Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 95 : Penyesalan


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Sayang kamu mau ke mana?" tanya Arga pada Dira yang berlari mengikuti ranjang pasien yang membawa Elena.


Dira tidak menjawab ucapan Arga dan tetap mengikuti Elena yang di bawa oleh tenaga medis membuat Arga mau tidak mau mengikuti istrinya itu.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin Dira jadi ia dan Arga datang ke rumah sakit setelah acara wisuda untuk memeriksakan kondisi jantungnya, dan saat mereka hendak pulang tanpa sengaja melihat  Elena yang di turunkan dari mobil ambulans, kondisinya terlihat memprihatinkan, dengan banyak darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya.


Dira, Arga dan seorang wanita paruh baya menunggu Elena yang sedang di tangani oleh dokter di ruang UGD, wanita yang menggunakan daster itu pun terus menatap kearah Dira dan Arga, sampai akhirnya Dira membuka suara.


"Maaf Bu kalau boleh tau ibu siapanya Elena? dan kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Dira.


"Saya bukan keluarganya saya hanya pemilik kontrakan tempat wanita itu tinggal saat ini, dan saya juga kurang tau dengan apa yang terjadi padanya, karna saya yang kebetulan lewat di depan kontrakannya mendengar suara jeritan seseorang, karna khawatir saya pun masuk dan melihat dia sudah terkapar dengan banyak darah, sepertinya dia mencoba untuk melakukan bunuh diri," jelas wanita paruh baya itu.


"Jadi gitu ya Bu," ucap Dira.


"Apa kalian mengenalnya?" tanya ibu pada Arga dan Dira.


"Em, iya Bu dia teman kampus saya," jawab Dira.


"Kalau begitu bisakah kalian menunggunya di sini? Ini sudah jam pulang sekolah saya harus segera pulang untuk menjemput anak saya sekolah, jadi tidak bisa tetap di sini," ucap ibu itu.


"Maaf kami ti–"


"Bisa buk, silahkan ibu bisa pulang, biar saya yang menunggunya di sini," jawab Dira sebelum Arga melanjutkan ucapannya, karna ia tau Arga pasti akan menolaknya sementara ia merasa khawatir dengan Elena, setidaknya ia akan menemaninya sampai wanita itu sadarkan diri.


Setelah mendengar ucapan Dira ibu itu pun langsung pergi.


"Ayo sayang sebaiknya kita pulang saja, dia bukan tanggung jawab kita biarkan saja keluarganya yang menemaninya nanti," ucap Arga pada Dira yang masih tetap ingin menunggu Elena yang masih terbaring dengan keadaan tidak sadarkan diri dengan infus dan lengan kirinya yang di perban akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya.

__ADS_1


"Sebentar aja Mas kita tunggu, setidaknya sampai dia bangun, aku nggak tega kalau harus ninggalin dia sendiri di sini." ucap Dira yang prihatin dengan nasib yang menimpa Elena tanpa ada siapa pun di sisinya, apalagi saat mendengar dari dokter tentang kehamilan Elena.


Dira awalnya sangat terkejut saat dokter mengatakan kalau Elena tengah hamil, karna yang ia tau Elena belum menikah, tapi ia tidak ingin berpikiran negatif bisa saja Elena telah menikah tapi sengaja merahasiakannya seperti yang ia dan Arga lakukan beberapa bulan yang lalu.


Cukup lama Dira duduk di samping ranjang Elena, sementara Arga tetap berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar, sampai akhirnya Elena pun mulai sadar dari pingsannya dan ia terlihat terkejut saat melihat keberadaan Dira dan Arga.


"Lo," tunjuk Elena pada Dira.


"Iya."


"Gue ada di mana?" tanya Elena sambil menatap sekelilingnya.


"Lo lagi di rumah sakit, pemilik kontrakan tempat Lo tinggal yang bawa Lo ke sini, karna dia harus menjemput anaknya jadi gue yang menemani Lo di sini sampai keluarga Lo datang," jelas Dira.


Elena terdiam tanpa menanggapi ucapan Dira sambil menatap lengan kirinya yang dibalut perban.


"Sial, gue masih hidup, lagi lagi gue gagal untuk menyingkirkan anak ini," ucap Elena tanpa memperdulikan keberadaan Dira dan Arga sambil meremas perutnya.


Tanpa pikir panjang Elena mencabut infus yang menancap di lengannya dan hendak turun dari atas ranjang.


"Lo mau ke mana El? Lo harus istirahat untuk memulihkan tubuh Lo dan juga kandungan Lo," ucap Dira mencegah Elena agar tidak turun dari ranjangnya.


"Lo gak usah ikut campur! Gue tau pasti Lo senang liat gue kayak gini! Minggir Lo gue harus menyingkirkan anak haram ini!" teriak Elena seperti orang kehilangan akal sehatnya dan hal itu membuat Arga geram dan mencengkram lengan kanan Elena dengan keras.


"Beraninya Lo meninggikan suara Lo di hadapan istri gue, Lo bener benar tidak tau terimakasih," ucap Arga masih mencengkram keras lengan Elena yang membuatnya langsung terdiam, ia hanya bisa meringis saat Arga mencengkram tangannya.


"Mas udah, lepasin tangan Elena dia kesakitan," ucap Dira saat melihat Elena meringis kesakitan.


"Biarkan saja, wanita sepertinya tidak pantas untuk di kasihani sayang," ucap Arga.

__ADS_1


"Mas ..." ucap Dira dengan tatapan lembutnya sambil membelai tangan Arga yang mencengkram lengan Elena dan melepaskannya hati hati.


"Tidak baik menyakiti seorang wanita sayang," ucap Dira sambil berusaha melepaskan tangan Arga pada lengan Elena.


"Kamu terlalu baik sayang, sesekali kamu juga harus membalasnya." Arga pun melapaskan tangan Elena.


"Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah Mas, malah akan memperpanjang masalah."


Dira menatap Elena. "El, apa pun alasannya nggak seharusnya Lo menyingkirkan janin yang tidak bersalah, dia adalah darah daging Lo, mungkin dia ada karna sebuah kesalahan tapi ia juga berhak memiliki kesempatan untuk hidup, semuanya tidak akan berakhir dengan Lo mengakhiri hidup Lo, karna masih ada pertanggung jawaban yang lebih berat dari apa yang Lo alami di dunia ini," ucap Dira berusaha mengingatkan Elena.


Elena hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya, dalam hatinya ia menyesali semuanya dan ia sadar semuanya terjadi karna ulahnya sendiri. Seandainya saja ia tidak memiliki niat buruk pada Dira mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi padanya, seandainya ia tetap mensyukuri apa yang sudah ia miliki ia tidak akan pernah kehilangan segalanya. Elena hanya bisa menangis dalam diam menyesali semua perlakuan buruknya pada Dira, bahkan ia sudah berulang kali melakukan sesuatu untuk menyingkirkannya. Ia benar benar merasa malu pada Dira bahkan ia tidak sanggup untuk sekedar menatap wajahnya.


Dira yang melihat Elena hanya diam saja akhirnya kembali mengeluarkan suaranya. "Karna Lo udah siuman gue dan Mas Arga akan langsung pulang, Lo gak usah khawatir soal tagihan rumah sakit, gue harap Lo pikirkan lagi matang matang soal rencana Lo untuk menggugurkan bayi dalam kandungan Lo, selesaikan baik baik masalah Lo dengan ayah dari bayi yang Lo kandung itu, dan jangan lakukan hal gila itu lagi," ucap Dira sambil melirik lengan Elena yang di balut perban.


"Oh iya satu lagi, gue sama sekali tidak senang melihat Lo seperti ini, dan gue benar benar tulus melakukan ini semua, Assalamualaikum." ucap Dira hendak beranjak meninggalkan Elena.


"Maaf," ucap Elena tiba tiba membuat Dira yang hendak membuka pintu membalikkan tubuhnya menatap Elena dengan ekspresi terkejut.


"Lo baru saja mengatakan kata maaf kan?" tanya Dira yang dijawab anggukan oleh Elena.


"Terimakasih atas semua kebaikan Lo, padahal selama ini gue selalu melakukan banyak hal buruk sama Lo, sekali lagi gue minta maaf atas semua perbuatan gue ke Lo selama ini Dir," ucap Elena tulus. Akhirnya ia berani menatap wajah Dira.


BERSAMBUNG . . . . .


Jangan lupa di Like👍🏻


Komen


Favorit and Vote😉

__ADS_1


__ADS_2