Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 75 : Bukan cinta


__ADS_3

Biar gue yang nyetir Ga, gue tau Lo gak baik baik saja, Lo tinggal kasih tau kemana tujuan kita," ucap Arka membuka pintu mobil Arga dan menyuruhnya untuk pindah.


Arga pun menuruti ucapan Arka dan duduk ke kursi di sampingnya dan membiarkan Arka membawa mobilnya.


"Villa xxx," ucap Arga menyebutkan tempat yang baru saja ia dapatkan sesuai informasi dari Rangga.


Tanpa bertanya lagi Arka pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang baru saja disebutkan Arga.


"Lebih cepat lagi Ka! ..." ucap Arga mulai memperlihatkan kekhawatirannya.


"Iya Ar, gue takut Dira kenapa napa kalau kita terlambat menemukan dia," ucap Mita ikut menimpali.


"Sabar ini juga gue udah ngebut," jawab Arka yang memang sudah membawa mobil dengan kecepatan maksimal.


"Gue khawatir sama istri gue Ka, Dira harus minum obatnya dan sekarang dia pasti belum meminumnya dan ini udah lewat beberapa jam dari waktunya." Arga terus saja melihat jam tangannya ia tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya, apalagi saat mengingat kondisi kesehatan Dira yang tidak dalam keadaan baik baik saja.


"Sial! Harusnya gue lebih waspada saat mengetahui Reno selalu datang ke kampus. Gua gak akan bisa memaafkan diri gue sendiri kalau sampai hal buruk terjadi pada istri gue, lebih cepat lagi Ka!" tanpa sadar Arga berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya, bahkan penampilannya saat ini terlihat sangat berantakan dengan rambut acak acakan, dan dasi yang sudah terlepas, ia sudah berusaha untuk tetap tenang dan mengurangi rasa sesak yang saat ini dirasakannya, tapi hasilnya nihil ia sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


Arka dan Mita hanya diam saja tanpa menimpali ucapan Arga. Arka yang sudah mengetahui bagaimana sifat Arga yang tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah menyangkut keselamatan Dira tidak berani mengatakan apa pun dan tetap fokus untuk menyetir.


*


*


Sementara itu di tempat lain Dira sudah mulai mengerjapkan matanya berusaha memulihkan kesadarannya dan ia sangat terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat yang sangat asing.


"Ini di mana? Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini?" gumam Dira sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing akibat obat bius yang digunakan Reno untuk membuatnya tidak sadarkan diri.


Dira bangun dari tempat tidur sambil memperhatikan sekeliling kamar tempatnya saat ini. "Aku di culik?" gumam Dira yang merasa heran, ia teringat dengan kejadian saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan seseorang tiba tiba membekap mulutnya.


Dira menyingkap gorden untuk melihat ke luar jendela dan ia menyadari kalau tempatnya di sekap saat ini berada di tengah perkebunan bahkan ia sama sekali tidak melihat adanya bangunan lain selain banyaknya pepohonan di sekitar villa tersebut.


"Tapi siapa yang melakukan ini? Apa itu Reno? Atau Elena?" gumam Dira yang menerka-nerka siapa orang yang telah menculiknya, karna orang yang selalu mencari masalah dengannya akhir akhir ini hanya mereka berdua, apalagi tadi pagi ia sempat ribut dengan kedua orang itu.


"Ini bukan saatnya aku memikirkan siapa pelakunya, yang terpenting sekarang adalah aku harus cari cara supaya bisa keluar dari tempat ini," gumam Dira lalu mendekat ke arah pintu.


Dengan gerakan pelan Dira mencoba memutar handle pintu kamar dan ternyata pintu tersebut dikunci dari luar.

__ADS_1


"Ck ... ternyata pintunya benar benar di kunci," Dira berdecak penuh kekesalan.


Ceklek!


Seseorang membuka pintu kamar tempat Dira di sekap dan hal itu membuatnya mundur karna terkejut.


"Hai baby ternyata kamu sudah sadar," ucap Reno sambil mendekat kearah Dira yang terus mundur menjauh darinya.


Ternyata benar dugaan Dira orang yang menculiknya adalah salah satu dari kedua orang itu.


"Jangan coba coba mendekat!" teriak Dira sambil menatap tajam kearah Reno.


"Aku tau kamu pasti hanya sok jual mahal saja, kamu tenang saja di sini hanya ada kita berdua jadi kamu tidak usah malu malu, suami mu yang kaku itu pasti tidak akan tau," ucap Reno yang tidak peduli dengan ucapan Dira dan terus mendekat sampai Dira terpojok di meja.


"Lo benar benar gila!" sentak Dira yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Reno tidak peduli dengan kemarahan Dira, ia malah menarik pinggang Dira hingga tubuhnya menempel pada tubuh Dira, ia dapat mencium aroma harum dari tubuh Dira yang semakin membuatnya tidak sabar untuk menjadikan Dira miliknya.


"Kamu benar benar menggoda baby," ucap Reno dengan tatapan mesumnya.


Dira berusaha untuk tetap tenang walaupun ia merasa sangat jijik dengan pria brengsek di hadapannya saat ini.


Dug!


Dira menendang aset berharga Reno dengan keras menggunakan lututnya, membuat Reno melepaskan Dira dan memegangi asetnya yang di tendang olehnya sambil mengaduh kesakitan.


"Aw! Anindira! Ternyata aku terlalu meremehkan kamu! ..." ucap Reno yang menahan sakit pada miliknya sambil berusaha untuk bangun sebelum Dira benar benar pergi.


Setelah berhasil menjatuhkan Reno Dira pun langsung berlari keluar dari kamar tersebut. Tapi baru saja Dira melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut, Reno kembali menariknya.


"Mau kemana kamu sayang ... sebaiknya kamu menyerah selagi aku masih bersikap baik pada mu, karna sampai kapan pun kamu tidak akan bisa pergi dari tempat ini, bahkan suami tercinta mu pun tidak akan bisa menemukan tempat ini," ucap Reno lalu mengangkat tubuh Dira dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Lepasin gue!" Dira terus berontak dan berusaha lepas dari Reno yang terus menatapnya dengan tatapan lapar.


Ia kembali menendang Reno di bagian perutnya, dan berhasil membuat Reno yang berada diatas tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.


Ia mencoba kabur, tapi lagi lagi Reno berhasil menarik kakinya.

__ADS_1


"Kamu benar benar keras kepala Anindira, tapi semakin kamu berontak kamu semakin terlihat menggoda, jika kamu tidak bisa aku dapatkan dengan cara baik baik, maka aku pun terpaksa melakukanya dengan cara yang kasar," ucap Reno.


Srak!


Reno menarik paksa kemeja yang digunakan Dira sampai robek dan memperlihatkan bahu putihnya. Kemudian Reno mendorong tubuh Dira dengan kasar sampai terlentang dan mengungkungnya, dengan lutut dan tangannya ia gunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Dira.


"Sepertinya kamu memang lebih suka aku melakukannya dengan cara yang kasar," ucap Reno sambil membuka bajunya.


Dira tetap memegang erat bajunya yang hendak dibuka oleh Reno sambil terus mencoba untuk menyingkirkan laki laki itu yang hendak menyentuh tubuhnya.


"Mas Arga tolong aku ..." gumam Dira yang masih bisa di dengar oleh Reno, dan hal itu membuat Reno murka karna Dira masih saja menyebut nama Arga.


"Bisakah kamu mencoba membuka hati untukku dan belajar mencintaiku seperti kamu mencintai Arga? Aku janji akan memperlakukan kamu lebih baik dari Arga memperlakukan mu selama ini," ucap Reno sambil menatap Dira, tatapannya terlihat melembut pada Dira.


"Reno perasaan itu tidak bisa di paksakan, dan aku ini adalah istri orang, bagaimana mungkin aku mencintai pria lain," jawab Dira dengan suara lembut dan menggunakan aku kamu, ia berharap Reno masih memiliki hati nurani dan menyadari kalau apa yang dia lakukan saat ini salah.


"Tapi aku mencintai kamu Anindira." Reno bangun dari atas tubuh Dira.


"Itu bukan cinta Ren melainkan obsesi, jika kamu benar benar mencintaiku kamu tidak akan pernah menyakitiku, kamu pasti akan merelakan aku bahagia bersama orang yang aku cintai, tapi kamu malah sebaliknya, kamu memperlakukan aku seperti seorang ja la ng, kamu hanya penasaran karna aku selalu menolak mu, kamu hanya menginginkan tubuhku kan?"


Reno terdiam, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya ia membenarkan semua perkataan Dira, tapi egonya mengalahkan segalanya.


"Aku tidak peduli akan hal itu, yang aku inginkan hanya satu, kamu menjadi milikku," ucap Reno. Ia kembali mengungkung tubuh Dira dan mendekatkan bibirnya hendak mencium Dira, tapi Reno mengurungkan niatnya saat melihat ekspresi kesakitan Dira.


"Kamu gak usah pura pura sayang, aku tidak akan tertipu dengan acting mu," ucap Reno yang mengira Dira hanya pura pura.


Dira kembali merasakan nyeri pada jantungnya, ia meremas dadanya dengan ekspresi yang terlihat sangat kesakitan dan hal itu membuat Reno panik.


"Dira jangan menakuti ku," ucap Reno.


Brak!


"Kurang ajar!" seseorang baru saja datanga dan mendobrak pintu kamar.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa like👍🏻

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote😉


__ADS_2