
Elena keluar dari rumah sakit setelah menemui dokter kandungan, untuk memastikan apakah dia benar hamil atau hanya kesalahan pada testpack yang ia gunakan, dan ternyata hasilnya adalah ia benar benar positif hamil. Elena meremas kertas hasil pemeriksaannya.
"Sial! Ternyata gue beneran hamil anak Reno," gumam Elena yang terlihat tidak senang saat mengetahui kabar kehamilannya.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang dengan anak ini? Apa gue harus menggugurkannya?" tanya Elena yang masih bicara sendiri di dalam mobilnya.
"Reno sudah pasti tidak akan mau untuk bertanggung jawab, sial kenapa semuanya harus menjadi seperti ini. Ah! ... sudahlah sebaiknya gue pulang dulu, nanti gue pikirkan soal nasib janin ini," ucap Elena meremas rambutnya lalu ia menghidupkan mobilnya dan beranjak pulang menuju apartemen Reno.
Sesampainya di apartemen Elena tidak mendapati Reno di sana, bahkan apartemen tersebut terlihat gelap karna lampu yang belum dinyalakan, itu artinya Reno sejak tadi pagi belum pulang.
"Reno ke mana? Apa dia belum pulang sejak tadi?" gumam Elena yang sudah merebahkan tubuhnya pada sofa ruang tamu.
"Sudahlah biarkan saja bukankah akan lebih baik kalau dia tidak pulang, aku jadi bisa istirahat malam ini tanpa harus melayani laki laki itu," gumam Elena lalu segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Tidak lama setelah Elena masuk ke kamarnya terdengar suara seseorang membuka pintu apartemen dan ternyata Reno baru saja tiba dengan wajah yang di penuhi luka lebam akibat dari pukulan Arga.
"Ke mana wanita itu?" gumam Reno mencari keberadaan Elena.
"Kamu sudah pu–" Elena tidak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Reno seperti orang yang habis di pukuli. "Muka kamu kenapa? Apa kamu habis bertengkar dengan seseorang?" tanya Elena yang baru saja keluar dari kamarnya dan ia sangat terkejut saat melihat wajah Reno.
"Bukan urusan kamu," ketus Reno melewati Elena dan langsung masuk ke kamarnya.
"Cih, sebenarnya gue juga sama sekali tidak peduli dengan urusan dia," gumam Elena acuh sambil melangkah ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan, karna entah kenapa ia tiba tiba merasa lapar padahal sebelum pulang ia sudah makan malam.
Reno sudah terlihat segar, ia terlihat sangat kesal menatap pantulan dirinya pada cermin.
"Ish,,, kurang ajar si Arga muka tampan gue jadi kayak gini gara gara dia," ucap Reno sambil meringis memegangi luka di wajahnya.
"Ini benar benar memalukan, untuk kesekian kalinya gue kalah darinya, padahal sedikit lagi gue bakalan berhasil buat Dira menjadi milik gue. Arkh! ... sial!" teriak Reno.
__ADS_1
Ia menendang tempat sampah yang ada di kamar mandinya untuk melampiaskan emosinya, membuat semua isinya berserakan di lantai kamar mandi, saat ia akan keluar tatapannya tertuju pada sebuah benda yang berserakan dengan sampah lainnya. Reno memungut benda tersebut, tentu saja ia sangat paham dengan kegunaan benda yang di sebut testpack itu, ia langsung saja keluar dari kamar mandi mencari Elena begitu melihat dua garis pada benda tersebut.
"Elena!" panggil Reno dengan ekspresi yang terlihat marah. "Wanita itu tidak mungkin hamil kan?" gumam Reno.
"Ada apa? Kenapa harus teriak teriak segala, apa kamu pikir aku budek?" kesal Elena menghampiri Reno.
"Kenapa benda ini ada di kamar mandi? Apa ini punya kamu? Cepat jelaskan!" ucap Reno.
"Iya itu milikku, aku hamil. Sekarang aku sedang mengandung anakmu," jawab Elena.
"Gugurkan." dengan santainya kata itu keluar dari mulut Reno.
"Kamu benar benar lebih buruk dari dugaan ku, ternyata kamu hanyalah laki laki bre ng sek yang hanya mau enaknya saja, tanpa mau bertanggung jawab, sementara aku harus menanggung semuanya."
"Jaga ucapan mu Elena! Bukankah dari awal aku sudah pernah katakan padamu wanita yang pantas mengandung anakku hanyalah DIRA bukan wanita sepertimu." ucap Reno sambil menunjuk Elena.
"Dira! Dira! Selalu saja wanita itu, sebenarnya apa hebatnya dia sampai kamu begitu tergila gila padanya? Atau jangan jangan dia telah berhasil menggoda mu dengan tubuhnya?" ucap Elena dengan senyum sinisnya.
"Tidak usah banyak protes, gugurkan saja. Aku tau kamu juga pasti tidak menginginkan anak itu." ucap Reno kembali.
"Apa kamu pikir melakukan aborsi adalah hal yang mudah? Apa kamu pikir aku tidak akan merasakan sakit saat melakukannya? Bahkan bisa saja aku kehilangan nyawa saat melakukan hal itu, apa kamu sama sekali tidak memikirkan tentang itu?" ucap Elena tidak kalah Emosi, sebenarnya ia juga sudah berniat untuk menggugurkannya tapi mendengar semua kata kata yang di ucapkan Reno apalagi saat dia dengan sangat santai memintanya menggugurkan kandungannya membuat harga dirinya seperti diinjak injak.
"Terserah aku tidak peduli, tapi yang pasti aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas janin itu, dan satu lagi jangan bertingkah seolah olah kamu adalah korban. Ingat kamu sendiri yang telah melemparkan diri ke atas ranjang ku, dan tentu saja aku tidak akan menolak kenikmatan yang kamu sodorkan dengan cuma cuma itu Elena," ucap Reno dengan ekspresi seakan akan merendahkannya lalu setelah itu ia pun masuk ke kamarnya meninggalkan Elena.
Elena hanya bisa mengepalkan tangannya menerima semua ucapan Reno yang merendahkan dirinya. Ia tidak lagi berani melawan karna ia masih membutuhkan Reno untuk mencapai tujuannya.
*****
Di tempat lain Arka yang sedang mengantar Mita pulang, tiba tiba saja di pertengahan jalan Arka memutar mobilnya ke arah yang berbeda membuat Mita kebingungan karna arah yang di tuju Arka sama sekali bukan jalur ke arah rumahnya.
__ADS_1
"Ar ini bukan jalan ke rumah gue, jangan bilang Lo lupa jalan menuju rumah gue?" tanya Mita yang merasa heran.
"Aku mana mungkin melupakan sesuatu yang berkaitan tentang kamu Mit, apalagi hanya jalan ke rumah kamu, karna di otak aku ini hanya ada kamu jadi aku gak mungkin lupa," ucap Arka terdengar seperti gombalan, tapi ucapannya itu memang tulus dari hati.
"Dasar tukang gombal," ucap Mita yang tidak menganggap serius perkataan Arka.
Arka tidak membalas ucapan Mita dan tetap fokus pada kemudinya, begitu pun dengan Mita ia tidak lagi bertanya, mungkin saja Arka lagi ada keperluan di tempat lain, lagian ini juga masih belum terlalu malam jadi ia tidak keberatan kalau harus ikut Arka ke tempat tujuannya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian mobil yang dibawa Arka telah tiba di sebuah restoran mewah. Arka terlebih dulu turun dan membuka pintu mobil untuk Mita.
"Ayo, kenapa bengong?" tanya Arka karna Mita masih belum turun dari mobil dan malah menatapnya bingung.
"Lo baik baik aja kan Ar?" Mita malah balik bertanya.
"Emang kamu pikir aku kenapa?"
"Aneh aja, gak biasanya Lo bersikap manis, dan ini kita mau ngapain di sini?" tanya Mita.
"Gue udah sering bersikap manis, Lo nya aja yang gak nyadar, udah gak usah banyak tanya cepat turun, Lo pasti belum makan kan? Sebaiknya kita makan dulu sebelum gue antar," ucap Arga.
"Iya belum, tapi kenapa harus di tempat ini?"
"Lo kebanyakan nanya Mit, ayo." Arka langsung saja menarik tangan Mita untuk turun dari mobil.
Mita pun dengan pasrah mengikuti langkah Arka. Ia semakin bertambah bingung saat Arka membawanya ke tempat yang di penuhi dengan suasana romantis dengan meja yang di dekor dengan lilin terlihat seperti acara makan malam romantis untuk sepasang kekasih.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
__ADS_1
Komen
Favorit and Vote😉