Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 68 : Hasil pemeriksaan


__ADS_3

Esok harinya.


"Sayang sebaiknya kamu istirahat saja di rumah, kamu gak usah ke kampus dulu," ucap Arga yang masih khawatir, apalagi kemarin ia melihat Dira terlihat sangat kesakitan.


"Nggak usah Mas, aku udah baik baik aja kok," ucap Dira, yang tetap bersikukuh untuk tetap berangkat ke kampus.


Arga hanya bisa membuang napas kasar mendengar ucapan Dira, istrinya ini benar benar keras kepala, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur. "Ra, apa kamu sedikit pun tidak memikirkan perasaan aku, dari semalam aku tidak bisa berhenti khawatir, aku takut kamu kelelahan dan kenapa napa di kampus," ucap Arga sambil menatap Dira.


"Mas,"


"Kamu selalu bilang kalau kamu baik baik saja, padahal jelas jelas aku melihat bagaimana kamu selalu berusaha menahan sakit di hadapan aku, tolong hargai aku sebagai suami kamu, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu Ra, jadi jangan selalu berpura pura terlihat kalau kamu baik baik saja," ucap Arga lirih.


"Maafkan aku Mas," ucap Dira merasa bersalah sambil menundukkan kepalanya di hadapan Arga.


Arga langsung saja bangun saat menyadari ucapannya sedikit keterlaluan pada Dira, ia pun mendekat kearah Dira dan memeluk sang istri yang berdiri di hadapannya sambil meremas tangannya.


"Kenapa harus minta maaf, kamu tidak salah apa apa, aku hanya ingin kamu tidak menutupi apa yang kamu rasakan, terutama soal kondisi jantung mu. Kamu bisa memperlihatkan kalau kamu baik baik saja di hadapan orang lain, tapi tidak dengan suami mu ini, katakan sakit kalau kamu memang merasakan sakit Ra jangan menutupinya hanya untuk membuatku tenang," ucap Arga sambil memeluk tubuh Dira, bahkan Arga berkali kali mencium puncak kepala Dira.


"Bukankah kamu telah berjanji untuk tidak menutupi apa pun dari aku sayang."


"Iya, Mas tapi kali ini aku beneran sudah merasa baikan, lagi pula ada kamu yang akan selalu menjaga ku jadi aku pasti akan baik baik saja saat berada di kampus," ucap Dira berusaha membujuk Arga.


"Baiklah tapi hari ini setelah balik dari kampus kita harus tetap ke rumah sakit dulu ya sayang? Kamu harus melakukan pemeriksaan," ucap Arga yang di jawab anggukan oleh Dira.


Setelah beberapa menit, akhirnya Arga dan Dira telah sampai di kampus, dan lagi lagi mereka harus bertemu dengan titisan ulat keket itu, tidak lain orang itu adalah Elena, dan yang lebih mengejutkan lagi dia datang bersama Reno musuh bebuyutan Arga.


"Wah wah kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Reno sok akrab.

__ADS_1


"Ayo sayang kita pergi," ucap Arga tanpa menghiraukan Reno yang menyapanya.


"Wih bro, buru buru amat sih, gimana kalau kita ngopi ngopi dulu di cafe sebrang sana sambil mengobrol santai," tawar Reno.


"Kita tidak sedekat itu sampai harus melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan bersama seorang teman," jawab Arga berusaha menahan emosinya untuk tidak menonjok wajah Reno.


"Gue gak tau apa tujuan Lo datang ke kampus ini, tapi yang perlu Lo ingat adalah jangan pernah coba coba mendekati istri gue, karna jika itu terjadi gue akan membuat Lo menyesali sama seperti beberapa tahun yang lalu." Ancam Arga pada Reno, tanpa melepaskan tangan Dira dari genggamannya.


"Santai aja bro Lo gak usah khawatir gue ada di tempat ini bukan untuk menemui istri Lo, apalagi sampai menggangunya, gue ke sini hanya untuk mengantar pacar gue," ucapnya sambil menggandeng Elena dengan mesra.


"Semoga apa yang Lo katakan itu benar," jawab Arga lalu membawa Dira pergi dari area parkiran kampus.


"Sebenarnya apa yang Arga lihat dari perempuan seperti Dira, bahkan gue jauh lebih menarik dari perempuan kampung itu," gumam Elena yang tidak bisa menahan kekesalannya pada Dira.


"Jaga ucapan Lo, Dira bukanlah perempuan kampung seperti yang baru saja Lo katakan, Dira adalah perempuan yang sangat berkelas dan tentu saja dia jauh segala-galanya jika dibandingkan dengan Lo yang murahan," ucap Reno menggebu-gebu, ia tidak terima jika Elena mengatakan hal buruk pada Dira. Setelah berkata seperti itu Reno langsung saja pergi meninggalkan Elena tanpa berpamitan.


"Seandainya saja gue tidak membutuhkan Lo untuk mencapai tujuan gue, untuk membuat Dira hancur, gue gak akan pernah sudi menjadi ja la ng laki laki breng-sek itu," gumam Elena sambil mengepalkan tangannya.


*


*


*


Seperti yang dikatakan Arga tadi pagi kalau ia akan mengajak Dira untuk periksa, dan kini mereka telah sampai di rumah sakit, dan saat ini ia dan Arga sudah berada di ruangan dokter setelah tadi ia melakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh.


Tapi sebelum dokter mengatakan tentang kondisi Dira, dia terlebih dahulu meminta suster untuk membawa Dira ke ruang perawatan.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri gue kak?" tanya Arga pada dokter Bima yang merupakan sepupu dari Ivan dan ia juga cukup dekat dengan Bima, jadi ia merasa lebih leluasa untuk konsultasi tentang kesehatan sang istri.


"Dari hasil pemeriksaan, jantung Dira saat ini terlihat tidak bagus Ga, jika terus dibiarkan kerusakan pada jantung Dira akan semakin banyak dan hal itu dapat membahayakan nyawa Dira. Satu satunya cara adalah dengan mengganti jantung Dira dengan yang baru," jelas Bima.


"Bang apa yang akan terjadi jika Dira tidak melakukan operasi tepat waktu?"


"Jika tidak segera dilakukan tindakan maka kerusakan pada jantungnya akan semakin bertambah dan kemungkinan terburuknya adalah menyebabkan kematian."


Arga meremas rambutnya prustasi dadanya terasa sesak hanya dengan membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Dira.


"Kalau begitu lakukan secepatnya, aku pasti akan membayarnya berapa pun biayanya Bang," ucap Arga.


"Ini bukan masalah biaya Ga, hanya saja untuk saat ini kami masih belum menemukan pendonor untuk Dira."


"Tolong bantu gue bang, gue gak bakalan sanggup jika harus kehilangan Dira," ucap Arga lirih.


"Soal itu aku dan tim dokter yang lainnya pasti akan melakukan yang terbaik untuk membantu kesembuhan istri kamu Ga, tapi kamu juga harus ingat semuanya ada di tangan Tuhan, apalagi jika itu menyangkut hidup dan mati seseorang, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, sementara yang menetapkan semuanya adalah tuhan Ga, jadi Lo jangan pernah lupa untuk berdoa dan serahkan semuanya pada yang kuasa. Semoga kita bisa segera mendapatkan pendonor untuk istri kamu," ucap Bima panjang lebar, ia hanya ingin membantu menenangkan Arga.


Tanpa disadari oleh Arga dan Bima jika seseorang di luar sana mendengar semua yang baru saja mereka bicarakan, karna pintu ruangan itu tidak tertutup dengan rapat.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like👍🏻


Komen


Favorit and Vote😉

__ADS_1


__ADS_2