Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 71 : Keributan di pagi hari


__ADS_3

Pagi ini penampilan Arga terlihat berbeda dengan menggunakan setelan kerjanya. Hari ini iya harus datang ke kantor papanya, karna sebentar lagi ia akan segera lulus jadi ia sudah di percaya untuk mengurus perusahaan milik keluarganya.


"Sayang hari ini aku cuma antar kamu doang ya ke kampusnya, nanti pulangnya kamu di jemput sama sopir papa," ucap Arga sambil merapikan jas yang ia gunakan.


"Iya Mas, lagi pula aku bisa pesan taksi atau nanti bisa minta diantar mita, gak harus di jemput sopir segala," jawab Dira setelah menggunakan liptint di bibirnya.


"Pokoknya kamu tidak boleh protes, kamu harus tetap di jemput sopir biar lebih aman, dan jangan lupa kamu harus hubungi aku setiap lima menit sekali, satu lagi jangan sampai lupa bawa obat kamu," ucap Arga dengan segala kecerewetannya.


"Kamu gak bercanda kan Mas? Masak aku harus telpon kamu setiap lima menit? Gimana kalau kamu lagi sibuk? Itu pasti akan menggangu pekerjaan kamu mas ..." protes Dira kembali.


"Aku serius dan kamu tidak perlu khawatir aku tidak akan terganggu dengan hal itu, kecuali kamu memang tidak ingin memberi kabar pada suami mu ini," ucap Arga.


"Iya, iya nanti aku bakalan kabarin, bila perlu setiap satu menit aku telpon dan chat," jawab Dira tidak lagi membantah ucapan Arga, dari pada nanti ia semakin dibuat ribet dengan kecerewatan suaminya yang hampir mengalahkan emak emak komplek.


"Bagus, kamu memang istri Soleha aku," ucap Arga sambil mengelus kepala Dira.


Dira sudah terlihat rapi dengan penampilan sederhananya, tapi tetap terlihat cantik dan berkelas.


"Sayang," panggil Arga kembali.


"Apa lagi sih Mas? ... ."


"Jangan cantik cantik nanti banyak yang suka sama kamu," ucap Arga lalu memeluk Dira dari belakang dengan ekspresi cemberut, dan jangan lupakan tangan nakalnya yang menjalar kemana mana.


"Jangan mulai deh Mas, tolong tangannya dikondisikan." Dira memukul tangan Arga yang sudah bertengger di dua benda berharga miliknya.


"Kok aku jadi pengen lagi ya sayang," bisik Arga di samping telinga Dira dengan nada yang dibuat sensual.


"Arga Rahardian!" teriak Dira yang menyebut nama Arga dengan lengkap.

__ADS_1


Arga langsung saja mengecup samping leher Dira, dan tertawa melihat kekesalan sang istri yang menurutnya sangat lucu, membuatnya semakin gemas dan ingin mengurungnya di rumah supaya tidak ada laki laki selain dirinya yang melihat istri cantiknya ini.


"Ish ... dasar nyebelin, pagi pagi udah buat orang kesel aja," ketus Dira, sementara Arga hanya cengengesan menanggapi kekesalan sang istri.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, jangan marah nanti cantiknya ilang loh sayang."


"Biarin," kesal Dira.


"Oh iya sayang, karna hari ini aku akan ke kantor papa dan bertemu klien, lalu setelah itu aku harus mengecek cafe sebentar, jadi mungkin aku pulangnya agak malam, nanti kamu tunggu aku di rumah mama aja biar lebih aman. Kamu gak keberatan kan?" tanya Arga.


"Iya tuan bawel," jawab Dira sambil geleng geleng kepala mendengar patuah panjang dari Arga.


Sebenarnya Dira masih saja merasa sedikit heran dengan sikap dan tingkah Arga yang sangat jauh berbeda saat dengannya dan saat bersama orang lain, terutama makhluk yang bernama perempuan, tapi ia sangat bersyukur akan hal itu, jadi ia tidak perlu khawatir kalau Arga akan macam macam saat di luar rumah, apalagi sampai tergoda oleh pelakor.


"Ingat rindunya di tahan dulu sampai aku pulang, karna rindu itu berat kamu gak akan kuat biar aku saja," ucap Arga malah mengeluarkan gombalan yang ada di salah satu film Indonesia yang pernah ia tonton.


"Aku kreatifnya cuma saat membuat kamu menjerit sepanjang malam saja sayang," ucap Arga kembali menggoda Dira sambil tersenyum mesum kearah tempat tidur.


"Dasar mesum!" teriak Dira, ia hampir saja melempari wajah tampan Arga dengan liptint yang ada di meja riasnya, tapi Arga sudah keburu lari keluar kamar meninggalkan Dira yang sedang kesal sambil tertawa.


Pagi ini mereka mengawali hari dengan keributan kecil yang dibuat Arga, mereka tertawa bersama, berusaha untuk melupakan segala kesedihan yang ada di hati mereka masing masing.


*


*


*


Sementara di tempat lain, Elena terlihat kesal dan marah sambil melempar sebuah testpack ke bak sampah kamar mandi. Beberapa hari ini ia selalu merasakan mual di pagi hari dan saat mencium beberapa jenis makanan, ia akan memuntahkan isi perutnya sampai tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga.

__ADS_1


Ia pun teringat kalau jadwal menstruasinya sudah lewat beberapa hari, dengan perasaan cemas ia pun memberanikan diri ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan dan pagi harinya ia mencoba menggunakan alat tersebut sesuai dengan petunjuk, benar saja hasilnya positif.


"Sial, bagaimana mungkin gue bisa hamil? Bukankah kami selalu melakukannya dengan cara yang aman?" gerutu Elena. Ia tidak menyangka hubungan terlarang yang selama satu bulan terakhir ini ia lakukan dengan Reno malah membuatnya hamil.


"Gue harus memastikannya terlebih dahulu, bisa saja alat tes kehamilannya tidak akurat, besok gue harus periksa ke dokter kandungan," gumam Elena, meyakinkan dirinya kalau alat itu bermasalah, ia tidak mungkin hamil karna Reno selalu melakukannya dengan menggunakan pengaman.


"Kenapa Lo lama banget di kamar mandinya?" tanya Reno dengan ekspresi yang terlihat kesal, ia mendekat kearah Elena. "Gue mau lagi," ucapnya hendak mencium bibir Elena, tapi tidak seperti biasanya Elena menolak keinginannya dan mendorong tubuhnya.


"Lo nolak gue?" tanya Reno semakin kesal dengan penolakan Elena.


"Kita sudah terlalu sering melakukanya, gimana kalau gue hamil?" tanya Elena.


"Lo gak bakalan hamil, bukankah gue selalu melakukannya dengan menggunakan pengaman," jawab Reno.


"Tapi bagaimana kalau hal itu beneran terjadi? Apa Lo akan bertanggung jawab?" tanya Elena kembali.


"Lo gak usah menanyakan sesuatu yang tidak penting, Lo pasti sudah tau jawabannya, karna perempuan yang pantas mengandung darah daging gue hanya Anindira. Udah cepat minggir gue mau ke kamar mandi," ucap Reno sambil mendorong tubuh Elena yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


Elena meremas ujung bajunya melihat perlakukan dan semua ucapan Reno yang seenaknya saja merendahkan dirinya. Reno tidak segan segan memakinya dengan kata kata kasar, dia selalu membandingkan dirinya dengan Dira, bahkan di saat ia sedang melayani laki laki itu di atas ranjang dia selalu menyebut nama Dira, seakan akan orang yang berada di bawah tubuhnya adalah Dira.


Mengingat semua itu membuat kebencian Elena pada Dira semakin bertambah berkali kali lipat. "Suatu saat gue pasti akan menyingkirkan wanita kampungan itu dan membuat Arga menjadi milik gue, setelah itu gue akan membalas semua perlakuan laki laki si al an itu," gumam Elena dengan tatapan penuh dendam sambil meremas kuat ujung bajunya.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa like👍🏻


Komen


Favorit and Vote😉

__ADS_1


__ADS_2