Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 64 : Kekesalan Dira


__ADS_3

Sementara itu Mita yang baru saja sampai di kampus, malah melihat pemandangan yang membuat hatinya kembali merasakan sesak. Terlihat Vino yang mengantar kekasihnya dengan penuh perhatian membukakan pintu mobil untuk Tiara, bukan hanya itu Vino juga tanpa sungkan mencium bibir Tiara di parkiran sebelum dia benar benar pergi dari kampus.


"Astaga padahal gue sudah belajar untuk melepaskan perasaan gue, tapi ternyata itu sangat sulit, kenapa rasanya masih sesakit ini melihat kemesraan mereka," gumam Mita yang masih belum keluar dari mobilnya.


"Ayolah Mita Lo bukan gadis cengeng, Vino hanya sahabat Lo, jadi Lo harus relakan perasaan Lo karna dia sudah menemukan orang yang ia cintai," gumam Dira sambil menepuk dadanya pelan, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya dan meratapi nasib cinta sepihaknya.


Setelah merasa perasaannya sudah lebih baik barulah ia keluar dari mobilnya.


*


*


Beralih ke Dira dan Arga yang baru sampai di kampus setelah melewati banyak drama karna kecerewetan Arga, ia bahkan mengalahkan cerewetnya mama Dira.


Arga membukakan pintu mobil untuk Dira dan melangkah melewati mahasiswa lainnya sambil terus menggenggam tangan sang istri tanpa memperdulikan tatapan orang orang di sekitarnya yang sangat iri melihat keromantisan mereka, terutama para wanita yang sangat mengidolakan Arga, mereka merasa Dira sangat beruntung bisa menjadi pendamping dari pria tampan dan sempurna seperti Arga, bahkan beberapa dari mereka dengan terang terangan mengatakan rela kalau harus menjadi yang kedua untuk Arga.


Bahkan Dira sampai ingin menyumpal mulut gadis gadis itu dengan sepatunya saat mereka terus mengagumi suaminya, tanpa menghiraukan dirinya yang merupakan istri Arga.


"Wah bagaimana bisa ada orang setampan itu ... ."


"Seandainya Arga butuh selingan, aku rela jadi simpanannya."


"Aku juga mau jadi istri keduanya."


"Arga semakin cuek semakin terlihat keren, apalagi kalau sampai dia tersenyum."


Dira memutar bola matanya malas mendengar pujian pujian yang di tujukan untuk suaminya, sementara Arga tetap terlihat cuek. "Mas bisakah kamu kurangi sedikit saja ketampanan mu itu?" tanya Dira.


Arga mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan istrinya. "Maksud kamu?"


"Coba kamu lihat para gadis gadis itu, mereka dari tadi terus menatap mu dengan tatapan lapar, bahkan mata mereka seperti akan copot saat melihat suami orang," ucap Dira kesal.


"Lalu?"

__ADS_1


"Gak ada," jawab Dira cemberut.


"Ya udah kalau gitu kamu masuk gih, aku juga mau bertemu dengan dosen pembimbing, nanti kalau udah selesai langsung hubungi aku, dan ingat jangan melakukan hal yang aneh aneh." peringat Arga sebelum Dira benar benar masuk ke ruangan dosen pembimbingnya.


Dira tidak menjawab ucapan Arga dan langsung masuk ke ruangan tersebut. "Dasar tidak peka," gumam Dira sambil melangkah masuk.


Arga yang melihat tingkah istrinya tersenyum samar, ia tau kalau istrinya itu sedang cemburu tapi ia sengaja pura pura tidak tau untuk menjahili Dira.


"Dasar gengsian, apa susahnya kalau cemburu tinggal bilang aja, malah ngambek. Tapi dia terlihat sangat menggemaskan saat cemburu seperti itu," gumam Arga lalu segera beranjak dari sana setelah melihat sang istri masuk.


Kegiatan bimbingan kali ini juga berjalan lancar seperti hari hari sebelumnya, hanya ada beberapa saja yang harus di revisi oleh Dira. Kekesalannya pada Arga masih belum reda, apalagi saat ia melihat Arga sedang duduk di dekat lapangan bersama kedua temannya, tapi bukan itu yang membuatnya kesal, melainkan tatapan para wanita yang tidak pernah lepas dari suaminya. Ia sampai tidak menyadari Mita tengah memanggilnya.


"Wah kenapa banyak sekali perempuan yang ingin menjadi pelakor? Gue masih hidup aja mereka tanpa tahu malu berniat untuk mendekati suami gue, gimana kalau gue udah gak ada," gumam Dira.


"Dir ..." panggil Mita begitu melihat sahabatnya, tapi Dira tidak menjawabnya.


"Anindira!" panggil Mita kembali dengan suara yang lebih keras dan barulah ia mendapatkan jawaban.


"Apaan sih Mit? Teriak teriak Lo mau buat kuping gue budek," ucap Dira masih dengan sedikit kekesalannya.


"Gue lagi kesel Mit," jawab Dira.


"Kesel kenapa?" tanya Mita bingung.


"Coba deh Lo liat, mereka bener bener kegatelan banget, udah tau suami orang masih aja di pelototi." Dira menunjuk Arga dan beralih ke gadis gadis yang sedang menatap Arga.


"Astaga Dira Lo kayak gak tau Arga aja, kan itu sudah menjadi hal biasa Dir, dari dulu juga Arga memang selalu menjadi pusat perhatian para gadis gadis di sekitarnya."


"Tapi sekarang kan Arga udah punya istri, seharusnya mereka gak ngelakuin hal itu dong, kecuali mereka memang tidak punya malu," kesal Dira.


"Udah gak usah terlalu di pikirkan, lagi pula Arga juga gak merespon satu pun dari mereka. Gak usah kesel kayak orang PMS aja lo gak biasanya kayak gini," ucap Mita heran.


"Bete gue," ucap Dira.

__ADS_1


"Dari pada Lo bete mending sekarang kita ke kantin aja, udah lama kita gak menikmati makanan makanan yang ada di kantin," ucap Mita lalu menggandeng lengan Dira.


Sementara itu Arga dan kedua sahabatnya sedang membahas soal Vidio klarifikasi dua hari yang lalu.


"Tapi gue penasaran siapa orang yang sudah membaur orang itu mengakui perbuatannya, gak mungkin kan dia tiba tiba melakukan hal itu karna keinginannya sendiri," ucap Arga.


"Gue yang sudah membuatnya mengaku dan menyuruhnya untuk membuat Vidio klarifikasi itu," jawab Ivan santai.


"Lo serius Van?" tanya Arka yang di jawab anggukan oleh Ivan. Entah kenapa ia tiba tiba merasa was was, ia takut sahabatnya akan saling salah paham.


"Sorry Ga gue ngelakuin hal itu tanpa meminta persetujuan Lo terlebih dahulu, gue hanya ingin membantu saja karna gue tau Lo pasti masih fokus dengan kondisi Dira. Gue cuma takut kalau terlalu lama dibiarkan itu akan berdampak buruk untuk Dira, gue sama sekali gak ada maksud lain," jelas Ivan.


"Santai aja Van gue percaya sama Lo, makasih udah bantuin gue Van," ucap Arga.


"Sama Ga, Lo juga selama ini banyak bantuin gue," jawab Ivan sambil tersenyum.


"Lo ucapin makasih cuma sama Ivan doang Ga?"


"Iya makasih juga buat Lo Arka."


"Gue bener bener terharu," ucap Arka sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Arga dan Ivan, tapi kedua sahabatnya malah menghindar.


"Gak usah mulai Arka, jijik gue," ucap Ivan mengediikkan bahunya.


"Gue mau cari istri gue dulu, mending kalian berdua saling peluk mumpung sama sama jomblo," ucap Arga lalu ia pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


"Ih, ogah gue, sorry Ga gue masih normal, Ka mending Lo cari target lain ya jangan gue," ucap Ivan dan ikut melangkah menyusul Arga.


"Dasar teman kampret, kalian pikir gue cowok jadi jadian!" teriak Arka yang sudah dibuat kesal oleh kedua sahabatnya.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa like👍🏻

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote😉


__ADS_2