Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 21 : Keributan di Kampus


__ADS_3

Happy Reading . . . . . . . .


.


.


.


Pagi ini adalah pagi pertama Dira dan Arga berada di apartemen dan untuk pertama kalinya Dira benar benar merasakan bagaimana mengurus rumah sendiri, mulai dari bersih bersih, menyiapkan pakaian sampai menyiapkan sarapan untuk suami. Biasanya di rumah mertuanya ia hanya sekedar bantu bantu bibi saja di dapur. Tapi Dira benar benar menikmati semua itu.


Pagi pagi sekali Dira sudah berkutat dengan alat masaknya, untuk menyiapkan sarapan untuk ia dan Arga. Sebenarnya Arga sudah menawarkan Dira untuk menggunakan jasa asisten rumah tangga, tapi ditolak oleh Dira karena untuk saat ini Dira masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sekalian ia ingin merasakan bagaimana rasanya benar benar mengurus suami.


Arga tersenyum begitu keluar dari kamar mandi dan mendengar suara yang berasal dari dapur.


Setelah rapi ia keluar dari kamar dan menghampiri Dira yang sedang menyiapkan makanan di meja.


"Kamu beneran gak mau pake asisten rumah tangga Ra?" tanya Arga yang melihat Dira sedikit kerepotan.


"Enggak usah, aku masih bisa kok kerjain semuanya," jawab Dira.


"Tapi aku kasian liat kamu kerepotan kayak gitu," ucap Arga.


"Udah kamu gak usah khawatir, namanya juga baru pertama kali jadi agak kerepotan, kalau sudah biasa pasti aku bisa kayak mama," ucap Dira.


"Ya udah terserah kamu, tapi beneran gak papa kan? jangan sampai aku dapat gebukan dari mama mertua kamu," ucap Arga yang ingat dengan mamanya.


"Iya tenang aja," jawab dira meyakinkan Arga.


Setelah sarapan Arga mebantu Dira untuk mencuci piring dan menyuruh Dira untuk bersiap siap.


"Udah kamu mending siap siap dulu, biar aku yang cuci piring," pinta Arga.


"Emang kamu bisa mas cuci piring?" tanya Dira meragukan Arga.


"Bisa, kalau cuma cuci piring doang mah aku bisa, udah sana mending kamu siap siap untuk menghemat waktu," ucap Arga dan akhirnya Dira pun mempercayakan piring piring kotor itu untuk di cuci Arga.


.


.


.


Dira dan Arga berangkat ke kampus setelah menunggu Dira selesai bersiap siap.


Setibanya mereka di kampus, lagi lagi dira mendapatkan tatapan aneh seakan akan dira melakukan sebuah kesalahan.


"Mereka sebenarnya pada kenapa kok ngeliatin aku sampai kayak gitu? Apa karena aku selalu jalan sama kamu?" gumam Dira yang merasa risih diliatin sepanjang koridor kampus.


"Udah biarin aja, palingan mereka iri liat kamu jalan sama cowok tertampan di kampus ini," ucap Arga dengan pedenya.


"Ih, aku serius kamu malah bercanda, kesel aku mas," ucap Dira dan pergi meninggalkan Arga di koridor.


"Yah ngambek," ucap Arga lalu menyusul Dira.


Dira terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Arga.

__ADS_1


Saat ia berpapasan dengan salah seorang teman kampusnya, ia seperti mendengar mahasiswa tersebut bergumam.


"Cantik sih, tapi sayang murah," ucap mahasiswa itu seakan akan kata kata itu untuk Dira.


Dira yang mendengar gumaman mahasiswa tersebut ketika melewatinya tetap terlihat cuek, karena ia merasa sepertinya kata kata itu bukan untuknya.


"Ra!" Arga memanggil Dira dan kembali merangkul Dira sampai kelas, tanpa memperdulikan tatapan orang orang sekitarnya.


Karena semester ini adalah semester akhir jadi Dira dan Arga ke kampus hanya untuk melakukan bimbingan saja.


Dira yang baru saja balik dari ruangan dosen pembimbingnya, tiba tiba ia ditarik oleh beberapa siswa.


"Kalian ada masalah apa sih sama gue? kenapa tiba kalian tarik gue kayak orang mau keroyokan aja," ucap Dira pada 3 orang perempuan yang tiba tiba menyeretnya kemudian menghempaskan tangan salah satu perempuan yang masih memegang tangannya.


"Udah murahan! belagu lagi!" ucap salah satu perempuan berambut pirang.


"Siapa yang murahan?" tanya Dira.


"Siapa lagi kalau bukan Lo!" tunjuk perempuan yang satunya di samping Dira.


"Atas dasar apa kalian ngatain gue murahan?" tanya Dira masih sabar menghadapi mereka.


Salah satu dari mereka menunjukkan hp nya yang berisi foto foto Dira dan arga, bahkan ada juga foto Dira semalam saat Arga membukakan seatbelt yang terlihat seperti sedang berciuman dan menggendongnya masuk ke apartemen karna ia tertidur. Dira yang melihat hal itu merasa heran dari mana mereka bisa mendapatkan foto foto itu, sekarang ia menemukan jawaban kenapa beberapa hari ini ia selalu mendapatkan tatapan tidak suka.


"Gimana Lo pasti gak bisa jelasin apa apakan, setelah melihat foto foto itu, dasar murahan," ucap si rambut pirang tersenyum sinis pada Dira.


"Gue gak perlu jelasin apa pun sama kalian, dan satu lagi gue bukan cewek murahan."


"Udah lah Dir sebaiknya Lo jauhi Arga, karena Arga gak pantas buat Lo yang murahan," ucap mereka kembali mengatai Dira murahan.


"Kalok gue gak pantas terus siapa yang pantas buat Arga, kalian? Kalian ngatain gue murahan seakan akan hidup kalian udah bener aja, dan Lo Gita!" ucap Dira menunjuk cewek berambut pirang. "Bukannya Lo yang murahan? Bukannya Lo yang selama ini jadi ayam kampus!" ucap Dira yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


Plak!


Mahasiswa yang sedang berada disana hanya menjadi penonton tanpa ada niat untuk melerai perdebatan mereka, bahkan beberapa dari mereka ada yang mendukung ketiga perempuan itu, sepertinya gosip tentang dirinya sudah menyebar.


Dira memegangi pipinya yang terasa panas bekas tamparan Gita karena ia belum sempat menghindar.


"Kenapa Lo nampar gue?" tanya Dira.


"Karena Lo udah berani ngatain gue murahan," ucapnya tidak terima.


"OOO,,, jadi Lo nampar gue karna gue ngatain Lo murahan walaupun itu benar?" ucap Dira santai sambil memijat tangannya seperti orang melakukan pemanasan.


"Ok, tadi Lo udah ngatain gue murahan berapa kali?" ucap Dira seperti sedang mengingat kembali dan tiba tiba.


PLAK!


PLAK!


Dira menampar kedua pipi Gita dan berucap, "Walaupun Lo ngatain gue murahan lebih dari dua kali, tapi karena gue baik hati jadi gue menampar Lo cuma dua kali doang," ucap Dira santai.


Baru saja Dira hendak pergi, Gita tiba tiba menyiramnya dengan minuman yang dibawanya dan menarik rambut Dira.


Sedangkan Dira yang tiba tiba merasakan sakit di kepalanya hanya pasrah membiarkan rambutnya dijambak sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


*


*


Sementara Arga yang sudah dari tadi menunggu Dira di parkiran, tiba tiba perasaannya menjadi tidak enak dan ia pun kembali untuk mencari Dira.


"Loh Arga Lo kok balik lagi?" tanya Ivan.


"Gue mau cari Dira, dia kok lama banget bimbingannya,"


"Baru juga di tinggal bentar, udah gelisah aja nyariin istrinya bang," ucap Arka mulai menggoda Arga.


"Gue serius perasaan gue tiba tiba gak enak," ucap Arga gelisah.


"Ya udah Lo telpon aja," saran Ivan.


"Gak diangkat, kayaknya hp nya di silent," ucap Arga yang sudah beberapa kali nelpon Dira tapi gak diangkat, sampai akhirnya ia melihat Mita.


"Mita! Lo gak sama Dira?" tanya Arga yang melihat Mita sendirian.


"Loh bukannya Dira udah kelar duluan gak lama sebelum gue," ucap Mita.


"Gue cari Dira dulu," ucap Arga langsung pergi.


"Dasar bucin!" ucap Arka yang melihat Arga gelisah.


"Udah mending kita susul Arga aja," ucap Ivan, ia juga ikut mengkhawatirkan Dira.


"Ayo, gue juga khawatir sama Dira," ucap Mita setuju dengan saran Ivan.


Mereka pun akhirnya ikut menyusul Arga.


Saat Arga sedang mencari Dira tiba tiba ia melihat beberapa mahasiswa berkerumun, ia yang penasaran ikut melihat dan betapa kagetnya Arga saat melihat Dira sudah tak sadarkan diri dan yang membuat ia emosi adalah keadaan istrinya dengan baju yang kotor oleh minuman dan rambut berantakan seperti habis dijambak. Arga yang melihat hal itu melihat ke arah tiga orang di dekat istrinya dengan tatapan tajam.


"Awas! jika semua ini ulah kalian, gue bakalan buat kalian menyesal," ucap Arga mengancam mereka dan mengangkat tubuh Dira yang tak sadarkan diri.


"Dira!" Mita yang melihat dira tak sadarkan diri dalam gendongan Arga menjadi cemas karena pertama kalinya ia melihat Dira pingsan seperti ini, begitu pun dengan Ivan dan Arka yang kaget melihat hal itu.


"Ga, Dira kenapa?" Tanya Ivan dan Arka.


"Gue minta tolong cari tau kenapa istri gue bisa pingsan!" ucap Arga meminta bantuan kedua sahabatnya.


"Lo tenang aja, biar gue dan Arka yang urus masalah ini sebaiknya Lo bawa Dira ke rumah sakit," ucap Ivan.


Arga segera beranjak untuk segera membawa Dira ke rumah sakit diikuti oleh Mita.


"Sial!"


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . . . .


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN AND FAVORITπŸ˜‰πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»


__ADS_2