
Setalah kepulangan Mamanya, Arga dan Dira pun masuk ke kamar. Dira masih saja merasa malu terhadap mertuanya, setelah kejadian memalukan yang ia alami karna Arga menciumnya di hadapan mama Rika.
"Sayang kamu marah gara gara aku cium tadi?" tanya Arga yang melihat Dira diam saja.
"Bukannya marah, tapi aku malu ... bisa bisanya kamu main nyosor aja di depan Mama," ucap Dira sambil menangkup wajahnya dengan bantal karna malu mengingat kejadian di meja makan.
"Maaf sayang, habisnya kamu sih–" Arga tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Dira padanya.
"Oh iya sayang, kata mama tadi waktu kalian keluar belanja, kamu ketemu sama Reno?" tanya Arga mengalihkan pembicaraan sebelum singa betinanya mengamuk. Sekalian ia juga ingin mendengar langsung dari Dira, dan melihat reaksinya ketika ia mengungkit soal Reno.
"Iya Mas," jawab Dira santai, biasanya ia akan terlihat ketakutan jika membahas soal orang itu.
"Kamu gak papa kan? Dia gak macam macam sama kamu kan?" tanya Arga panik mendekat ke tempat tidur dan duduk di samping Dira.
"Iya Mas, aku gak papa lagian aku sama mama, dia mana berani macam macam sama aku, bisa langsung digeprek dia sama mama," jawab Dira sambil tertawa.
"Beneran?"
"Iya suami ku tercinta." ucap Dira lalu ia pun membaringkan tubuhnya.
"Sayang kamu mau langsung tidur?" tanya Arga menatap Dira yang sudah memejamkan matanya.
"Hem ... ."
Arga pun ikut berbaring di samping Dira, dan memeluknya erat. "Selamat malam istriku ..." ucap Arga sebelum ia ikut terlelap menyusul Dira.
__ADS_1
*
*
Esok harinya.
Dira sudah di perbolehkan untuk kuliah oleh Arga. Seperti biasa Dira menyiapkan semua keperluan Arga mulai dari pakaian sampai memasak sarapan, dan seperti biasa Dira meminum obatnya sebelum ia berangkat ke kampus.
Arga terus memperhatikan apa yang dilakukan Dira. "Semoga saja itu benar benar hanya vitamin biasa," batin Arga.
Dira yang melihat Arga belum menggunakan dasinya langsung mengambilnya dari tangan Arga dan memakaikannya. "Sayang gimana kalau kita pakai jasa ART saja, biar kamu gak terlalu kecapean ngurusin rumah," ucap Arga yang melihat kesibukan istrinya setiap pagi, apalagi rumah yang sekarang ia tempati lumayan luas, ia merasa kasihan jika Dira harus mengurusnya sendiri.
"Aku mah terserah kamu aja Mas gimana baiknya, asal jangan cari pembantu yang masih muda apalagi memiliki bakat sebagai pelakor," jawab Dira.
"Apakah istriku sedang cemburu?" tanya Arga menatap Dira yang sedang memasangkan dasi padanya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dalam rumah tangga kita, hati aku cuma buat kamu seorang, hanya kamu satu satunya wanita yang aku cintai dimasa sekarang ataupun di masa depan, jadi jangan pernah berpikir kalau aku akan berpaling darimu," ucap Arga lalu mencium kening Dira.
Dira langsung memeluk erat tubuh Arga. "Mas bagaimana jika suatu saat Tuhan lebih dulu memanggilku? Apa kamu–"
Cup!
Arga terlebih dulu membungkam bibir Dira sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Jangan pernah katakan hal seperti itu lagi. Ayo kita harus segera berangkat ke kampus jangan sampai kita telat," ucap Arga dingin, lalu ia pun berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Dira. Ia tidak suka mendengar ucapan Dira barusan.
Di sepanjang perjalanan menuju kampus, baik Arga ataupun Dira tidak ada yang bersuara. Mereka sama sama diam dengan pemikirannya masing masing, terutama Arga yang masih kepikiran dengan ucapan Dira barusan, ia kembali teringat dengan vitamin yang selalu di minum Dira, dan entah kenapa ketakutan ketakutan itu tiba tiba muncul dibenaknya, ketakutan akan kehilangan Dira.
__ADS_1
*
*
Di apartemen Reno.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah bisa mempercayaiku?" tanya Reno pada Elena.
Seperti yang ia katakan kemarin kalau ia akan membantu Elena untuk keluar dari penjara, dan sekarang ia telah membuktikan ucapannya pada Elena, ia menyuruh orang orangnya untuk menjemput wanita itu dan membawanya ke apartemennya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua ini?" tanya Elena, karna ia yakin semuanya tidaklah gratis.
"Bukankah aku sudah bilang aku ingin kamu membantuku untuk menghancurkan Arga, kita memiliki musuh yang sama, jadi kita bisa bekerjasama untuk menghancurkan Arga dan juga istrinya, bukankah ini adalah kesepakatan yang saling menguntungkan? Kamu bisa keluar dari tempat menjijikkan itu dan aku membutuhkan bantuan mu," ucap Reno dengan seringai liciknya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Elena, ia juga tidak menyangka laki laki di hadapannya ini benar benar mampu mengeluarkannya dari tempat kotor itu.
"Jika kamu menolak aku tinggal telpon polisi untuk menangkap mu kembali, tentu saja hal itu tidak akan merugikan ku, jadi bagaimana? setuju atau kembali ke penjara?" Reno memberikan pilihan pada Elena.
"Tentu saja aku setuju," jawab Elena cepat.
"Bagus, mulai sekarang kamu harus mengikuti apa yang aku katakan," ucap Reno sambil tersenyum licik kearah Elena.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
__ADS_1
Komen
Favorit and Vote