
Pagi hari
Dira yang sedang menyiapkan pakaian untuk Arga di buat kaget ketika tiba tiba Arga memeluknya dari belakang.
Arga melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Dira sambil terus mencium lehernya.
"Mas lepasin kamu pake baju dulu," ujar Dira yang melihat Arga masih bertelanjang dada mengingatkannya dengan kejadian semalam.
"Kenapa sayang, apa kamu malu?" ucap Arga kembali menciumi leher dan rambut Dira yang masih setengah basah itu.
"Mas, geli sebaiknya kamu pakai baju dulu, lalu kita turun pasti Mama dan Papa udah nungguin,"
"Nanti aja, aku masih kangen sama kamu,"
"Astaga Mas jangan lebay, udah mending sekarang kamu pakek baju dulu, kamu hari ini gak ke kantor kan, jadi mending sekarang lepasin aku, peluk peluknya nanti aja Mas, gak sopan biarin orang tua nungguin kita," Dira berusaha melepas pelukan Arga.
"Biarkan saja, bagaimana kalau kita tunda dulu sarapannya kita ulangi yang semalam. Arga menggoda Dira, ia begitu gemas melihat pipi merah istrinya ketika malu malu.
"Ih,,, Mas jangan mesum, cepat pakai baju," ucap Dira yang sudah lepas dari pelukan Arga dan langsung beranjak meninggalkan Arga di kamar.
"Gemes," gumam Arga segera menggunakan pakaian yang telah disiapkan Dira dan menyusulnya.
Setelah selesai sarapan Dira mengantar Arga ke depan. Rencananya untuk mengajak Dira jalan jalan berdua gagal gara gara sang papa yang memintanya untuk menggantikannya menemui klien.
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya, padahal aku hari ini maunya berduaan sama kamu di kamar membuat anak anak yang lucu, tapi papa lagi lagi malah nyuruh aku buat gantiin dia ketemu klien," ucap Arga lesu dan langsung mendapatkan cubitan dari Dira.
"Aw! Dakit sayang, kok aku di cubit?"
"Makanya jangan mikirin hal mesum terus,"
"Kan aku mesumnya cuma sama kamu."
"Udah gak usah ngeluh lagian itu juga buat kebaikan kamu Mas, makanya Papa minta kamu buat gantikan dia," ucap Dira sambil mencium tangan suaminya sebelum masuk mobil
"Ya udah aku berangkat, awas jangan kangen," ucap Arga tersenyum sambil mencium kening Dira.
__ADS_1
Dira tersenyum bahagia mengingat semua perlakuan Arga padanya, ia masih merasa semuanya seperti mimpi ia bisa bersama dengan laki laki yang ia cintai.
*****
Sementara di rumah Elena terjadi keributan karna Elena yang terus memberontak, ia yang baru bangun begitu kaget ketika tiba tiba dua orang polisi datang ke rumahnya dan membawanya dengan paksa dengan masih menggunakan piyama tidurnya. Kedua orang tuannya pun pasrah membiarkan putri mereka dibawa ke kantor polisi setelah membaca surat penangkapan yang disodorkan petugas kepolisian.
"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan, Ma ... cepat suruh orang orang ini melepaskan ku!," teriak Elena yang terus berontak agar ia dilepaskan.
"Mama, Papa tolongin aku! Aku gak mau dipenjara, aku ngelakuin semua ini karena seseorang ingin merebut miliki ku!" Teriak Elena terus memberontak, sementara kedua orang tuanya terlihat tak bergeming, seolah olah tak perduli dengan dirinya yang akan dibawa pergi kedua polisi tersebut.
"Kalian sepertinya benar benar tidak pernah mempedulikan ku," batin Elena yang tanpa sadar meneteskan air matanya ia pun berhenti memberontak dan masuk ke mobil polisi.
Kedua orang tuannya hanya bisa menghela napas melihat tingkah putrinya itu dan membiarkan saja putrinya dibawa petugas kepolisian, lagi pula mereka berpikir jika ada pengacara yang akan mengurus semuanya nanti.
Setelah kepergian kedua polisi yang membawa putrinya papa dan mama Elena masuk ke dalam rumah, perempuan paruh baya itu mulai menggerutu.
"Lihat lah kelakuan putri mu itu selalu saja membuat masalah," ucap mama Elena dengan tatapan sinis kepada suaminya.
"Dia seperti itu karena kamu sebagai seorang ibu kurang memberikan perhatian padanya," ucap papa Elena.
"Kenapa setiap kali Elena membuat masalah Papa selalu menyalahkan mama?" ucap mama Elena yang tidak terima disalahkan atas sikap putrinya.
"Sudahlah mama malas ribut, sebaiknya Papa cari pengacara secepatnya untuk membantu Elena bebas, aku tidak ingin gara gara putrimu itu malah merusak nama baik keluarga kita," ucap mama Elena dan pergi meninggalkan suaminya.
Papa Elena hanya bisa menghela napas melihat istrinya bukannya memikirkan nasib Elena tapi ia malah mementingkan dirinya sendiri.
*****
Di kantor Arga yang baru saja selesai menemui klien, mendapatkan telpon dari Rangga yang mengabarkan jika Elena sudah berada di kantor polisi, ia bernapas lega karna perempuan gila itu akan mendekam di penjara.
"Tapi tetap awasi dia dan keluarganya, gue yakin mereka pasti akan melakukan cara licik untuk membebaskan putrinya," pinta Arga pada Rangga.
"Baik Ga," ucap Rangga diseberang sana.
"Makasih bang udah selalu bantu gue," ucap Arga sebelum mengakhiri sambungan telponnya.
__ADS_1
"Lo sudah mengusik orang yang salah Elena," gumam Rangga tersenyum sinis setelah Arga memutuskan telponnya.
*****
"Bagaimana keadaan kamu sayang, kamu baik baik aja kan? kamu gak ada yang luka kan Ra?" tanya mama Dira, ia langsung datang menemui putrinya ketika mendapatkan kabar dari besannya tentang kejadian kemarin.
"Iya Ma, Dira baik baik aja," jawab Dira tersenyum.
"Oh iya kata Mita kamu juga pernah pingsan sebelumnya, kamu beneran baik baik saja kan Nak? Beneran gak ada yang sakit?" Mama Dira yang terlihat mulai khawatir ia takut jika Dira kembali seperti dulu.
"Iya Ma Dira beneran baik baik aja, Mama bisa lihat sendiri kalau Dira bener bener udah sehat," ucap Dira meyakinkan mamanya.
"Kamu harus janji untuk kasih tau mama kalau kamu merasakan sesuatu di jantung kamu hm,,,," ucap mama Dira lembut sambil mengusap kepala Dira yang dibalas anggukan oleh Dira.
Mama Dira membawa Dira ke dalam pelukannya, Dira dapat merasakan pelukan sang mama yang begitu erat seolah oleh takut ia akan pergi dan terus menciumi kepalanya.
Setelah kepulangan mamanya Dira termenung memikirkan kondisinya, akan kah ia bisa sembuh, tuhan pernah memberikannya kesempatan sekali apakah masih ada kesempatan untuk kali ini ia bisa sembuh.
"Sayang ..." Arga langsung menghampiri Dira dan duduk di samping istrinya yang terlihat sedang melamun.
"Apa yang kamu lamunkan sayang? Kenapa akhir akhir ini istri ku sering sekali terlihat melamun? Apa ada yang mengganggu pikiran mu, hm?," ucap Arga sambil menatap mata Dira.
"Aku sedang memikirkan masa depan kita sayang," ucap Dira tersenyum manis ke Arga.
"Benarkah?" tanya Arga yang dijawab anggukan oleh Dira.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita, mulai merancang masa depan kita sekarang," ucapnya dengan senyum mesumnya.
"Ha, merancang masa depan?" Dira yang masih bingung dengan ucapan Arga.
Arga yang melihat Dira masih bengong mengangkat tubuh Dira dan membaringkannya ke ranjang.
"Ayo kita melakukan sesuatu yang berpahala," ucap Arga mengungkung tubuh Dira dan mencium keningnya.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE๐๐ป
Komen dan favorit juga ya๐