
Dira mulai membuka matanya. Ia menatap langit langit kamar tempatnya saat ini sambil mengerjapkan matanya berusaha mengenali sekelilingnya dan memulihkan ingatannya tentang apa yang telah terjadi padanya. Ia bisa melihat setiap sudut ruangan tempatnya sekarang, ia juga menatap layar monitor dan selang impus di tangannya, membuatnya menyadari kalau saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
"Sayang ... kamu sudah sadar?" ucap Arga senang, karna akhirnya istrinya sudah siuman.
Dira menoleh ke asal suara, ia melihat Arga duduk di samping ranjangnya sambil memegang tangannya. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah suaminya itu. Ia yakin Arga sekarang pasti sudah mengetahui tentang penyakit yang selama ini ia sembunyikan.
"Mas ..." ucap Dira sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Arga. "Maaf ..." ucap Dira kembali sambil mengelus wajah suaminya.
"Kenapa harus minta maaf?" ucap Arga sambil mencium tangan Dira.
"Karna aku menyembunyikan tentang sakit ku padamu, aku hanya tidak ingin kamu sedih Mas, aku–"
"Shut ... kamu tidak perlu meminta maaf aku tau kamu pasti melakukan hal itu untuk menjaga perasaan ku, kamu tidak ingin aku dan yang lainnya sedih," Arga membelai kepala Dira. "Tapi itu yang terakhir karna mulai saat ini kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun pada suami mu ini, kamu harus mengatakan sakit saat kamu merasa sakit, jangan pernah berpura pura kalau kamu baik baik saja," ucap Arga sambil menatap mata Dira, tanpa ia sadari ia meneteskan air matanya di hadapan istrinya.
Dira tidak menyela ucapan Arga, ia menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipi Arga.
"Aku akan melakukan apa pun untuk membuat mu sembuh, bahkan jika aku harus memberikan jantungku untuk mu aku rela," ucap Arga sambil sesenggukan, ia tidak peduli jika dikatakan laki laki cengeng.
Dira berusaha untuk bangun. Arga yang melihat hal itu membantu Dira untuk duduk dan membantunya mencari posisi yang nyaman. Dira menatap mata Arga dalam. "Aku tidak butuh jantung mu Mas untuk membuatku tetap hidup, jika aku harus kehilangan laki laki yang aku cintai," ucap Dira memeluk tubuh Arga.
"Begitu pun dengan ku sayang, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa mu, mari kita berjuang bersama aku akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan mu, bagaimana pun caranya kamu harus sembuh," ucap Arga memeluk erat tubuh Dira seakan akan Dira akan pergi meninggalkannya jika ia lepaskan.
__ADS_1
Dira hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Arga.
Dira melepaskan pelukannya dan menatap Arga. "Kalau begitu berhentilah menangis aku tidak akan mati sekarang," ucap Dira bercanda untuk mengehentikan tangis Arga.
Arga menatap tajam istrinya itu yang terlihat kebingungan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan pernah mengatakan kata itu, aku tidak suka," ucap Arga.
"Tapi semua orang pasti akan ma–"
Cup!
"Dasar mesum, istrinya lagi sakit masih aja mau dihukum," kesal Dira.
"Tidurlah, mulai sekarang kamu harus banyak istirahat, aku juga sudah mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah, jadi kamu jangan coba coba untuk mengerjakannya," ucap Arga sambil membaringkan tubuh Dira.
"Baiklah tuan pemaksa ... ."
"Mas naiklah, kamu juga harus istirahat, kalau kamu sakit siapa yang akan mengurusku?" ucap Dira sambil menepuk samping ranjangnya agar Arga ikut tidur bersamanya di ranjang besar itu.
__ADS_1
Arga pun langsung naik dan berbaring di samping Dira, Arga memang sangaja memesan ranjang yang lebih besar untuk Dira, agar istrinya bisa tetap merasa nyaman meskipun berada di rumah sakit. Arga menaruh tangannya di bawah kepala Dira sebagai bantal dan memeluk tubuh sang istri yang sudah menelusupkan wajahnya pada dada bidangnya.
"Mas apa Mama dan papaku juga sudah tau soal penyakitku?" tanya Dira pada Arga.
"Iya sayang Mama Ayu dan papa Arman juga sudah ada di sini, tapi aku meminta mereka untuk pulang dan istirahat di rumah kita," jawab Arga.
Dira menghela napas. Ia bisa bayangin bagiamana reaksi mamanya saat mengetahui tentang kondisinya saat ini.
"Pasti Mama sangat mengkhawatirkan ku sekarang," gumam Dira.
"Kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal hal lain, kamu hanya perlu fokus untuk kesembuhan mu, karna itu yang diharapkan Mama untuk putri hebatnya ini," ucap Arga.
Dira menganggukkan kepalanya, benar yang dikatakan Arga ia harus berjuang lebih keras untuk kesembuhannya, bukankah ia pernah berada di posisi saat ini, melawan rasa sakitnya dan kali ini ia juga harus berhasil untuk melewatinya demi orang orang yang ia sayang. "Selamat tidur suamiku," ucap Dira sebelum ia akhirnya terlelap dalam dekapan Arga.
"Tuhan tolong jangan ambil istriku terlalu cepat, aku mohon izinkan dia terus berada di sisiku," batin Arga lalu ia mencium kening Dira dan ikut terlelap. Ia berharap hari esok akan lebih baik dari sekarang.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
__ADS_1
Favorit and Vote😉