
Arga dan Dira telah sampai di kampus. Sebelum mereka turun dari mobil Dira memegang lengan Arga menghentikannya yang hendak keluar dari mobil.
"Mas kamu marah sama aku?" tanya Dira yang sudah tidak tahan dengan sikap Arga yang sejak tadi terus mendiamkannya, bahkan ia kembali terlihat dingin padanya dan hal itu membuat Dira sedih.
"Nggak, ya udah ayo kita turun," ucap Arga datar lalu keluar dari mobil, meninggalkan Dira.
Dira menghela napas melihat sikap Arga, ini semua juga salahnya seharusnya ia tidak mengatakan hal seperti itu, yang membuat Arga menjadi marah. Ia pun segera turun dari mobil menyusul Arga yang terus melangkah tanpa menunggu dirinya.
"Mas tunggu! Mas Arga!" panggil Dira sambil mengejar Arga. Ia tidak bisa membiarkan masalah kecil seperti ini terus berlarut ia harus menyelesaikannya dan meminta maaf pada Arga.
Arga yang mendengar panggilan Dira menyadari kalau sikapnya pada sang istri sedikit berlebihan, tidak seharusnya ia mendiamkan istrinya. "Astaga apa yang sedang aku lakukan," batin Arga merutuki dirinya. Ia pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik mendekat kearah Dira.
"Mas ... maaf," ucap Dira dengan napas ngos-ngosan setelah berhadapan dengan Arga. "Aku janji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi, tapi tolong jangan mendiamkanku, apalagi sampai kembali bersikap dingin padaku."
Bukannya menjawab ucapan Dira Arga malah langsung memeluk tubuh Dira, dan untungnya suasana di sekitar tempat itu masih sepi, jadi tidak ada yang melihat adegan peluk pelukan itu.
__ADS_1
"Maaf sayang, Mas tidak bermaksud bersikap seperti itu, aku terlalu takut kamu tinggalkan makanya aku tidak suka mendengarmu mengatakan hal hal seperti," ucap Arga mempererat pelukannya sambil menciumi puncak kepala Dira berkali kali.
"Iya Mas maaf ..." ucap Dira, ia membalas pelukan Arga tidak kalah erat, tapi suara seseorang tiba tiba mengagetkan mereka, membuat Dira mendorong tubuh Arga.
"Woy!" suara Arka menghentikan adegan romantis antara Arga dan Dira. "Kalian berdua bener bener tidak tau tempat ya, bisa bisanya peluk pelukan di kampus gimana kalau ada yang liat, terus mereka jadi pengen, kan kasian anak orang Ga, apalagi kalau yang liat jomblo." gerutu Arka panjang lebar.
"Ck, ganggu orang aja Lo Ar, bilang aja Lo iri pengen meluk dedek Mita kesayangan Lo," ucap Ivan menimpali ucapa Arka.
Sementara Arga hanya diam saja, ia tetap terlihat santai tanpa memperdulikan ucapan Arka sambil tetap menggenggam tangan Dira. berbeda halnya dengan Dira, ia merasa malu karna lagi lagi kepergok orang lain saat sedang bermesraan dengan Arga.
"Buset, gue dikacangin ... dasar pasangan bucin," ucap Arka menatap punggung Arga.
Ivan hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya. "Ya udah biarin aja, kan masih ada gue," ucap Ivan sambil mengedipkan matanya genit kearah Arka.
"Amit ... amit ... kenapa gue bisa punya teman satu pun gak ada yang bener ya, dua duanya sama sama aneh," ucap Arka bergidik ngeri.
__ADS_1
"Lo jauh lebih aneh dari kita berdua Ar ... dari pada Lo iri liat Arga sama Dira mending Lo lebih giat lagi buat dapetin Mita sebelum dia dimiliki pria lain, jangan sampai Lo nyesel setelah Mita menjadi milik orang lain," ucap Ivan yang ekspresinya tiba tiba berubah menjadi sendu, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Van, Lo masih belum bisa lupain dia ya? Sampai kapan Lo akan menutup hati Lo untuk cinta yang baru Van?" tanya Arka tiba tiba, entah siapa orang yang dimaksud Arka. "Lo harus bisa buka hati Lo untuk wanita lain Van, dia sekarang telah bahagia, kini saatnya Lo juga harus bahagia dan melupakan cinta terpendam Lo itu."
"Kenapa Lo tiba tiba bahas itu sih Ar, gue ingetin ini terakhir kalinya Lo bahas soal itu, terutama di depan Arga," ucap Ivan mengingatkan Arka, lalu beranjak meninggalkan sahabatnya itu.
Arka hanya bisa menghela napas. "Gue hanya nggak ingin Lo terus terusan menyiksa perasaan Lo Van," gumam Arga sambil menatap kepergian Ivan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
Favorit and Vote
__ADS_1