
Dira mulai terjaga dari tidur lelapnya setelah melewati malam panjang yang membuatnya sangat kelelahan, aktivitas semalam membuat tubuhnya terasa remuk, tapi ia tetap harus bangun untuk menjalankan kewajibannya pada sang pencipta.
Dira perlahan membuka matanya, ia menggeliat dan berusaha untuk memindahkan tangan Arga yang melingkar di atas perutnya.
"Mas bangun udah subuh," ucap Dira sambil menepuk nepuk lengan kekar Arga.
"Hem ..." Arga hanya berdehem dengan mata yang masih tetap terpejam.
"Mas Arga bangun ... tidurnya di lanjutin nanti setelah sholat subuh, ini udah jam lima pagi," Dira kembali membangunkan Arga.
"Hem ... ini jam berapa sayang?" ucap Arga dengan suara serak, sambil menggeliatkan tubuhnya dan mengusap-usap matanya yang masih terasa sangat berat untuk dibuka, ia berusaha sekuat tenaga melawan rasa ngantuk dan malas yang ia rasakan, ia menatap Dira yang berada di sampingnya lalu mencium pipinya dan tanpa mengatakan apa pun ia langsung mengangkat tubuh Dira lalu membawanya menuju kamar mandi.
"Mas lepasin aku bisa jalan sendiri! ..." jerit Dira yang terkejut karna ulah suaminya.
"Udah diam aja Mas yakin kamu tidak punya tenaga untuk jalan sendiri," ucap Arga tanpa memperdulikan Dira yang sudah memerah menahan rasa malu karna ulahnya itu.
"Mas kita bakalan mandi bareng?"
"Iya sayang untuk mempersingkat waktu," jawab Arga beralasan.
"Tapi jangan yang aneh aneh ya Mas, keburu waktu subuh kelewat," peringat Dira yang sudah mengetahui akal bulus suami mesumnya itu.
Arga tidak menanggapi ucapan Dira, ia hanya tersenyum penuh arti dan menurunkan tubuh Dira setelah menutup pintu kamar mandi.
"Sepertinya aku kalah lagi," gumam Dira pasrah karna mereka tidak sekedar mandi.
*****
Mentari bersinar dengan terang menandakan kalau waktu pagi telah tiba. Pagi hari diibaratkan sebagai awal dari sebuah lembaran baru, oleh karna itu harus dilalui dengan penuh semangat dan perasaan penuh syukur.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00, tapi Arga dan Dira sudah berkemas untuk pulang, sebenarnya ia ingin tinggal beberapa hari di tempat ini, tapi karna urusan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan jadi Arga terpaksa harus mengajak Dira untuk pulang pagi ini juga, apalagi dua sahabat tidak ada akhlaknya itu sejak pagi pagi buta sudah menghubunginya dan menyuruhnya untuk cepat pulang.
"Sayang kamu gak papa kan kalau kita harus pulang sekarang?" tanya Arga pada Dira.
"Iya gak papa Mas, lagian masih ada hari lain untuk kita berlibur lagi," ucap Dira tidak keberatan.
"Makasih sayang, di lain waktu aku akan membawa kamu ke tempat yang lebih indah dari ini, dan aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menggangu kita, dan semoga usaha kita semalam segera membuahkan hasil aku sudah tidak sabar memiliki bayi mungil yang lucu," ucap Arga lalu memeluk Dira yang duduk di sampingnya.
"Amin ..." ucap Dira mengaminkan ucapan Arga yang ingin segara memiliki buah hati.
__ADS_1
-
-
-
Sekarang Arga sudah tiba di cafe setelah terlebih dahulu mengantar Dira ke rumah dan ia juga beristirahat sebentar, oleh karna itu ia sedikit terlambat sampai di cafe.
"Lo lama benget sih Ga, kita berdua udah jamuran nungguin Lo di sini," protes Arka begitu melihat kedatangan Arga.
"Masih untung gue datang, seharusnya sekarang gue lagi menghabiskan waktu bersama istri gue, kalian berdua malah ganggu aja," ucap Arga yang malah protes balik.
"Dasar bucin, ini kan hari terakhir gue di sini Ga, nanti sore gue udah berangkat ke London emang Lo gak kangen sama gue Ga?"
"Gue masih normal, jangan godain gue," ucap Arga mengediikkan bahunya dengan ekspresi seolah olah ia jijik.
"Astaga Van kok Lo jadi gini, jangan jangan waktu Lo koma jiwa Lo ketukar dengan orang lain, jangan jangan yang ada di tubuh Lo bukan sahabat gue, tapi jiwa cewek centil yang kesasar," ucap Arka mulai dengan pikiran tidak masuk akalnya.
"Astaga," ucap Ivan menepuk keningnya. "Begini amat nasib gue punya dua orang sahabat satu pun gak ada yang bener, yang satunya dingin yang satunya lagi agak agak," ucap Ivan geleng geleng kepala.
"Sialan Lo Van," ucap Arka.
"Bukan kita berdua yang gak bener Lo nya aja yang semakin aneh," ucap Arga tidak mau kalah.
"Lo aja Ka," ucap Ivan dan Arga bersamaan lalu mereka pun tertawa bersama.
Empat bulan lalu Ivan yang sempat dinyatakan meninggal setelah mengalami koma selama beberapa hari tiba tiba saja detak jantungnya kembali saat alat alat yang menempel pada tubuhnya hendak di lepas, layar monitor yang tadinya menunjukkan garis lurus berubah menjadi bergelombang. Hal itu membuat dokter dan juga yang lainnya sangat terkejut sekaligus bersyukur, semua itu seperti keajaiban bagi mereka karna Ivan berhasil melewati masa krisisnya. Setelah sadar Ivan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya dan ia pun harus melakukan berbagai macam pengobatan sampai kondisinya dinyatakan benar benar pulih dan kini ia sudah bisa kembali hidup normal seperti sebelumnya.
Begitupun dengan Dira yang berhasil sembuh dari penyakit jantungnya setelah melakukan berbagai pengobatan, Arga sangat lega Dira bisa mendapatkan donor yang cocok tanpa harus kehilangan sahabatnya dan ia sangat mensyukuri itu. Kini istrinya sudah sembuh total dan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya walaupun Arga kadang-kadang masih sedikit protektif pada istrinya itu.
"Oh iya gue ke belakang dulu sebentar, kalian ngobrol aja, tapi awas kalau sampai ngomongin gue," ucap Arka beranjak meninggalkan arga dan Ivan. Sebenarnya ia sengaja membiarkan kedua sahabatnya mengobrol berdua untuk meluruskan semuanya yang berkaitan dengan perasaan Ivan selama ini pada Dira.
"Van Lo pergi bukan karna gue kan?" tanya Arga yang merasa kalau Ivan hanya ingin menghindarinya karna perasaannya pada Dira.
"Gak lah, gue pergi ke sana karna itu memang cita cita gue buat melanjutkan pendidikan di sana," jawab Ivan.
"Van gue ingin dengar langsung dari Lo sejak kapan Lo memiliki perasaan sama istri gue dan kenapa Lo gak pernah bilang?" tanya Arga.
Sebelum menjawab pertanyaan Arga, Ivan terlihat menghela napas. "Gue pertama kali bertemu Dira waktu gue masih berumur sembilan tahun, saat itu gue dan keluarga gue sedang liburan, waktu itu Dira nolongin gue saat gue tenggelam, dan Lo masih ingat kan kalau gue pernah cerita kalau gue hampir di culik saat SMP?" tanya Ivan sebelum melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Iya gue ingat dan Lo selalu menceritakan tentang tentang gadis penolong Lo itu ke gue dan Arka dan gadis itu adalah Dira?"
"Iya Dira adalah gadis penolong gue, dia sudah dua kali menyelamatkan nyawa gue dan sejak saat itu gue jatuh cinta pada Dira, dan gue sangat senang saat bertemu kembali dengannya disaat SMA dan ternyata dia satu sekolah dengan kita, tapi gue tidak sengaja mengetahui fakta bahwa Dira menyukai Lo dan begitu pun dengan Lo Ga, jadi gue memilih untuk mengagumi dan melindungi dia diam diam," cerita Ivan sambil tersenyum membayangkan masa masa itu.
"Bukannya Dira pertama kali nolongin Lo waktu Lo masih umur 9 tahun, terus kok Lo bisa mengenali istri gue setelah sekian lama?"
"Gue mengenali dia dari Kalung yang selalu ia gunakan, tapi entah kenapa waktu SMA gue cuma pernah liat Dira menggunakan kalung itu sekali," ucap Ivan.
"Jadi gitu awal cerita Lo jatuh cinta sama istri gue, tapi ingat Van sekarang Dira adalah istri gue, jadi Lo harus menghilangkan perasaan Lo itu, kalau Lo sampai berani macam macam sama istri gue, gue gak akan tinggal diam walaupun Lo sahabat gue," ucap Arga dengan tatapan dinginnya.
"Iya Lo tenang aja, gue bukan tipe orang yang suka merebut milik orang lain, apalagi itu istri sahabat gue sendiri, melihat Lo dan Dira bahagia aja itu udah lebih dari cukup buat gue," ucap Ivan merangkul bahu Arga.
"Ya ampun kalian berdua sweet banget sih ..." ucap Arka yang tiba tiba ada di belakang mereka.
"Ish ... Lo kenapa pegang pegang gue sih Van," Arga yang menyadari mereka saling merangkul langsung menepis tangan Ivan.
"Orang Lo juga ikutan nyentuh gue," ucap Ivan tidak ingin disalahkan.
"Udah gak usah berantem mending kita bertiga pelukan aja," ucap Arka menengahi.
"Jijik," ucap Arga dan Ivan bersamaan.
"Udah cukup gue bertemu dengan orang orang aneh, sekarang gue harus pulang buat mandi kembang biar gak ketularan aneh kayak kalian berdua, gue balik duluan kasian istri gue nungguin di rumah," pamit Arga pada kedua sahabatnya.
"Ga jangan lupa titip salam buat Dira, kutunggu jandamu," ucap Ivan bercanda.
"Gak akan gue sampaiin," ucap Arga lalu beranjak keluar dari kafe.
Ivan hanya tersenyum melihat kepergian sahabatnya. Sebenarnya kepergiannya untuk melanjutkan pendidikannya hanyalah alasan untuk menghindari Arga dan Dira, ia tidak bisa membohongi perasaannya karna sampai detik ini sosok Dira masih terukir di hatinya.
"Gue harap Lo bisa menjaga dan membahagiakan Dira, gue juga akan berusaha untuk melupakan Dira dan memulai lembaran baru," batin Ivan.
"Ayo Van kita juga balik aja, gak seru kalau cuma berdua doang," ajak Arka.
"Bilang aja Lo mau cepet cepet ketemuan sama Mita."
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
__ADS_1
Komen
Favorit and Vote😉