Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 115 : Kalung


__ADS_3

"Sayang kamu mau makan apa sekarang?" tanya Arga sambil memeluk Dira yang terlihat kelelahan setelah aktivitas mereka.


"Hm, apa saja asalkan itu buatan kamu," jawab Dira dengan mata tetap terpejam.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian Arga keluar dari kamarnya untuk membuat makanan untuk Dira.


Arga berencana untuk membuatkan sup ayam untuk Dira karna kebetulan ia pernah beberapa kali membuat menu tersebut untuk Dira jadi sudah pasti ia tidak akan gagal membuatnya.


"Astaga tuan Arga," ucap bik Imah yang terkejut dengan kedatangan Arga ke dapur. "Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya bik Imah.


"Tolong siapkan bahan bahan untuk membuat sup ayam, saya ingin memasakkan makan siang untuk istri saya," pinta Arga.


"Baik tuan," jawab bik Imah tanpa membantah mulai menyiapkan bahan bahan yang diminta Arga, karna ini bukan pertama kalinya majikannya itu memasak untuk istrinya.


Saat Arga sedang asik memasak, tiba tiba saja mama Arga datang ke rumah mereka.


"Nah ini baru suami siaga," ucap Rika mengejutkan Arga.


"Astaga mama buat kaget aja," ucap Arga sambil mengelus dadanya.


"Dira mana Ga?" tanya Rika.


"Di kamar lagi istirahat," jawab Arga.


"Kamu gak buat mantu mama kecapean kan Ga?" tanya Rika sambil menatap penuh selidik.


"Nggak ... ."


"Ya udah kalau gitu mama mau liat Dira dulu," ucap Rika.


"Eh, jangan Ma! Biarin Dira istirahat dulu, nanti biar Arga yang bangunin, kalau mama ke sana nanti dia malah merasa gak enak," ucap Arga beralasan, padahal sebenarnya ia melarang mamanya karna Dira saat ini masih belum menggunakan pakaian.


"Kamu gak lagi menyembunyikan sesuatu kan?" Rika menatap Arga curiga.


"Nggak Ma ... ."


"Pokoknya mama mau lihat Dira, mama udah kangen, sudah dua hari mama gak ketemu dia," ucap Rika lalu beranjak menuju kamar Arga dan Dira.

__ADS_1


Sedangkan Arga hanya dapat menghela napas melihat kepergian mamanya, pasti ia akan kena ceramah dari sang mama kalau mengetahui apa yang sudah ia lakukan siang siang begini pada sang istri sampai membuat Dira kelelahan dan ia memilih untuk tidur.


*****


Dan benar saja seperti dugaan Arga, Rika yang baru saja masuk ke kamar Dira dibuat geleng geleng kepala melihat keadaan menantunya yang terlihat sangat pulas dalam tidurnya dengan selimut yang tersingkap dan menampakkan bagian leher sampai atas dada yang di penuhi oleh bercak merah, dan sudah dapat dipastikan siapa pelakunya kalau bukan putra dinginnya yang kini telah menjelma menjadi mesum.


"Arga benar benar gak bisa dibilangin ya, masak siang siang gini istrinya udah di gempur sampai kelelahan seperti ini, apa dia lupa kalau istrinya lagi hamil, itu anak kayaknya harus ditegur biar gak terus terusan kebablasan seperti ini," gumam Rika sambil memperbaiki selimut Dira.


"Dira belum bangun Ma?" tanya Arga yang baru masuk ke kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan juga susu untuk Dira.


"Belum, dia kayaknya benar benar kecapean sampai gak sadar dengan kedatangan mama," sindir Rika.


Arga hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Biarkan Dira tidur dulu, kita bicara di luar," ucap Rika.


"Ada apa Ma?" tanya Arga pura pura bertanya, padahal ia sudah tau kalau mamanya pasti akan membahas tentang Dira yang kelelahan.


"Lain kali kamu harus bisa menahan diri Ga, jangan kamu gempur terus istri kamu, kasian dia sampai kelelahan seperti itu, ingat Dira saat ini sedang hamil muda, di awal kehamilan seperti ini kandungan Dira masih belum terlalu kuat," ucap Rika mengingatkan putranya.


"Iya Ma, lagian aku juga melakukannya dengan sangat hati hati," jawab Arga, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari mamanya.


"Iya, iya," untuk saat ini Arga hanya bisa mengiyakan saja ucapan mamanya dari pada urusannya makin panjang.


"Kalau gitu mama pulang dulu, ingat jangan terlalu sering," Rika kembali mengingatkan Arga.


Setelah kepergian mamanya Arga kembali masuk ke kamar. Dira sepertinya baru saja bangun, sambil melilitkan selimut yang ia gunakan Dira meraba meja di sampingnya untuk mencari ikat rambutnya.


"Sayang kamu sedang cari apa?" tanya Arga yang melihat Dira seperti sedang mencari sesuatu.


"Ikat rambut aku mana Mas?"


"Oh itu, ini sini biar aku ikatkan," ucap Arga sambil menunjukkan ikat rambut yang ada dipergelangan tangannya, dan ia pun mengikatkan rambut panjang Dira dengan telaten, ternyata mengikat rambut tidak semudah yang ia lihat.


"Makasih Mas," ucap Dira sambil memegang ikatan rambutnya walaupun tidak serapi jika ia yang mengikatnya.


Arga mengusap puncak kepala Dira. "Sini sarapan dulu sebelum mandi, biar Mas yang suapi," ucap Arga mulai menyuapi Dira.

__ADS_1


"Oh iya sayang aku mau nanya soal kalung yang pernah kamu pakai waktu SMA, kenapa sekarang tidak kamu pakai lagi?" tanya Arga tiba tiba.


"Kalung?"


"Iya aku pernah liat kamu menggunakan kalung itu sekali waktu kita SMA," ucap Arga mengingatkan Dira.


"Oh liontin dengan mata biru itu?"


"Iya," jawab Arga.


"Aku memang memakainya sekali doang, waktu itu aku tidak sengaja menemukan liontin itu di laci kamar mama, karna bagus jadi aku menggunakannya, tapi setelah hari itu mama tiba tiba mengambilnya kembali dan sekarang aku tidak tau apa Kalung itu masih ada atau tidak," ucap Dira menceritakan pada Arga tentang kalung yang diambil mamanya.


Arga mengerutkan alisnya mendengar cerita Dira. "Apa kamu yakin tidak pernah menggunakannya sebelumnya?" tanya Arga penasaran.


"Iya Mas, aku sangat yakin, itu adalah pertama dan terakhir aku menggunakan kalung itu."


"Apa ada orang lain yang memiliki kalung itu?" tanya Arga kembali.


"Mana aku tau Mas, tapi kayaknya itu memang dibuat khusus untuk seseorang, karna di liontin itu juga tertulis inisial AP makanya aku pikir itu kalung milikku karna nama aku kan Anindira Putri," jawab Dira.


"Apa mama tidak menjelaskan itu punya siapa?"


Dira menggelengkan kepalanya. "Tapi tunggu dulu, kenapa Mas tiba tiba nanyain soal kalung itu? Apa ada hal penting yang berkaitan dengan kalung itu?"


"Nggak ada aku hanya penasaran saja, karna setelah hari itu kamu tidak menggunakannya lagi," jawab Arga.


"Oh gitu, kirain ada sesuatu yang penting, ya udah aku mau mandi dulu, tubuh aku rasanya udah lengket banget."


"Apa kamu butuh bantuan?" tanya Arga sambil tersenyum penuh makna.


"Nggak usah aku bisa sendiri, kalau kamu membantu bukannya cepat malah makin lama," ucap Dira lalu beranjak ke kamar mandi.


"Jika Dira tidak pernah menggunakan kalung itu sebelumnya, lalu siapa orang yang telah menolong Ivan? Apa ada orang lain yang memiliki kalung yang sama yang telah menolong Ivan?" batin Arga mengingat kembali cerita Ivan tentang wanita penolongnya.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa like👍

__ADS_1


Komen


Favorit and vote😉


__ADS_2