Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 69 : Perasaan Ivan


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Arga terlebih dahulu mengajak Dira untuk mengunjungi cafe karna ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di sana.


Sepanjang jalan Arga hanya diam saja tatapannya hanya fokus ke jalan di depannya, bahkan sampai di cafe pun Arga masih tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan hal itu membuat Dira merasa tidak nyaman, karna sejak keluar dari rumah sakit Arga terus mendiamkannya, ia mengira kalau Arga masih marah padanya.


"Mas kamu masih marah sama aku soal yang tadi pagi," tanya Dira sambil menarik lengan baju Arga saat suaminya itu hendak turun dari mobil.


"Kenapa aku harus marah sama kamu sayang? ..." ucap Arga sambil menatap Dira.


"Lalu kenapa sejak keluar dari rumah sakit kamu terus mendiamkan ku Mas?" tanya Dira.


Arga tersenyum kearah Dira sambil mengelus


kepala sang istri. "Aku sengaja diam agar kamu bisa istirahat selama kita di perjalanan sayang, bukan karna aku marah," bohong Arga pada Dira.


Sebenarnya Arga diam karna memikirkan semua penjelasan Bima tentang kondisi Dira yang semakin mengkhawatirkan. Ia tidak sanggup menatap istrinya saat keluar dari rumah sakit, karna saat melihat Dira bayangan bayangan buruk tentang Dira terus berseliweran di otaknya, dadanya terasa sesak ia idak akan sanggup jika harus kehilangan sang istri. Tapi Arga berusaha untuk tetap terlihat tegar di hadapan Dira seakan akan semuanya baik baik saja.


Arga merengkuh tubuh Dira ke dalam pelukannya sambil mencium puncak kepala Dira. "Maaf sayang jika aku membuatmu tidak nyaman," ucap Arga.


"Seandainya dokter masih belum bisa mendapatkan pendonor untukmu, aku rela jika harus memberikan jantung milikku untukmu sayang," batin Arga dengan posisi masih memeluk Dira.


Arga pun melepaskan pelukannya dan mengajak Dira masuk ke cafe sambil menggandeng tangan sang istri tercinta.


Dira yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa sangat bahagia, apalagi orang yang melakukannya adalah sosok yang selama ini sangat di harapkan olehnya.


"Aku sangat bahagia bisa di cintai dengan begitu besar oleh mu Mas, bahkan jika ini adalah saat saat terakhirku aku sama sekali tidak menyesalinya," batin Dira sambil tersenyum menatap Arga yang berjalan di sampingnya.


Arga langsung membawa Dira ke ruang kerjanya yang sudah ia sulap seperti ruang peristirahatan yang terlihat begitu nyaman.


"Mas, kapan kamu merubah ruang kerjamu? Kenapa juga sampai ada tempat tidur segala, memangnya kamu bakalan nginep di sini?" tanya Dira sambil menunjuk ranjang kecil yang ada di sana.


Dira dibuat terpukau bercampur heran saat melihat ruang kerja Arga yang sudah seperti kamar tidur anak perempuan, bahkan warna catnya pun ia ganti dengan warna pink yang di kombinasikan dengan warna putih seperti kesukaan Dira.

__ADS_1


"Bagaimana apa kamu suka dengan tempat ini sayang?" bukannya menjawab pertanyaan Dira ia malah balik bertanya.


"Suka sih, tapi kenapa harus di dekorasi seperti ini Mas, jangan jangan kamu sengaja mendesainnya seperti ini, supaya kamu bisa nginep di sini, lalu kamu juga bisa membawa wanita lain ke sini," ucap Dira yang pikirannya mulai kemana mana.


Ctak!


"Aw! sakit Mas ..." teriak Dira sambil memegangi keningnya yang disentil Arga.


"Makanya jangan suka mikir yang aneh aneh, dari pada bawa wanita lain mending aku bawa kamu aja."


"Terus kenapa ruang kerja kamu diubah kayak kamar anak perawan? Kamu gak belok kan Mas? kamu masih lelaki tulen kan Mas, tidak berubah menjadi hello kitty?" lagi lagi Dira kembali dengan pikiran absurd nya.


Arga kembali mengangkat tangannya hendak memberikan sentilannya pada kening Dira, tapi sebelum hal itu terjadi Dira terlebih dahulu menutup keningnya.


"Aku tidak akan membiarkan kening berharga ku menjadi korban jari jari nakal itu lagi," ucap Dira sambil menutup keningnya agar terhindar dari sentilan Arga


Cup!


Arga yang tidak kehabisan akal untuk menghukum Dira, tanpa aba aba langsung mencium bibir Dira yang dibuat terpaku oleh serangan mendadak Arga, ia masih dengan posisi satu tangannya yang menutupi keningnya.


"Ish... dasar mesum," ucap Dira sambil mendorong Arga.


"Udah mending sekarang kamu istirahat, dan berhenti memikirkan hal yang tidak mungkin. Aku sengaja mengubah ruang kerja ini, agar kamu bisa istirahat dengan nyaman jika sewaktu waktu aku harus datang ke cafe."


"Apa itu artinya aku akan selalu ikut jika Mas kerja?" tanya Dira yang di jawab anggukan kepala oleh Arga.


"Mulai sekarang kamu harus selalu berada di dekatku, karna suamimu ini tidak akan bisa tenang jika harus jauh jauh dari istriku ini dan kamu tidak boleh protes soal itu," ucap Arga.


"Siap suamiku, tentu saja istrimu ini akan dengan senang hati untuk terus menempel di dekatmu," ucap Dira membalas ucapan Arga.


"Ya udah aku keluar dulu, ada yang harus aku bahas dengan Arka dan Ivan, silahkan kamu nikmati waktumu di ruang kerja suamimu ini," ucap Arga lalu mencium kening Dira sebelum keluar meninggalkannya.

__ADS_1


Sebenarnya Arga sudah dari jauh jauh hari mempersiapkan ruangan ini untuk Dira. Ia sangat khawatir dengan keselamatan istrinya saat mendengar kabar soal Elena yang sudah keluar dari penjara, dan bukan hanya itu ia juga takut jika sewaktu waktu Reno tiba tiba kembali menemui Dira, sementara untuk beberapa hari ke depan ia akan sibuk di cafe untuk mempersiapkan pembukaan cabang cafe miliknya di beberapa tempat, dan karna itu ia merombak ruang kerjanya agar lebih nyaman dan Dira tidak merasa bosan jika harus terus menemaninya bekerja.


"Loh, Lo sendirian Ka? Ivan Mana?" tanya Arka yang hanya mendapati Arka sendirian.


"Tadi sih katanya dia mau ke rumah sakit dulu, buat anterin titipan tantenya untuk Bang Bima," jawab Arka.


"Oh gitu, ya udah kalau gitu kita mulai aja bahas soal rencana pembukaan cabang di kota A," ucap Arga lalu mereka pun mulai meeting tanpa adanya Ivan.


โ€“


โ€“


โ€“


Sementara itu di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah taman yang berada di sekitar rumah sakit, terlihat seorang laki laki tampan yang sedang duduk di bangku taman dengan tatapan kosong, tanpa memperdulikan keberadaan orang orang yang ada di sekitar tempat itu.


"Aku gak akan pernah membiarkan kemungkinan terburuk itu terjadi padamu Anindira," gumam laki laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku pasti akan mencari cara agar kamu bisa sembuh, walaupun aku tidak bisa memiliki raga mu, tapi cintaku ini akan selalu menjaga dan melakukan yang terbaik untuk melindungi mu." gumam laki laki itu kembali, dan orang itu ternyata adalah Ivan.


Ya jadi laki laki itu adalah Ivan Sanjaya, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Arga dan Bima yang sedang membahas tentang kondisi Dira saat ia akan mengantarkan makanan yang di titipkan tantenya untuk Bima. Ia pikir penyakit Dira tidak seserius itu, ia merasa hatinya begitu sakit saat mendengar tentang kondisi Dira yang semakin hari semakin memburuk.


"Sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini Van? Apa kamu masih belum bisa melepaskan perasaan mu pada Dira?" tanya dokter Bima yang entah sejak kapan berada di samping Ivan.


"Entahlah, aku pun tidak tau sampai kapan perasaan ini akan berakhir," jawab Ivan tanpa mengalihkan pandangannya pada sepupunya.


Ternyata selama ini Ivan juga diam diam memiliki perasaan yang begitu dalam terhadap seorang Anindira putri.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like๐Ÿ‘๐Ÿป

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote๐Ÿ˜‰


__ADS_2