
"Akhirnya kita sampai juga ..." ucap Dira dengan wajah berbinar, begitu ia sampai di depan rumahnya.
"Dira kenapa kita harus pulang sekarang sih? Lo harusnya tetap berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kita balik aja ya Dir ..." bujuk Mita.
"Gak bisa gitu dong Mit, masak kita baru saja sampai rumah udah mau balik lagi, lagian Lo juga udah janji buat nuruti semua permintaan gue kan," ucap Dira.
Mita hanya bisa menghela napas pasrah mendengar ucapan sahabatnya, karna setelah ia dan Arga mengatakan akan menuruti semua keinginan Dira, sahabtanya itu langsung saja memanfaatkan momen itu dan mengatakan kalau dia ingin pulang ke rumah.
Mau tidak mau Arga pun membiarkan Dira untuk pulang tapi sebelum itu dia juga telah konsultasi pada dokter yang menangani istrinya itu. Begitu pun dengan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Dira, mereka tidak mengatakan apa pun, mereka menyerahkan semuanya pada Arga, mereka percaya Arga pasti tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Dira.
"Lo juga Ga, seharusnya Lo gak usah turutin apa yang dikatakan Dira," ucap Mita menyalahkan Arga.
Sementara Arga yang disalahkan hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Mita, laki laki dingin itu malah mengangkat tubuh Dira dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Udah biarin aja lagi pula dokter juga sudah memberikan izin pada Dira untuk pulang, dan melakukan rawat jalan, jadi kamu tidak usah terlalu khawatir, kita cukup memberikan dukungan untuk kesembuhan Dira, lagian juga sekarang ada Arga di sisinya, dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan istrinya." Arka memberikan pengertian pada Mita.
"Tapi ar–"
"Apa perlu gue peluk lagi biar Lo bisa lebih tenang kayak tadi? Ya udah sini pelukan Abang terbuka lebar untuk dedek kesayangan gue," ucap Arka sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Dira.
"Nih peluk ni," ucap Mita menyodorkan tas yang berisi pelengkapan Dira saat di rumah sakit ke muka Arka, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah menyusul Arga dan Dira.
Arka tersenyum samar melihat kearah Mita yang yang beranjak meninggalkannya.
"Ekspresi kesal itu lebih baik dari pada Lo harus bersedih Mit," gumam Arka, lalu ia pun iku melangkah masuk.
__ADS_1
*
*
Sementara itu di tempat lain, Ivan menatap tajam laki laki yang berhasil ia ringkus dan bawa ke tempatnya, dan orang itu adalah model yang ada di foto bersama Dira.
"Lepasin! Siapa kalian? Apa kalian tidak tau siapa aku? Beraninya memperlakukan ku seperti ini." ucapnya saat orang orang suruhan Ivan menyeretnya.
"Katakan! Siapa yang telah memerintahkan Lo buat melakukan hal itu?" tanya Ivan tanpa memperdulikan pertanyaan laki laki tersebut.
"Siapa yang memerintahkan aku itu bukan urusan mu," ucap laki laki itu.
"Apa itu artinya Lo tidak akan memberitahukan siapa orang yang telah nyuruh Lo untuk menjebak Dira?"
"Sepertinya Lo terlalu meremehkan gue bro," ucap Ivan tersenyum sinis. Ia mendekat kearah laki laki itu lalu menunjukkan sebuah Vidio di ponselnya yang menunjukkan adegan adegan tidak senonoh laki laki itu dengan beberapa wanita yang lebih tua darinya.
"Apa perlu gue sebarkan Vidio menjijikkan ini agar semua pengemar Lo tau bagaimana menjijikkannya orang yang selama ini mereka idolakan," ancam Ivan pada laki laki yang terlihat tidak berkutik.
"Jangan! Aku akan mengatakannya."
"Cepat katakan, dan jangan coba coba membohongiku," ucap Ivan dengan penuh ancaman.
"Aku hanya mengikuti perintah dari salah satu Tante yang menjadi patnerku, dan dia adalah pemilik agensi tempat ku bekerja," jelas laki laki itu.
"Cih ternyata Lo benar benar sangat menjijikkan, apa kamu jujur dengan semua ucapan mu itu?"
__ADS_1
"Aku berani bersumpah kalau aku tidak berbohong, jadi tolong lepaskan aku dan jangan sebarkan Vidio Vidio itu," mohon laki laki tersebut.
"Lalu apa Lo tau siapa yang menyuruhnya? Karna tidak mungkin dia tiba tiba saja ingin membuat masalah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya tanpa ada orang di belakangnya," ucap Ivan dengan tatapan penuh selidik.
"Aku tidak tau soal itu, hanya saja aku sempat melihat dia menelpon seseorang setelah aku berhasil melakukan rencana ku, dan ia mengatakan kalau rencananya berhasil, hanya itu yang aku tau," ucap laki laki itu.
"Baiklah kalau begitu buatlah Vidio klarifikasi tentang foto foto itu dan katakan juga siapa orang yang telah menyuruh Lo," ucap Ivan.
"Tapi–"
"Lakukan atau Vidio ini akan gue sebarkan," potong Ivan sebelum laki laki itu melanjutkan ucapannya.
"Baik aku akan melakukannya," ucapnya.
"Bagus, sekarang Lo sudah boleh pergi, tapi ingat jangan coba coba berbohong dan mengingkari ucapan Lo. Lepaskan dia," perintah Ivan pada orang orangnya, lalu ia pun beranjak meninggalkan laki laki itu.
"Gue gak akan biarkan siapa pun melakukan hal buruk pada Dira," batin Ivan lalu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat ia mengurung laki laki itu.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
Favorit and Vote😉
__ADS_1