
Tidak terasa sudah satu bulan usia pernikahan Arga dan Dira. Sejak Arga menyatakan cinta pada Dira, Arga selalu perhatian dan bersikap manis pada dira, ia juga sudah tidak segan segan menunjukkan bentuk perhatiannya di depan umum dan hal itu membuat Dira merasa begitu dicintai.
Tapi beberapa hari ini Dira merasa sikap Arga padanya mulai berubah, Arga kembali bersikap cuek dan dingin padanya, beberapa hari ini ia juga selalu keluar rumah tanpa memberitahu Dira ia akan pergi kemana seperti biasanya dan ia selalu pulang larut malam, padahal baru satu minggu yang lalu Arga mengatakan cinta padanya.
Hal itu menimbulkan rasa curiga pada hati Dira, ia merasakan sesak di dadanya dengan sikap Arga beberapa hari ini, ia merasa pernyataan cinta Arga padanya hanya bualan semata untuk mempermainkannya.
Seperti pagi ini Arga yang terus mendiaminya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari handphonenya. Dira yang sudah tidak tahan akhirnya mulai mengeluarkan suaranya.
“Mas aku ada salah ya?” tanya dira sambil menahan rasa kesal.
“Nggak ada,” Jawab Arga yang tetap fokus dengan handphone ditangannya.
“Mas aku ngerasa sikap kamu beberapa hari ini berubah,” ucap Dira menahan rasa sesak.
“Itu cuma perasaan kamu doang,” ucap Arga tanpa melihat Dira.
“Itu bukan cuma perasaan aku doang Mas, bahkan sebelum Mas menyatakan cinta ke aku, sikap Mas tidak sedingin ini, apa pernyataan cinta kamu seminggu yang lalu hanya bualan saja bukan karna kamu benar benar mencintai aku, mungkin itu juga alasan kamu belum pernah menyentuhku kamu hanya ingin mempermainkan perasaan aku kan Mas?” ucap Dira sambil menahan air matanya yang melesak ingin keluar.
“Aku tidak ingin ribut dengan mu, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini, sebaiknya kamu tenangkan diri kamu aku akan pergi dan pulang malam," ucap Arga lalu beranjak keluar apartemen meninggalkan Dira.
Dira hanya diam mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, melihat kepergian Arga, air mata yang sudah ia tahan dari tadi akhirnya keluar tanpa bisa ditahan lagi, Dira duduk dilantai sambil meremas dadanya yang terasa sesak, Dira yang semakin merasakan sakit di dadanya segera ke kamar mencari obat yang biasa ia minum beberapa bulan ini.
Setelah meminum obat tersebut Dira yang sudah merasa baikan kembali berucap. "Mungkin Mas Arga memang sedang banyak pekerjaan, aku saja yang terlalu sensitif mungkin karena aku lagi kedatangan tamu bulanan ku," ucap Dira berusaha berpikir positif.
"Bukankah itu lebih baik jika Mas Arga tidak benar benar mencintaiku, jadi suatu saat jika sudah waktunya aku pergi Mas Arga tidak perlu menangisi kepergian ku dengan begitu ia akan tetap menjalankan hidupnya dengan baik tanpa bayang bayangku" Gumam Dira kembali sambil tersenyum dan menghapus air matanya, entah apa maksud dari ucapannya itu.
Sementara Arga yang baru saja masuk ke mobilnya menerima telpon dari seseorang.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Arga pada orang yang menelponnya.
"Awas aja kalau sampai gagal, Lo harus tanggung jawab, gue gak tega liat dia," ucap Arga kembali.
Sementara si penelpon tersebut hanya menanggapi ucapan Arga dengan tertawa geli.
Arga pun melajukan mobilnya setelah mematikan sambungan telponnya.
*
__ADS_1
*
Dira yang membutuhkan teman untuk diajak cerita akhirnya memutuskan untuk menelpon Mita, tanpa menunggu lama sudah terdengar suara mita di sebarang sana.
"Hallo Dir," jawab Mita di sebrang sana.
"Hallo Mit, Lo lagi dimana? Lo gak lagi sibukkan?" Lo bisa kesini nggak?" tanya Dira.
"Sorry Dir, kayaknya gue gak bisa, gue lagi temenin nyokap gue arisan nih." jawab Mita.
"Iya udah, gue pikir Lo lagi gak ada kegiatan," ucap Dira.
"Iya, tapi Lo gak papa kan?" tanya Mita merasa tidak enak dengan sahabatnya.
"Iya gak papa, ya udah kalok gitu Lo lanjutin aja dengerin ocehan para emak emak rempong disana, siapa tau aja nanti ada yang nawarin Lo jadi mantunya kan lumayan Lo gak jomblo lagi," ucap Dira terkekeh.
"Kurang ajar Lo, mentang mentang udah dapat cintanya Arga Lo malah ngeledekin gue," ucap Mita.
"Cinta ..." gumam Dira nyaris tak terdengar.
"Ha, Lo ngomong apa barusan?" tanya Mita yang mendengar Dira seperti menggumamkan sesuatu.
Mita gak bisa kesini, mending pergi jalan jalan aja, udah lama juga aku gak pergi belanja dari pada di rumah otak ini pikirannya negatif terus, jalan jalan di mall sendiri sepertinya bukan ide yang buruk," ucap Dira lalu beranjak ke kamar untuk bersiap siap.
Setelah mengirim pesan ke Arga untuk memberitahunya jika ia akan keluar rumah, ia pun langsung pergi ke tempat tujuan dengan menggunakan taksi online.
Dira benar benar menikmati waktu sendirinya dengan berkeliling mall, mulai dari nonton, makan dan kali ini ia bukan hanya sekedar melihat lihat barang yang ada disana.
"Saatnya mempergunakan kartu ajaib dari suami dengan benar," ucap Dira mengeluarkan kartu yang diberikan Arga.
"Hari ini aku bakalan jadi istri yang boros, pusing pusing deh si Arga denger notif masuk di hpnya gara gara aku gesek terus ni kartu, siapa suruh buat aku kesal," gerutu Dira, ia benar benar terlihat semangat untuk menguras isi kartu ditangannya.
Anindira bukanlah tipe orang yang akan larut dalam kesedihannya, ia memiliki cara sendiri untuk melupakan kesedihannya dan ia akan kembali ceria seperti semula.
Saat ia sedang asik memilih barang yang ingin ia beli Dira merasa seperti ada seseorang yang mengawasinya, "Kok aku ngerasa kayak ada orang yang ngikutin aku ya?" ucap Dira sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Ah, sudahlah paling cuma perasaan aku aja gara gara sering nonton berita kriminal," gumam Dira menepis apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
Ia pun melanjutkan kegiatan belanjanya, sementara dua orang berpakaian hitam menggunakan masker yang tidak jauh dari tempat Dira tersenyum misterius.
"Sepertinya ia mulai menyadari keberadaan kita, kita harus bertindak cepat," ucap salah satu orang tersebut.
"Kita harus hati hati biar gak ketahuan, kita bisa kena marah kalau sampai rencana ini gagal," ucap orang yang satunya lagi.
Dira yang sudah merasa capek, akhirnya mengakhiri acara belanjanya.
"Ternyata capek juga," ucap Dira sambil membawa barang barang belanjaannya ke kasir.
Setelah membayar belanjaannya ia pun beranjak dari sana, saat ia sedang mampir di sebuah cafe dekat mall lagi lagi ia merasa seperti sedang di awasi.
"Disini gak ada yang aneh, tapi kok aku ngerasa seperti sedang diawasi, jangan jangan ada yang mau nyulik aku," ucapnya sambil celingukan melihat lihat sekitar cafe tersebut.
"Kok aku jadi parnoan kayak gini ya, apa karena aku udah nguras uang Arga makanya aku jadi ngerasa gak tenang," ucapnya kembali.
"Ah sudahlah, mending aku makan aja dari pada harus mikir yang enggak enggak," ucapnya dan melanjutkan makannya. Dira keluar dari cafe setelah menyelesaikan makannya, dua orang berbaju hitam terus memperhatikan Dira, mereka terlihat mencurigakan seperti merencanakan sesuatu, Dira yang melihat hal tersebut tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan mereka. Dira yang melihat taksi online yang di pesannya telah sampai ia pun langsung masuk, tapi ia dibuat kaget oleh dua orang berbaju hitam tadi yang malah ikut masuk ke taksinya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Dira kaget.
"Jalan!" ucap salah satu orang berbaju hitam dan diikuti oleh sopir taksi tersebut yang sama sama menggunakan baju hitam dan penutup wajah seperti dua orang disampingnya. Sepertinya supir taksi tersebut adalah komplotan dari kedua orang tersebut.
"Siapa kalian? Kenapa," belum sempat Dira melanjutkan ucapannya orang disampingnya menunjukkan foto kedua orang tuannya yang diikat dengan mata dan mulut ditutup.
Dira yang melihat hal itu menjadi panik. "Ikuti kami jangan banyak tingkah jika ingin kedua orang tua mu selamat dan serahkan hp milikmu!" ucap orang berbaju hitam tersebut.
Dira yang tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kedua orang tuanya langsung memberikan handphonenya, dan dengan pasrah mengikuti ke mana orang orang itu akan membawanya.
.
.
.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN AND FAVORIT😉👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻