Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 82 : Mas Kim bum lagi


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kepulangan Dira dari rumah sakit, dan selama dua hari itu Dira tidak di izinkan untuk pergi ke kampus. Ia pun menggunakan waktunya di rumah untuk mengerjakan skripsinya dan itu pun ia lakukan tetap dalam pantauan suaminya.


"Dir, kamu beneran gak mau tunda dulu kuliah kamu?" tanya mama Dira sambil mengelus kepala Dira yang ada di pangkuannya.


Hari ini Ayu kembali mengunjungi Dira. Sejak ia mendengar kabar dari Arga tentang kondisi putrinya ia selalu datang ke rumah menantunya untuk menemani dan menghabiskan waktu seharian dengan Dira. Arga pun tidak keberatan akan hal itu, dan dengan senang hati menyambut kedatangan mertuanya.


"Nggak usah Ma, lagian tinggal sebentar lagi kan sayang kalau aku harus ambil cuti," jawab Dira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, karna ia yang sedang menonton drama kesukaannya.


"Mama cuma mau kamu fokus dulu sama kesehatan kamu Nak, mama gak mau kamu sampai kelelahan," ucap mama Dira.


Dira pun langsung bangun dan menatap mamanya lembut.


"Ma Dira janji akan baik baik saja, Mama lupa di samping aku ada mantu kesayangan Mama yang selalu memantau semua pergerakan aku, selama dua hari ini aja Dira gak melakukan kegiatan apa pun selain bersantai, jadi aku gak mungkin melakukan sesuatu yang akan membuatku lelah, Dira bisa seharian diceramahi Mas Arga kalau sampai melanggar, " ucap Dira meyakinkan mamanya yang masih saja mencemaskan dirinya.


"Baiklah mama percaya sama kamu, pasti suami kamu bisa menjaga putri mama yang cantik ini dengan baik," ucap mama Dira kembali mengelus kepala Dira. Ia yakin Dira akan baik baik saja bersama Arga.


Awalnya Arga pun meminta Dira agar ia berhenti kuliah untuk sementara waktu, tapi Dira menolaknya, dengan alasan ingin tetap menyelesaikan kuliahnya tepat waktu dan dia berusaha untuk meyakinkan Arga kalau ia akan baik baik saja. Akhirnya Arga dan keluarganya memutuskan untuk membiarkan Dira melakukan apa yang ingin dilakukannya, mereka tidak ingin terus terusan memperlakukan Dira seperti orang sakit lagi.


"Sayang jangan lupa ini obatnya di minum dulu," ucap Arga membawa gelas berisi air putih dan obat Dira. Selama dua hari ini Arga juga tetap di rumah menemani Dira, bahkan urusan kafe pun ia serahkan pada Arka dan Ivan.


"Tuh kan Ma baru aja diomongin, gimana Dira bisa kelelahan, kalau minum obat aja Dira gak perlu bersusah payah buat ambil sendiri," ucap Dira sambil mengambil obat dari tangan Arga dan langsung meminumnya.


"Iya, iya ... suami kamu memang suami idaman," ucap mama Dira sambil tersenyum kearah Arga dan Dira.


"Jadi dari tadi kamu sama Mama ngomongin aku sayang? Tapi kamu gak cerita yang jelek jelek kan soal aku?" tanya Arga yang ikut duduk di samping Dira.


"Tenang semuanya aman," jawab Dira lalu kembali berbaring di pangkuan Arga.


"Sayang kamu lagi nontonin dia, kamu gak bosen apa liatin muka orang itu, bahkan kamu sampai ketawa ketawa gak jelas?" tanya Arga yang melihat Dira lagi lagi menonton Drakor yang di perankan oleh salah satu aktor favoritnya.

__ADS_1


"Liatin kamu tiap menit, tiap detik aja aku gak bosen Mas, apalagi wajah Abang Kim bum yang manis itu," ucap Dira sambil menatap gemas kearah layar besar di hadapannya.


"Lebih tampan mana, aku atau dia?" tanya Arga sambil membalikkan wajah Dira agar menghadap wajahnya.


"Sudah pasti lebih tampan dia," tunjuk Dira kearah layar.


"Ma coba liat kelakukan anak mama yang satu ini, bisa bisanya dia memuji pria lain di hadapan suaminya, padahal aku juga gak kalah tampan dari aktor itu," adu Arga pada mama mertuanya.


"Udah Dir, jangan di godain terus suami kamu," ucap mama Dira melerai perdebatan anak dan mantunya yang menurutnya sangat manis.


"Tapi dia beneran tampan loh Mas," ucap Dira dengan senyum jahilnya kembali menggoda Arga.


"Sayang kamu cuma boleh mengagumi ketampanan suami kamu ini, aku tidak mengizinkan kamu melihat pria lain," ucap Arga mulai merajuk, ia menutup mata Dira agar berhenti menonton.


"Awas Mas, aku mau liat Abang Kim bum aku ..." ucap Dira berusaha menyingkirkan tangan Arga.


"Wah kamu benar keterlaluan, bahkan kamu memanggilnya Abang, sepertinya malam ini kamu harus di hukum semalaman di atas–"


"Mas kamu jangan ngomong yang aneh aneh, ingat di sini masih ada Mama," bisik Dira.


"Memangnya aku ngomong apa?" tanya Arga pura pura bodoh.


"Kamu mau bilang itu kan?"


"Itu apa? Ah aku tau kamu pasti lagi mikirin hal yang mesum kan? Pasti kamu mikirnya aku bakalan hukum kamu dengan yang enak enak kan?"


"Mas ..." ucap Dira memberikan tatapan tajam pada Arga, ia tau suaminya sedang mengerjainya. "Malam ini kamu tidur di luar." ucap Dira terdengar serius, lalu kembali fokus dengan tontonannya.


Sementara mama Dira hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan pasangan suami istri di sampingnya yang melupakan keberadaannya.

__ADS_1


-


-


-


Di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah kontrakan kecil seorang wanita terlihat marah marah sambil melempar barang di dekatnya.


"Argh! ... sial kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?" teriak Elena prustasi. Ia tidak menyangka semua rencananya dengan Reno untuk menghancurkan Arga dan Dira akan gagal dan ia harus berakhir seperti saat ini.


"Bagaimana bisa aku bertahan hidup di tempat seperti ini?" ucap Elena.


Elena menatap jijik pada kontrakan kecil yang baru saja ia tinggali, hidupnya benar benar telah hancur, Reno orang yang ia harapkan dapat membantunya sekarang sudah mendekam di penjara. Bukan hanya perusahaan keluarga Reno yang diambang kebangkrutan, tapi perusahaan milik keluarganya pun sedang dalam keadaan krisis. Ia sudah tidak punya harapan lagi, bahkan kedua orang tuanya sama sekali tidak peduli dengannya, bukannya prihatin dengan nasibnya, mereka malah menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa perusahaan papanya dan menganggap Elena anak yang tidak berguna. Apalagi saat ia memberitahukan tentang kehamilannya, papanya tanpa pikir panjang langsung mengusirnya.


"Tidak ada satu pun orang yang memedulikan ku, bahkan orang tua ku sendiri dengan terang terangan menolak keberadaan ku," gumam Elena meremas tangannya mengingat perlakuan kedua orang tuanya.


"Aku benar benar sudah kalah, aku lagi lagi gagal untuk menghancurkan Anindira, lalu sampai kapan aku akan tinggal di tempat kecil ini," gumam Elena sambil menatap sekeliling ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya.


Elena harus berhemat jadi ia hanya bisa menyewa kontrakan kecil yang dilengkapi dengan ruang tamu, dapur, kamar mandi dan satu kamar tidur dengan ranjang kecil itu.


"Haruskah aku menyerah pada rencana ku untuk menghancurkan Dira dan merebut Arga darinya?" tanya Elena pada dirinya sendiri.


*


*


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like👍🏻

__ADS_1


Komen


favorit and Vote😉


__ADS_2