
Kurang dari setengah jam Dira akhirnya keluar dari ruangan dosennya, ia bernapas lega akhirnya proposalnya sudah berhasil di ACC.
"Mita mana ya? Perasaan dari tadi dia gak keliatan," gumam Dira, karna sejak tadi pagi ia tidak melihat keberadaan sahabatnya.
Dira mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Mita.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Halo," terdengar suara Mita menjawab panggilan Dira.
"Halo Mit, Lo di mana? Lo gak ke kampus?" tanya Dira.
"Iya. Gue sekarang lagi di tempat kita biasa nongkrong Dir," jawab Mita di seberang sana.
"Lo ngapain di sana?"
"Gue lagi menenangkan pikiran Dir, Lo ke sini dong udah lama loh kita gak nongkrong bareng," ucap Mita.
"Iya, tapi gue izin dulu sama Mas Arga," ucap Dira.
"Ya udah cepatan gih minta izinnya, gue mau cerita sebuah rahasia sama Lo Dir," ucap Mita terdengar seperti orang yang sedang dalam masalah.
"Lo baik baik aja kan Mit?" tanya Dira khawatir, karna tidak biasanya Mita seperti itu.
"Hati gue yang kurang baik Dir ..." jawab Mita.
"Ya udah kalau gitu gue izin dulu, nanti kalau udah dapat izin dari Mas Arga gue hubungi lagi," ucap Dira.
Setelah menutup sambungan telponnya Dira pun segera beranjak menemui Arga untuk meminta izin bertemu Mita.
"Mas Arga!" panggil Dira saat melihat Arga bersama teman temannya.
"Eh, kamu udah selesai?"
"Iya," jawab Dira. "Mas aku mau minta izin buat ketemu Mita, boleh ya?" ucap Dira, ia berharap Arga memberikannya izin.
"Tapi aku masih ada urusan sebentar sayang, jadi gak bisa anterin kamu," ucap Arga, karna ia juga ada jadwal temu dengan dosen pembimbingnya.
"Gak papa mas, aku bisa berangkat sendiri, lagian tempatnya juga gak jauh dari kampus," ucap Dira.
"Tapi–"
__ADS_1
"Boleh ya Mas ..." ucap Dira mengeluarkan ekspresi menggemaskannya, yang membuat Arga tidak tega untuk menahan Dira untuk tidak pergi, karna ia merasa khawatir melihat Dira berkeliaran tanpa dirinya, apalagi setelah mendapatkan kabar dari Rangga kalau Elena sudah bebas dari penjara, entah siapa yang membantunya. Ia hanya takut jika Elena kembali mencelakai Dira.
"Iya udah boleh, tapi ingat kamu harus tetap hati hati, segera hubungi aku kalau ada sesuatu yang terlihat mencurigakan," ucap Arga. Jiwa protektifnya sudah mulai muncul.
"Iya suamiku yang bawel," ucap Dira lalu ia pun segera melangkah pergi untuk menemui Mita setelah mendapatkan izin dari Arga. Tidak lupa Arga memberikan ciuman pada kening Dira, tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan aneh.
*****
Beberapa menit kemudian.
Taksi yang membawa Dira telah sampai di sebuah cafe, tempat biasanya ia dan Mita menghabiskan waktu berdua, Mita menghampiri sahabatnya yang sudah menunggunya.
"Woy!" Dira mengagetkan Mita yang terlihat sedang melamun.
"Ih, Lo ngaggetin aja Dir," ucap Mita.
"Habisnya Lo siang siang gini malah melamun."
"Gue lagi galau Dir ..." ucap Mita. Ia akan jujur pada Dira soal perasaannya pada Vino.
"Lo galau kenapa, coba cerita sama gue siapa tau gue bisa bantu," ucap Dira.
"Lah terus masalahnya di mana? Lo kesel karna Devi gak beliin Lo cincin juga?" tanya Dira.
"Masalahnya bukan itu," jawab Mita menundukkan kepalanya.
"Terus?" Dira semakin penasaran.
"Gue sebenarnya suka sama Devi sejak dulu Dir, gue pikir itu hanya cinta monyet ternyata setelah bertemu kembali perasaan gue semakin besar, dan Lo tau Devi selalu telpon gue buat tanya tanya soal Tiara, Lo bisa bayangin gimana perasaan gue disaat orang yang gue cinta selalu menceritakan tentang perempuan lain dengan begitu semangatnya," ucap Mita menceritakan semuanya pada Dira
"Mita, Lo gak lagi bohongin gue kan? Lo serius dengan ucapan Lo barusan?" tanya Dira. Ia sangat terkejut saat mendengar pengakuan Mita tentang perasaannya.
"Gue serius Dir, gue mencintai sahabat gue sendiri, tapi sayangnya cinta gue bertepuk sebelah tangan," ucap Mita murung. "Apa gue rebut aja ya si Devi dari Tiara," ucap Mita kembali dengan nada bercanda, untuk menutupi rasa sesak di hatinya.
"Jangan aneh aneh Mit, gue ngerti dengan apa yang Lo rasain saat ini karna gue pernah merasakannya, tapi satu hal yang harus Lo ingat jangan pernah berpikir untuk merebut apa yang bukan menjadi milik kita," ucap Dira.
"Iya Dir Lo tenang aja, gue tadi cuma bercanda biar gak kelihatan terlalu menyedihkan di hadapan Lo, gue gak pernah menyangka ternyata mencintai seseorang yang tidak mengharapkan kita rasanya begitu menyakitkan, gue baru kayak gini aja udah hilang semangat buat ngelakuin hal lain. Lo hebat Dir bisa bertahan dengan perasaan seperti ini selama bertahun tahun," ucap Mita.
"Mit, meski perasaan cinta kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bukan berarti itu menjadi penghalang Lo merasakan bahagia, jangan biarkan rasa kecewa menghancurkan harapan, hidup ini harus terus berjalan, Lo gak boleh putus semangat, lagian bukannya masih ada Abang Arka kesayangan Lo yang gak kalah tampan dari si Devi, jadi kenapa harus galau segala sih Mit," ucap Dira menggoda Mita.
"Ish, Lo mah gitu," ucap Mita mereka pun tertawa bersama, ternyata menceritakan semuanya pada sahabatnya bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.
__ADS_1
Setelah cukup mengobrol Dira dan Mita memutuskan untuk pulang.
"Dir Lo beneran gak mau gue anter?" tanya Mita.
"Nggak usah, Lo juga mau jemput nyokap Lo kan, masak iya Lo harus nganterin gue dulu," tolak Dira.
"Lo beneran gak papa kan?" tanya Mita kembali.
"Iya, udah sana kasian nyokap Lo cepek nungguin Lo."
Mita pun dengan terpaksa melajukan mobilnya meninggalkan Dira sendiri menunggu taksi.
Setelah menunggu selama lima menit taksi yang di pesan Dira telah sampai, tapi tiba tiba saja seorang pria muda menghampirinya dengan memegangi perutnya dan meminta bantuan pada Dira saat ia hendak masuk ke dalam taksinya.
"Mbak tolong saya mbak, perut saya sakit banget saya boleh ikut nebeng di taksi yang mbak pesan gak?" tanya orang itu yang terlihat sangat kesakitan.
Dira yang orangnya tidak tegaan membantu memapah pria tersebut untuk masuk ke taksi dan mengantarnya ke tempat tujuannya.
Saat orang itu hendak turun dari taksi ia kembali berbalik kearah Dira. "Maaf mbak boleh anterin saya sampai depan sana gak?"
"Pak, bapak bisa bantu Masnya buat memapahnya ke sana, kalau saya sepertinya kurang pantas, saya takutnya jadi fitnah," ucap Dira berusaha menolak permintaan orang tersebut yang ingin Dira memapahnya sampai depan hotel tempatnya menginap.
"Baik neng," ucap sopir taksi tersebut lalu turun untuk membantu laki laki asing tersebut.
Dira juga ikut membantu pria itu untuk turun dari mobil, dan tiba tiba saja pria itu tersungkur ke hadapan Dira, jika di lihat sekilas mereka terlihat seperti sedang berpelukan mesra.
"Maaf mbak."
"Iya." jawab Dira, sebenarnya ia merasa risih tapi mau gimana lagi ia tidak mungkin kan membiarkan saja orang itu yang terlihat menahan sakit, bagaimana jika hal itu terjadi padanya. Itulah yang ada di pikiran Dira.
"Makasih mbak."
"Iya sama sama," jawab Dira. Setelah memastikan orang itu telah masuk ke hotel tempatnya menginap dibantu oleh petugas keamanan di sana, Dira pun meminta sopir untuk kembali melajukan mobilnya. Tanpa di sadari oleh Dira kalau seseorang telah mengambil gambarnya saat ia membantu memapah pria asing tersebut.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
Favorit and Vote
__ADS_1