Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 44 : Nonton


__ADS_3

Setelah Mita melajukan mobilnya Arka pun tetap mengikuti mobilnya, ia ingin memastikan Mita benar benar sampai rumahnya dengan aman.


Berapa menit kemudian mobil yang dikendarai Mita telah sampai di depan gerbang rumahnya, tapi ia tidak langsung masuk karna melihat mobil Arka yang juga ada di depan komplek rumahnya.


"Lo masih ngikutin gue?" tanya Mita yang turun dari mobilnya dan menghampiri mobil Arka.


"Iya, Lo jangan salah paham gue hanya ingin memastikan Lo benar benar sampai rumah, takutnya nanti Lo bukannya pulang malah cari jembatan buat lompat," ucap Arka bercanda.


"Ish dasar, ngomong serius sama Lo memang sesuatu yang tidak mungkin terjadi," ucap Mita.


"Iya, karna yang serius itu hanya perasaan Abang buat Dedek Mita," ucap Arka mulai mengeluarkan gombalannya.


"Sumpah Ar, gue rasanya mau muntah denger Lo," ucap Mita lalu ia pun beranjak meninggalkan Arka, begitupun dengan Arka setelah memastikan Mita masuk ke rumahnya ia pun beranjak menuju cafe untuk menemui kedua sahabatnya.


*


*


Di cafe milik Arga, Dira yang baru saja selesai bantu bantu di cafe, langsung mengambil tas miliknya karna alarm di ponselnya sudah berbunyi yang menandakan ia harus segera mengonsumsi obatnya.


"Lo minum obat Dir?" tanya Ivan yang tiba tiba saja sudah ada di sampingnya.


"Eh, bukan ini cuma vitamin," jawab Dira yang dengan cepat memasukkan obat yang baru saja ia minum. Ia berusaha bersikap sesantai mungkin untuk menutupi kegugupannya, agar Ivan tidak curiga.


"Oh ... vitaminnya bagus gak? Gue juga mau dong," ucap Ivan, ia malah penasaran dengan vitamin yang di minum Dira dan ingin mencobanya.


"Enak aja minta, ini vitamin mahal, kalok Lo mau mending beli sendiri," ucap Dira.


"Lo pelit banget sih Dir ... lagian juga cuma vitamin doang bagi satu aja gak bakal buat vitamin Lo habis kan," ucap Ivan yang melihat stok vitamin Dira masih banyak.


"Pokoknya gak boleh."


"Kalian ributin apaan sih?" tanya Arga pada Dira dan Ivan.


"Nih bini Lo pelit banget gue minta vitamin satu aja gak dikasih," adu Ivan pada Arga.


"Lo kalau mau vitamin ya beli aja kenapa minta sama istri gue," ucap Arga.


"Ternyata suami istri sama aja," ucap Ivan.

__ADS_1


Arga tidak memperdulikan ucapan sahabatnya, ia malah asik memandang wajah Dira. "Sayang ayo kita pulang," ucap Arga sambil mengelus rambut Dira.


"Dasar bucin," gumam Ivan, tapi Arga sama sekali tidak memperdulikannya, tatapan matanya tetap fokus pada Dira.


"Kerjaan kamu udah selesai?" tanya Dira.


"Iya, ayo aku hari ini mau ngajakin kamu jalan jalan," ucap Arga lalu menggenggam tangan Dira.


"Van gue duluan ya ..." ucap Arga.


"Lo gak ada rencana buat ngajakin gue Ga?" tanya Ivan sebelum kedua orang itu beranjak.


"Nggak," jawab Arga singkat, lalu ia pun beranjak meninggalkan Ivan di cafe.


Ivan hanya bisa menatap punggung kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu dengan tatapan yang tidak terbaca. "Sikap Dira beberapa hari ini agak aneh, Gue yakin Dia pasti menyembunyikan sesuatu dari kita semua," gumam Ivan setelah kepergian Dira dan Arga.


"Semoga Lo beneran baik baik saja Dir ..." batin Ivan. Ia merasa kalau vitamin yang di konsumsi Dira bukan vitamin biasa.


"Lo kenapa Van?" tanya Arka yang melihat Ivan seperti sedang memikirkan sesuatu, ia baru saja tiba di cafe setelah memastikan Mita sampai di rumahnya dengan aman.


"Nggak ada, gue hanya lagi kepikiran soal Dira," ucap Ivan tanpa sadar.


"Lo yang pikirannya jangan aneh aneh, gue hanya berpikir kalau Dira menyembunyikan sesuatu dari kita, bukan ada maksud lain, emangnya Lo gak merasa aneh gitu dengan sikap Dira beberapa hari ini?" tanya Ivan pada Arka.


Arka yang mendapatkan pertanyaan dari Ivan terlihat berpikir dan mengingat ingat perubahan sikap Dira beberapa hari ini. "Iya juga ya, Van Dira nggak sedang mengidap penyakit keras, kan?" ucap Arka asal, tapi hal itu dianggap serius oleh Ivan.


"Jangan sembarangan, Lo kalok ngomong hati hati Ar," ucap Ivan tidak suka.


"Ya illah serius amat sih bro, gue cuma bercanda, lagian gak mungkin lah Dira punya penyakit seperti itu, mungkin ia hanya stres karna memikirkan tugas kampus doang," ucap Arka.


"Makanya lain kali jangan suka asal ngomong doang," ucap Ivan lalu beranjak meninggalkan Ivan.


*


*


Sementara itu di perjalanan pulang Arga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan tangan yang satunya tetap menggenggam tangan Dira.


"Mas, sampai kapan kamu akan terus menggenggam tanganku, lebih baik dilepas dulu, bahaya kalau kita pegangan tangan sementara kamu lagi nyetir," ucap Dira sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Arga.

__ADS_1


"Udah tenang aja, percaya sama aku, kalau kayak gini doang Aku udah jago," ucap Arga semakin menggenggam tangan sang istri dengan erat.


Dira hanya bisa geleng gelang kepala dengan tingkah suaminya itu dan membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Arga.


Lima belas menit kemudian.


Mobil yang membawa mereka berdua telah sampai di depan mall terbesar di kota ini. Arga pun segera turun dan mengajak Dira untuk masuk ke mall tersebut. Rencana hari ini ia akan mengajak Dira untuk nonton.


"Sayang kamu mau nonton apa?" tanya Arga pada Dira.


"Kamu aja yang pilih Mas, aku kurang tau film yang bagus, aku taunya hanya Drakor," ucap Dira, karna ia jarang sekali nonton di bioskop, ia lebih suka nonton Drakor lewat aplikasi.


"Beneran aku yang pilih ya, awas kamu jangan sampai protes," ucap Arga dan ia pun sengaja memilih film horor untuk mereka tonton. Ia berharap Dira akan menjerit ketakutan dan terus menempel dengannya.


Setelah mendapatkan tiketnya Arga dan Dira pun masuk ke bioskop, tapi sayangnya harapan Arga yang sudah membayangkan Dira akan menjerit ketakutan dan memeluknya benar benar di luar ekspetasinya. Dira sama sekali tidak terlihat takut, ia malah terlihat sangat menikmati film yang dipilihnya, bahkan di saat hantu hantu dalam film tersebut muncul Dira semakin terlihat memfokuskan pandangannya ke layar besar itu.


"Ternyata aku memilih film yang salah, seharusnya aku pilih genre romantis, ternyata istriku bukanlah seorang penakut," gumam Arga dalam hati. khayalannya tentang Dira yang akan menempel padanya benar benar ambyar karna Dira yang sama sekali tidak terlihat takut.


Beberapa menit kemudian film pun berakhir, Arga merasa iri melihat beberapa pasangan yang keluar dari bioskop terlihat ketakutan sambil menempel pada cowoknya, seharusnya Dira juga seperti itu, tapi Dira malah dengan hebohnya menceritakan soal film yang di tontonnya.


"Film nya kurang seru Mas, hantunya tidak terlalu menyeramkan," ucap Dira.


"Ha, tidak menyeramkan bahkan aku sendiri hampir tidak sanggup menontonnya sampai selesai," batin Arga.


"Ternyata kamu suka nonton hantu juga, aku pikir kamu cuma suka nontonin pria pria cantik itu," ucap Arga. Yang selalu mendapati Dira heboh saat menonton aktor aktor kesukaannya dari negeri ginseng itu.


"Iya, soalnya aku sama Mita kalau nonton di bioskop pasti selalu pilih genre horor," ucap Dira.


"Kalian benar benar aneh," ucap Arga, ia tidak habis pikir dengan selera istrinya itu.


"Kok aneh sih Mas," ucap Dira.


"Ya udah ayo, kita cari makan di tempat favorit aku," ucap Arga mengajak Dira untuk makan ke tempat yang sering ia kunjungi. Kemudian setelah itu Arga mengajak Dira untuk berbelanja sepuasnya, dan tentu saja Dira tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menguras isi dompet Arga.


Setelah puas berbelanja, Arga dan Dira memutuskan untuk pulang. "Sayang kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau ambil mobil di parkiran.


Saat ia sedang menunggu Arga mengambil mobil, tiba tiba saja seseorang yang tidak ingin di temui Dira muncul di belakangnya.


"Hai baby, akhirnya kita bertemu lagi," ucap seseorang yang terus mendekat kearahnya, membuat tubuh Dira menegang, kenangan buruk itu pun kembali muncul dalam ingatan Dira.

__ADS_1


Bersambung . . . . .


__ADS_2