Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 118 : AIGAR PUTRA RAHARDIAN


__ADS_3

Arga segera masuk ke dalam mobil sambil menggendong Dira yang tengah menahan sakit. "Ayo cepat jalan, kita ke rumah sakit," perintah Arga pada sopirnya itu.


"Baik tuan." ucap sopir tersebut yang langsung menginjak gas, melajukan mobil menuju rumah sakit.


"Eshh ... sakit ..." Rintih Dira sambil meremas lengan Arga, karna sakit yang ia rasakan semakin terasa berkali kali lipat dari sebelumnya.


"Sayang ..." ucap Arga dengan suara bergetar, tubuhnya terasa kaku saat melihat cairan bening mengalir di sela sela kaki Dira. "Sayang sepertinya baby kita sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan kita, kamu harus kuat sayang," ucap Arga berusaha menyembunyikan rasa paniknya lalu mencium kening Dira.


"Lebih cepat lagi pak!" ucap Arga tanpa sadar membentak sopirnya.


"Ba– baik tuan," ucap sopir tersebut yang terkejut bercampur takut.


"Mas sakit ..." Lirih Dira dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, ia tetap ingat dan melakukan apa yang pernah ia pelajari dengan menarik napas, lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Tahan sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Arga sambil menggenggam tangan Dira dan menciumnya berkali kali, untuk memberikan ketenangan pada sang istri yang sedang berjuang menahan rasa sakit.


Beberapa menit kemudian mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah sakit.


"Tuan kita sudah sampai," ucap sang sopir.


Arga pun membuka pintu mobil, namun baru saja Arga akan keluar Dira malah mencegahnya dan menarik tangan Arga.


"Ada apa sayang?"


"Mas kamu tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu kan? Aku tidak akan rela membiarkan wanita lain melihat tubuh seksi mu itu," ucap Dira. Ia masih sempat sempatnya memikirkan tubuh suaminya, sementara Arga tidak memikirkan hal itu karna rasa paniknya.

__ADS_1


Arga mengerutkan alisnya mendengar ucapan Dira dan ia sangat terkejut saat menyadari penampilannya yang hanya menggunakan celana pendek yang terlihat sangat ketat di bagian tertentu. Karna panik ia sampai lupa menggunakan baju dan celana yang lebih layak.


"Pak buka bajunya." perintah Arga pada sopirnya.


"Ha?" sopir tersebut terlihat kebingungan.


"Cepat berikan baju yang bapak pakai itu, karna aku tidak mungkin keluar dengan penampilan seperti ini." ucap Arga.


"Ba–baik tuan," ucap sopir tersebut, mau tidak mau ia harus memberikan bajunya untuk digunakan oleh majikannya. Sebenarnya ia merasa tidak enak karna bajunya yang sangat lusuh itu sangat tidak pantas jika harus dipakai Arga.


"Berikan sarungnya juga," pinta Arga menunjuk sarung yang digunakan sopirnya.


"Ini tuan," sopir itu memberikan sarungnya, kini ia hanya menggunakan celana pendek dan baju singlet.


Setelah menggunakan baju Arga pun langsung menggendong Dira keluar dari mobil. "Walaupun agak kekecilan itu lebih baik dari pada harus keluar dengan bertelanjang dada." batin Arga yang melihat penampilannya dengan menggunakan baju kekecilan dan sarung.


Di ruang persalinan.


Arga menarik napas dalam dalam lalu kembali mengejan, hal itu ia lakukan berkali kali sesuai dengan instruksi dari dokter.


Sementara Arga yang menyaksikan  bagaimana sang istri berjuang untuk melahirkan buah hati mereka terlihat sangat tegang, rasa takut, haru dan bahagia bercampur jadi satu. Seandainya rasa sakit itu bisa dipindahkan padanya, sudah sejak tadi ia akan memindahkannya, biar dia saja yang merasakannya.


"Mas ..." Lirih Dira. Ia merasakan tenaga sudah terkuras habis.


"Maaf sayang, di saat seperti ini aku sama sekali tidak dapat melakukan apa pun untukmu," ucap Arga. Cairan bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Hey, kenapa kamu malah menangis Mas? Aku tidak apa apa, hal seperti ini sudah biasa bagi seorang wanita, aku yakin sesakit apa pun itu pasti momen seperti ini adalah sesuatu yang selalu banyak wanita nantikan. Udah gak usah nangis kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, masak nangis, gak malu sama anak kamu," ucap Dira sambil menghapus air mata Arga.


"Maaf sayang, aku hanya tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini, seharusnya aku yang memberikan semangat, bukan malah kamu yang menenanangkan ku," ucap Arga lalu mencium kening Dira dan menggenggam tangannya untuk memberikan semangat.


"Dokter rasa sakitnya muncul lagi," ringis Dira kembali sambil meremas tangan sang suami.


"Hu ... hu ... akh ...!" Dira kembali mengejan sesuai dengan instruksi dokter.


"Ayo sayang semangat, kita harus segera bertemu dengan anak kita ..." ucap Arga memberikan semangat, ia tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya, karna Dira meremas tangan dan rambutnya, bahkan Dira sampai menggigit lengannya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan sang istri.


Detik berikutnya terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring di ruangan tersebut, yang membuat Arga dan Dira langsung meneteskan air mata karna rasa haru, apalagi saat melihat langsung sosok kecil itu dengan jenis kelamin laki laki, ya Dira telah berhasil melahirkan bayi laki laki yang sangat tampan.


"Sayang putra kita," ucap Arga penuh takjub.


Dokter pun memberikan bayi mungil itu untuk ditaruh pada dada ibunya. "Selamat putra anda sudah lahir dengan sehat tuan, Nyonya," ucap dokter sambil meletakkan bayi mungil itu ke dada Dira.


"Subhanallah dia tampan sepertimu Mas," ucap Dira tersenyum bahagia, rasa sakit yang tadi ia rasakan telah terbayar saat menatap sosok mungil itu yang terlihat sangat mirip dengan sang suami.


Arga pun mendekat dan memberikan ciuman pada Dira dan sang putra. "Selamat datang dan terimakasih sudah hadir di kehidupan kami putraku Aigar Putra Rahardian," ucap Arga tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi mungil yang sedang mencari sesuatu pada dada sang ibu.


"Terimakasih sayang," ucap Arga dengan mata yang berkaca kaca dan ia kembali memberikan ciuman pada kening Dira.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa like👍

__ADS_1


Komen


Favorit and vote😉


__ADS_2