat temenin gue tidur malam ini," ucap Arka tidak mau kalah menggoda Mita.
"Ogah banget gue harus nemenin bujang lapuk kayak Lo," ucap Mita.
"Kita sama kali Mit, Lo juga perawan lapuk, kita sebenarnya senasib loh Mit," ucap Arka tiba tiba.
__ADS_1
"Senasib ..." gumam Dira dengan tatapan bingung kearah Arka.
"Iya senasib, coba deh Lo pikir pikir, gue sukanya sama Lo, sementara Lo sukanya sama Vino sementara Vino malah sukanya sama si Tiara untungnya si Tiara juga suka sama sahabat Lo itu jadi dia gak ikutan adu nasib kayak kita," ucap Arka.
"Iya juga ya, kenapa cinta harus serumit itu sih," Mita menimpali ucapan Arka.
"Makanya biar gak rumit mending Lo jadi pacar gue aja," ucap Arka.
"Ar kira kira Lo masih mau menunggu gue sampai bener bener bisa membuka hati buat Lo kan?" tanya Mita tiba tiba sambil menatap Arka dengan tatapan serius.
"Tentu saja gue akan dengan senang hati menunggu Lo membuka hati Lo buat gue," jawab Arka.
"Syukurlah," ucap Mita.
"Tunggu dulu, itu artinya gue masih ada kesempatan buat jadi pacar Lo kan Mit?" tanya Arka serius.
"Hm," jawab Mita.
"Mita jawab gue, Ini serius jangan sampai Lo cuma ngerjain gue doang padahal gue udah baper, gue udah gak sabar buat menantikan saat saat itu Mit, saat Lo membalas kata–" Arka menjeda ucapannya lalu memegang tangan Mita dan menatapnya dengan tatapan yang mampu membuat jantung Mita berdebar. "I love you." Arka melanjutkan ucapannya.
Entah kenapa Mita menjadi salah tingkah di tatap seperti itu oleh Arka, untuk pertama kalinya ia tiba tiba kehilangan kata kata di hadapan Arka, untung saja pelayan datang membawakan pesanan mereka dan Dira dengan cepat menepis tangan Arka yang masih menggenggam tangannya.
Arka tersenyum penuh arti saat menatap Mita yang terlihat salah tingkah di hadapannya.
"Gue gak akan pernah menyerah untuk membuat Lo merasakan ketulusan cinta gue Mit, dan gue akan selalu bersabar menunggu Lo membalas cinta ini," batin Arka.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
__ADS_1
Komen
Favorit and Vote😉