Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 60


__ADS_3

Di kampus.


"Ka, kita ke rumah sakit sekarang." ajak Ivan tiba tiba pada Arka.


"Ngapain? Emang siapa yang sakit?" tanya Arka.


"Dira," jawab Ivan sambil menghela napas berat. "Gue baru dapat telpon dari sepupu gue kalau Dira di rawat, dan kondisi Dira saat ini sangat mengkhawatirkan, ternyata selama ini Dira menyembunyikan fakta kalau dia sakit Ar, kata sepupu gue kondisi jantung Dira saat ini bermasalah Ar ..." ucap Ivan dengan suara lirih. Ia yang baru saja tiba di kampus mendapatkan telpon dari sepupunya yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit tempat Dira saat ini menjalani perawatan.


Arka sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Ivan kalau Dira sekarang berada di rumah sakit, yang lebih mengejutkan lagi ternyata Dira selama ini mengidap penyakit jantung.


"Kalau gitu kita harus segera ke sana, pantas saja Arga dari kemarin tidak bisa dihubungi, pasti ia sangat terpukul, belum lagi masalah foto itu," ucap Arka sambil menghela napas.


"Kalau soal foto dan artikel itu Lo tenang aja gue udah urus semuanya," ucap Ivan menimpali ucapan Arka.


"Apa maksud ucapan kalian barusan?" tanya Mita yang entah sejak kapan ia sudah berada di kelas, dan sepertinya ia juga mendengar apa yang baru saja di katakan Ivan.


Mita yang buru buru datang ke kampus untuk menemui Dira dan menanyakan soal foto yang tersebar di internet, karna dari kemarin Dira tidak bisa dihubungi, tapi ia malah di kejutkan dengan perkataan Ivan yang mengatakan kalau sahabatnya sedang dalam kondisi yang tidak baik baik saja.


"Arka! Jawab gue! Semua yang baru saja kalian katakan tentang Dira tidak benar kan?" tanya Mita.


"Gue juga sebenarnya kurang tau, tapi itu yang dikatakan sepupu gue yang kebetulan membantu menangani Dira." jelas Ivan pada Mita.


"Gue harus telpon Dira, gue yakin pasti sepupu Lo salah orang Dira pasti baik baik saja," ucap Mita sambil mencari ponselnya dengan tangan yang terlihat gemetar, bahkan matanya sudah mulai terlihat memerah.


Mita terus menghubungi nomor Dira, tapi ia hanya mendengar suara operator, karna nomor Dira tidak aktif.


"Arka Lo punya nomor ponsel Arga kan? Cepat hubungi dia lalu tanyakan soal Dira padanya," ucap Mita sambil menarik lengan Arka.


"Gue udah coba berkali kali tapi sama saja, Arga juga tidak bisa dihubungi Mit," ucap Arka.


"Kalau gitu kita ke rumah sakit aja," ucap Mita, dan ia pun beranjak meninggalkan Arka dan Ivan tanpa bertanya Dira ada di rumah sakit mana. Pikirannya saat ini benar benar kalut, ia teringat kembali dengan kejadian beberapa hari ini saat sahabatnya itu sering kali pingsan dan terlihat kesakitan.


"Gak mungkin, Dira gak mungkin sakit parah, ia pasti hanya sakit biasa," gumam Mita meyakinkan dirinya kalau apa yang baru saja di dengarnya tidak benar. Ia terus melangkah dengan cepat menuju mobilnya di parkiran.


Baru saja Mita hendak membuka pintu mobilnya, Arka tiba tiba datang dan menahannya.

__ADS_1


"Lepas Ar, gue gak ada waktu buat debat sama Lo, gue harus segera ke rumah sakit untuk memastikan semuanya," ucap Mita.


"Biar gue yang anterin Lo ke sana," ucap Arka sambil memegang lengan Mita.


"Nggak usah gue bisa sendiri," tolak Mita melepaskan tangan Arka dari lengannya.


"Mit, lihat gue," ucap Arka kembali menarik tangan Mita. "Biar gue yang bawa Lo ke rumah sakit, Lo nggak baik baik saja Mit itu sebabnya gue khawatir Lo bawa mobil sendiri, lagian Lo juga gak tau kan rumah sakit mana tempat Dira di rawat?" ucap Arka lalu mengambil kunci mobil dari tangan Mita.


Sepanjang perjalanan Mita masih berusaha untuk menghubungi nomor ponsel Dira, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


"Bagaimana kalau Dira benar benar sakit Ar?" tanya Mita.


"Apa pun kebenarannya nanti Lo harus tetap kuat Mit," jawab Arka sambil tetap fokus menyetir.


"Jika memang benar seperti yang dikatakan Ivan, Gue benar benar bodoh Ar, bagaimana bisa gue tidak tau kalau sahabat gue sakit, sungguh gue adalah teman yang buruk Ar," ucap Mita sesenggukan. Akhirnya air mata yang sajak tadi ia tahan keluar juga. Mita terus merutuki dirinya sendiri sambil terus memukul kepalanya.


Arka yang melihat hal itu pun langsung menghentikan laju mobil yang dibawanya.


"Kalau kamu mengatakan hal seperti itu, itu artinya Arga dan keluarganya adalah suami dan keluarga yang buruk, karna mereka juga tidak tahu apa apa tentang kondisi Dira selama ini," ucap Arka.


"Lo gak perlu menyalahkan diri Lo atau pun yang lainnya Mit," ucap Arka lalu membawa Mita ke dalam pelukannya.


"Menangislah, tapi setelah ini Lo tidak boleh memperlihatkan kesedihan Lo, terutama pada Dira, pasti itulah alasannya kenapa dia menyembunyikan penyakitnya pada kita semua, karna Dira tidak ingin membuat kita semua khawatir dan bersedih," ucap Arka berusaha menenangkan Mita yang semakin terisak dalam pelukannya.


Setelah Mita kembali tenang barulah Arka melepaskan pelukannya dan kembali melanjutan perjalanannya menuju rumah sakit.


Sepuluh menit kemudian mobil yang membawa Mita dan Arka telah sampai di rumah sakit tempat Dira di rawat, sesuai dengan yang dikatakan Ivan.


Sebelum mereka keluar dari mobil Arka kembali mengingatkan Mita. "Apa Lo udah agak tenangan Mit?" tanya Arka, yang dijawab anggukan oleh Mita.


"Ingat Mit, jangan sampai Lo menunjukkan kesedihan Lo di hadapan Dira apalagi sampai menangis, yang Dira butuhkan saat ini adalah dukungan orang orang sekitarnya, jadi jangan buat Dira menjadi merasa bersalah," Arka kembali mengingatkan Mita.


Begitu sampai di depan ruangan Dira, Mita langsung saja membuka pintu ruang rawat Dira. Alangkah terkejutnya Dira saat masuk ia malah di sambut dengan pemandangan sepasang suami istri yang terlihat sangat romantis di atas ranjang rumah sakit dengan posisi Dira yang bersandar pada dada bidang Arga sambil memeluknya.


"Dasar pasangan tidak tau tempat, di rumah sakit masih aja sempat sempatnya bermesraan," gerutu Mita sambil melangkah kearah ranjang Dira.

__ADS_1


Bukannya melepaskan pelukannya Dira malah semakin menelusupkan wajahnya pada tubuh Arga.


"Kalia bisa gak? Jangan memamerkan adegan romantis di hadapan kita yang jomblo ini," ucap Arka ikut menimpali.


"Istri istri gue," ucap Arga santai.


"Dir Lo gak mau jelasin sesuatu ke gue?" tanya Mita, membuat Dira melepaskan pelukannya pada Arga.


Arga pun turun dari ranjang dan duduk di sofa bersama Arka.


Dira bangun dari pembaringannya. "Mit ... maaf, sebenarnya gue sudah berencana untuk menceritakan soal penyakit gue ke Lo, beneran Mit gue beberapa kali ingin memberitahu Lo tapi–"


"Astaga ..." ucap Mita. Ia menatap Dira sambil memegang kedua bahu sahabatnya itu. "Kamu mau apa? Kamu mau makan apa? Apa yang mau kamu lakuin? Aku pasti akan melakukannya untukmu," tanya Mita yang tiba tiba merubah panggilannya menjadi aku kamu.


"Mit Lo buat gue merinding," ucap Dira sambil memegang kening Mita. "Normal nggak panas. Mita yang sakit kan gue tapi kenapa Lo yang jadi aneh," ucap Dira mengedikkan bahunya.


"Dir gue serius nanya Lo malah bercanda," kesal Mita.


"Habisnya Lo aneh banget. Gue tau Lo pasti khawatirkan, Lo tenang aja gue pasti bakalan baik baik aja, Lo kan tau sendiri gimana tangguhnya sahabat Lo ini," ucap Dira sambil tersenyum lebar kearah Mita, mununjukkn jika ia baik baik saja.


"Tapi bener juga yang dikatakan Mita barusan sayang, kamu mau apa? Atau mungkin ada tempat yang sangat ingin kamu kunjungi? Kamu bisa mengatakan semuanya, aku pasti akan melakukan semuanya untuk mu," ucap Arga yang sudah berada di samping Dira.


"Bener Mas kamu akan menuruti apa pun yang aku inginkan?" tanya Dira menatap Arga.


"Tentu saja," jawab Arga.


Dira tersenyum mendengar jawaban Arga.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa like👍🏻


Komen


Favorit and Vote😉

__ADS_1


__ADS_2