Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 35 : Rumah baru


__ADS_3

"Arghh! Sial!" Elena melempar tas yang ia bawa ke sembarang arah begitu ia masuk ke kamarnya.


"Bagaimana mungkin si Dira bisa menikah dengan Arga, tidak ada yang boleh miliki Arga selain gue, gue gak akan biarin Dira bersama Arga, jika gue gak bisa maka Lo juga gak akan gue biarin untuk miliki Arga Anindira, Arga cuma pantas buat gue." Elena yang tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia lihat jika Arga dan Dira benar benar pasangan suami istri, ia pikir semua yang di bicarakan teman teman kampusnya hanya gosip saja karna ia tidak di kampus saat kakek Irwan mengumumkan tentang pernikahan mereka. Ia mengepalkan tangannya sambil tersenyum entah apa yang sedang ia rencanakan.


"Gue akan biarin Lo bersenang senang untuk saat ini Anindira,,," ucapnya dengan tersenyum misterius ke arah cermin.


*


*


Keesokan harinya Arga yang sudah terlebih dahulu bangun dan membersihkan diri terus memandangi wajah Dira yang masih terlelap, ia terus menciumi seluruh wajah Dira mulai dari kening, mata, hidung dan bibir.


Cup


"Sayang bangun, padahal aku belum membuatmu kelelahan tapi kamu sudah tidak bangun bangun," ucap Arga sambil mengusap usap bibir Dira yang basah karna ulahnya.


Dira yang merasa ada yang mengusik tidurnya menggeliat, ia mulai mengerjapkan matanya, begitu ia membuka matanya pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan Arga yang terlihat sudah segar sedang memandanginya sambil tersenyum padanya.


"Mas ... kamu udah bangun? Sekarang sudah jam berapa?" tanya Dira mengucek matanya dengan posisi duduk sambil meregangkan tubuhnya.


"Ini udah jam 8 sayang," jawab Arga.


"What! Jam 8, astaga aku kesiangan! Mas kenapa gak bangunin aku dari tadi,  kita pasti telat berangkat ke kampusnya aku juga belum masak buat sarapan kita," ucap Dira panik dan segera bangun dari atas ranjang.


Tapi baru saja Dira hendak beranjak ke kamar mandi, Arga langsung menarik tangan dira sampai terjatuh ke pangkuan Arga dan melingkarkan tangannya ke pinggang Dira.


"Mas, lepasin aku harus siap siap nanti–"


Cup!


Arga mencium Dira sebelum melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu lupa sekarang hari apa? Sekarang hari libur sayang dan kita sedang berada di hotel," ucap Arga.


Dira pun memperhatikan sekitar kamar tempatnya saat ini. "Astaga, aku sampai lupa," ucapnya menepuk keningnya.


"Kamu mau makan sekarang atau mandi dulu?" tanya Arga.


"Aku mandi dulu aja mas," ucap Dira.


"Ya udah itu baju kamu ada di koper aku semuanya lengkap aku bawain," ucap Arga tersenyum nakal, sebelumnya ia sudah menyiapkan pakaian Dira.


"Mas kamu yang siapin semua pakaian aku?" tanya Dira yang melihat pakaiannya di koper lengkap dengan bagian dalamnya.


"Iya, masak aku suruh Devi yang siapin, kan gak mungkin," ucap Arga.


Dira berlari ke kamar mandi, ia benar benar malu membayangkan Arga melihat dan menyentuh pakaian dalamnya.


"Apa perlu aku bantuin kamu mandi sayang!" teriak Arga yang melihat Dira berlari ke kamar mandi.


"Isshh, Mas kok kamu tiba tiba jadi mesum," ucap Dira sebelum menutup pintu kamar mandi.


*****


Setelah membersihkan diri dan sarapan Arga dan Dira langsung bersiap untuk pulang.


Sebelum itu Dira menanyakan keberadaan tasnya.


"Mas kamu liat tas aku nggak?" tanya Dira begitu keluar dari kamar mandi, ia baru ingat dengan tas yang ia tinggalkan di kamar tempat ia dirias kemarin.


"Oh itu, ada di atas sofa," jawab Arga.


Dira mengambil tasnya di atas meja dan mengeluarkan sesuatu dan meminumnya.


"Kamu masih tetap minum vitamin itu?" tanya Arga yang melihat Dira meminum vitamin yang biasa ia minum akhir akhir ini.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Dira dan memasukkan obat itu kembali ke tas.


*****


Saat di jalan pulang Dira merasa heran dengan Arga yang membawanya ke arah berbeda dari arah jalan ke apartemen mereka.


"Mas kok kamu malah lurus? Apa kita akan pulang ke rumah Papa dan Mama?" yanya Dira.


"Enggak," jawab Arga singkat.


"Terus kenapa lurus, bukannya arah ke apartemen kita seharusnya belok kanan," ucap Dira.


"Udah kamu liat aja nanti," ucap Arga.


"Ih Mas, serius jangan bercanda sebenernya kita mau kemana? ke rumah Mama enggak, pulang ke apartemen gak mungkin ini bukan arah ke sana ..." ucap Dira.


"Rahasia," ucap Arga kembali.


"Isshh, kamu gak sedang ngerencanain ide dari Devi lagi kan Mas?" ucap Dira curiga yang hanya direspon dengan senyum oleh Arga.


"Ih kamu kok nyebelin sih Mas," ucap Dira dan ia pun tidak bertanya lagi.


*****


Setelah beberapa menit akhirnya Dira sampai di lingkungan perumahan tempat mertuanya tinggal, tapi Arga bukan mengajaknya masuk ke rumah orang tuannya, ia malah memasukkan mobilnya ke perumahan yang lainnya yang tidak jauh dari rumah orang tua Arga.


"Loh kok kita malah kesini Mas?" tanya Dira bingung.


"Ayo turun kita udah sampai," ucap Arga.


"Tapi ini rumah siapa Mas?" tanya Dira kembali.


"Ini rumah kita sayang," jawab Arga.


"Ha, rumah kita?" ucap Dira masih terlihat bingung sejak kapan rumah besar ini menjadi rumahnya meski tidak sebesar rumah mertuanya.


"Astaga sayang aku tidak setua itu sampai melupakan rumah tempat aku dibesarkan selama ini," ucap Arga.


"Tapi–"


"Udah, sebaiknya kita turun aja buat lihat lihat rumah baru kita," ucap Arga sebelum Dira kembali bertanya dan mengajaknya untuk keluar dari mobil.


"Mas, maksud kamu ini rumah kita, kita akan tinggal disini?" tanya Dira.


"Iya ini rumah kita sayang, aku sudah mempersiapkan rumah ini sejak aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaan aku ke kamu, sekalian sebagai hadiah pernikahan untuk istriku tersayang, kita akan memulai semuanya dari awal, mari membangun keluarga kecil kita di rumah ini, kita besarkan anak anak kita dan menua bersama ditempat ini," ucap Arga menatap mata Dira penuh cinta dengan penuh ketulusan.


Dira yang mendengar hal itu merasa bahagia, ia terharu dengan kata kata yang dilontarkan Arga tentang keluarga kecil yang bahagia.


"Terimakasih Mas," ucap Dira memeluk Arga, ia benar benar merasa bahagia dengan semua kejutan dan pengakuan Arga kepadanya, ia benar benar merasa diperlakukan sebagai ratu oleh Arga.


"Ayo kita masuk, kamu bisa lihat lihat mungkin ada yang tidak kamu sukai kita bisa menyuruh bagian interior untuk merubahnya," ucap Arga menggenggam tangan Dira untuk masuk ke rumah baru mereka.


Dira dibuat terpukau dengan desain rumah barunya, ini benar benar sesuai dengan seleranya Arga benar benar tau apa yang ia inginkan dan sukai.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Arga.


"Iya Mas aku suka, tidak terlalu mewah tapi terlihat elegan dan terasa nyaman mas," jawab Dira.


Saat Arga dan Dira sedang melihat lihat rumah baru mereka tiba tiba handphone Arga berdering ternyata mamanya menelpon.


"Hallo Ma," belum sempat Arga melanjutkan ucapannya, sudah disambut dengan suara mamanya yang mengomelinya.


"Kamu ke mana saja sih Ga? Katanya kamu sudah pulang dari hotel dan akan membawa Dira ke rumah, tapi kenapa kamu belum nyampe nyampe juga, cepet bawa mantu mama ke sini Mama juga mau buat perhitungan sama kamu karna sudah ngerjain mantu kesayangan Mama," ucap mama Arga mengomeli Arga di telpon.


"Iya Ma ... bentar lagi Arga sampai," ucapnya pasrah jika nyonya besar sudah mulai mengomelinya.

__ADS_1


"Ya udah cepetan!" ucap mama Arga yang tidak sabaran dan langsung mematikan sambungan telponnya.


"Itu Mama Mas?" tanya Dira setelah Arga selesai menelpon.


"Iya mertua kesayangan kamu nelpon supaya dibawakan mantunya, ayo kita harus segera sampai di rumah sebelum nyonya besar marah marah," ucap Arga dan mengakhiri acara lihat lihat rumah baru mereka.


Mereka pun sampai di kediaman keluarga Rahardian, dan langsung disambut oleh mama Arga.


"Assalamualaikum!" ucap Arga dan Dira.


"Wa'alaikumussalam ... akhirnya kalian sampai juga," ucap mama Arga langsung menyambut kedatangan mereka dan langsung memeluk Dira.


"Kalian kemana aja sih, kok lama benget sampainya? Arga gak apa apain kamu kan sayang? kalau dia minta jatah jangan dikasih dulu biar tau rasa udah ngerjain kamu," ucap mama Arga pada Dira, ia masih kesal dengan Arga karna acara kejutan kemarin membuat menantu kesayangannya menangis.


"Astaga Mama ... aku apa apain juga itu istri aku," ucap Arga.


"Isshh, emang dasar kamu ya," ucap mama Arga sambil menjewer kuping Arga.


"Aw,! sshh ... mama sakit sebenarnya anak Mama aku atau Dira sih?" ucap Arga berusaha melepaskan telinganya yang masih dijewer.


"Iya, memang dulu waktu kecil kamu mama pungut di tong sampah," ucap mama Arga.


Sementara Dira hanya tersenyum melihat perdebatan antara ibu dan anak itu setiap kali mereka bertemu.


"Udah ma, bukannya semalam katanya Mama kangen sama Arga," ucap papa Arga menghentikan keributan antara ibu dan anak itu.


"Isshh, papa sama aja kayak anak papa," ucap mama Arga.


"Iya Ma lepasin, Mama mau lihat Arga balik ke apartemen bawa mantu mama?" ucapnya.


Mama Arga akhirnya melepaskan jewerannya pada telinga Arga. "Makanya kamu harus sering sering ke sini, sebelum pindah kamu, kan udah janji," ucap mama Arga.


"Iya ma, maafin Arga ya, Mama gak mau peluk aku? Bukannya kata papa mama kangen sama aku?" ucap Arga dan mama Arga langsung memeluk anak semata wayangnya itu dengan sayang.


"Ra mending kamu temenin papa nonton acara bola, di sini papa dicuekin," ucap papa Arga pada Dira yang melihat Arga dan istrinya masih berpelukan.


"Gak bisa! Dira bakalan temenin mama buat kue," ucap mama Arga melepaskan pelukannya pada Arga.


"Eh, gak bisa gitu dong Ma, aku mau berduaan sama Dira di kamar," ucap Arga menarik tangan Dira.


"Udah mending kamu temenin Papa nonton bola, hari ini Dira punya Mama," ucap mama Arga dan membawa Dira ke dapur untuk mencoba resep kue yang baru ia dapat.


Arga pun pasrah dan membiarkan mamanya memonopoli istrinya hari ini.


*****


Malam harinya Dira dan Arga menginap di rumah orang tuannya, karna permintaan mama Arga yang masih ingin bersama Dira.


Setelah menemani mama mertuanya Dira pun masuk ke kamar, sementara Arga masih membicarakan soal pekerjaan bersama papa mertuanya. Dira yang mendapatkan telpon dari seseorang beranjak ke balkon kamarnya.


Dira diam sejenak mendengarkan orang di sebrang sana.


"Iya saya sudah meminumnya dengan rutin, sesuai dengan resep yang anda berikan," jawab Dira pada si penelpon.


Dira menghembuskan nafasnya perlahan sambil memejamkan matanya setelah sambungan telponnya dimatikan, ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit diartikan, entah apa yang ia pikirkan.


"Apakah aku bisa melewati semua ini kembali?" ucap Dira menatap langit yang terlihat cerah malam ini.


Bersambung . . . . . .


JANGAN LUPA DI LIKE👍🏻


Komen dan favorit juga ya😉


Mampir juga kesini yuk

__ADS_1



__ADS_2