Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 104 : Kritis


__ADS_3

Dira kini telah di pindahkan ke ruang ICU. Arga duduk di samping Dira sambil terus menatap sang istri yang terbaring lemah dengan alat alat medis yang menempel pada tubuhnya, cairan bening kembali menggenangi mata Arga saat melihat kondisi istrinya.


Arga membelai wajah pucat Dira dan mencium keningnya. "Sayang kamu harus kuat, aku mohon berjuanglah, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu sayang, tolong bersabarlah sebentar, dokter sudah menemukan pendonor yang cocok untukmu," ucap Arga lirih lalu meraih tangan istrinya.


"Aku sangat mencintaimu sayang, jadi jangan pernah tinggalkan aku," ucap Arga kembali lalu mencium tangan Dira.


Arga menyadarkan tubuhnya di samping Dira sambil melingkarkan tangannya pada tubuh istrinya itu, karna kelelahan akhirnya Arga pun ikut terlelap dengan posisi duduk di kursi sambil memeluk sang istri.


Esok harinya.


Arga masih tetap setia duduk di samping Dira yang masih betah memejamkan matanya, Arga hanya meninggalkan Dira saat ia harus melaksanakan ibadahnya, bahkan ia masih menggunakan setelan kerja yang ia gunakan sejak kemarin.


Arga terus memandangi wajah Dira, dan berharap mata indah itu segera terbuka.


"Sampai kapan kamu akan terus memejamkan matamu seperti ini sayang," gumam Arga mengusap puncak kepala Dira dan kembali memberikan ciuman pada kening sang istri dan beralih dengan mencium mata yang masih terpejam itu.


Rika dan ayu yang baru saja tiba di rumah sakit mengehela napas saat melihat Arga tidak beralih dari sisi istrinya dengan penampilan yang sama seperti semalam.


"Nak, sebaiknya kamu istirahat dulu, biar mama yang jagain Dira," ucap Ayu mama Dira.


"Nggak usah Ma," jawab Arga tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Dira.


"Benar yang dikatakan mama Ayu, kamu juga harus istirahat, itu mama sudah bawakan baju ganti, sebaiknya kamu ganti dulu pakaian kamu lalu sarapan, jangan sampai kamu juga ikutan sakit," ucap Rika pada putranya.


"Tapi Arga belum lapar Ma," ucap Arga.


"Makanlah Ga, setidaknya demi Dira, kalau kamu sakit siapa yang akan jagain Dira, karna untuk saat ini kamu adalah orang yang paling dibutuhkan Dira," ucap mama Dira berusaha membujuk menantunya supaya ia mau makan.


"Iya Ga kamu harus kuat demi Dira," ucap mama Arga.


Arga pun langsung berdiri dari duduknya, benar yang dikatakan mamanya kalau ia harus kuat, ia tidak boleh terlihat lemah.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian ia pun segera sarapan, meskipun makanan yang masuk ke mulutnya terasa sulit untuk di telan, tapi demi Dira ia berusaha untuk menghabiskan makanan yang telah disiapkan mamanya.


Tidak berselang lama dokter yang menangani istrinya masuk untuk memeriksa kondisi Dira dengan membawa beberapa berkas.


Arga menatap berkas yang dibawa dokter dan meminta penjelasan. "Kami masih belum menemukan pendonor yang cocok untuk istri anda," ucap dokter.

__ADS_1


"Bukankah semalam anda yang mengatakan kalau sudah ada donor yang cocok untuk istri saya," ucap Arga dengan ekspresi terkejut.


"Maaf atas kelalaian kami, ternyata setelah kami cek secara menyeluruh, donor tersebut masih belum cocok untuk istri anda," ucap dokter itu terlihat merasa bersalah.


"Lalu bagaimana dengan istri saya, bukankah sekarang kondisinya sudah semakin parah, apa saya akan terus menunggu sampai saya kehilangan dia," ucap Arga penuh emosi sambil mencengkram kerah jas sang dokter.


"Ga, sabar Nak," ucap mama Dira berusaha menghentikan menantunya.


Arga tidak menghiraukan ucapan mertuanya, dan semakin mencengkram kuat dokter tersebut. "Kalau rumah sakit ini sudah tidak mampu menangani istri saya cepat katakan! Saya akan memindahkan istri saya ke rumah sakit lain," ucap Arga.


"Arga! Berhenti! Jangan buat keributan di sini, kita bisa bicarakan semuanya baik baik jangan menggunakan emosi, tenangkan diri kamu," ucap mama Arga menarik putranya.


Arga pun sadar dengan apa yang ia lakukan dan langsung melepaskan cengkeramannya.


"Tolong selamatkan istri saya, saya akan bayar berapa pun biayanya," ucap Arga datar lalu kembali duduk di samping sang istri.


"Maaf atas perlakukan tidak sopan putra saya dok," ucap mama Arga.


"Tidak apa apa buk, itu juga terjadi karna kesalahan kami, jadi wajar kalau putra ibu marah," ucap dokter tersebut lalu keluar dari ruangan itu.


*****


Sejak mereka berangkat Mita tidak henti hentinya menangis saat mengetahui kondisi Dira dari Arka, bahkan saat ia mengunjugi Ivan pun air matanya tidak bisa berhenti keluar.


"Sayang udah dong, kalau Dira tau kamu seperti ini, dia pasti bakalan tambah sedih," ucap Arka berusaha menenangkan kekasihnya itu.


Mita tidak memperdulikan ucapan Arka dan terus berjalan melewati lorong rumah sakit dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Saat Mita hendak membuka pintu ruang perawatan Dira, Arka tiba tiba menarik tangan Mita dan memeluknya.


"Ar lepasin, aku ingin melihat kondisi Dira kenapa malah memelukku," ucap Mita kesal dan berusaha melepaskan pelukan Arka.


Arka semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Mita. "Menangis lah sepuasnya di sini, jangan memperlihatkan kesedihanmu di dekat Dira, dia butuh semangat dari kita bukan malah melihat orang orang yang dia sayangi bersedih," ucap Arga tanpa melepaskan pelukannya.


Mita pun langsung menumpahkan tangisnya dalam pelukan Arka yang terus mengusap usap kepalanya memberikan ketenangan pada Mita.


Setelah puas menangis Arka pun melepaskan pelukannya pada tubuh Mita. "Jika kamu sudah merasa baikan, kita bisa langsung masuk sekarang," ucap Arka sambil menghapus sisa air mata di pipi Mita.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Mita.


Arka tersenyum mendengar ucapan terimakasih Mita lalu menggengam tangan Mita dan mengajaknya untuk masuk menemui Dira.


"Assalamualaikum tante," sapa Mita dan juga Arka dengan suara pelan dan menyalami mereka.


"Wa'alaikumussalam ..." jawab Rika dan ayu bersamaan, sementara Arga sama sekali tidak menghiraukan keberadaan mereka, ia hanya fokus memandangi wajah sang istri.


Mita pun mendekat ke ranjang Dira, ia dengan sekuat tenaga menahan agar cairan bening itu tidak kembali keluar dari matanya saat melihat kondisi Dira dengan alat alat medis di tubuhnya. Sahabatnya yang selalu ceria kini sedang terbaring lemah di ranjang pesakitan itu.


"Ingat sayang jangan memperlihatkan kesedihanmu di hadapan Dira," ucap Arka mengingatkan Mita sambil mengusap lengan sang kekasih.


*


*


Sementara di tempat yang sama di ruangan yang berbeda. seorang laki laki tampan terbaring lemah dengan banyaknya alat alat medis yang membantunya untuk tetap bernapas, layar monitor terus menunjukkan aktivitas jantung Ivan yang semakin melemah.


Tim dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa Ivan, Bima hanya bisa memandangi wajah pucat sepupunya yang terlihat begitu damai dengan perasaan sedih, ia tidak pernah menyangka akan menyaksikan sepupunya yang saat ini benar benar dalam keadaan sekarat.


Alat pendeteksi jantung yang digunakan untuk memantau detak jantung Ivan berbunyi panjang, yang menandakan jika jantung Ivan telah berhenti berdetak, dan hal itu membuat suasana di ruangan tersebut menjadi tegang semua orang di sana mulai terlihat panik. Beberapa perawat berlarian keluar masuk ruangan Ivan dengan wajah panik.


Begitupun dengan keluarga Ivan yang semakin terlihat gelisah, terutama mama Ivan yang sejak tadi sudah menangis histeris.


"Kita lakukan sekali lagi," ucap dokter lalu kembali meletakkan alat kejut jantung di dada Ivan, tapi tetap saja layar monitor tidak menunjukkan perubahan, masih tetap sama menunjukkan garis lurus berwarna hijau itu.


"Sekali lagi," ucap dokter masih belum menyerah untuk membuat Ivan kembali.


Tutttt ...


Dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas pasrah melihat layar monitor.


"Apa ini yang Lo inginkan Van, apa sekarang Lo sudah bahagia karna sebentar lagi keinginan Lo untuk selalu berada di sisi orang yang Lo cintai akan segara tercapai," batin dokter Bima sambil menatap wajah pucat Ivan dengan penuh kesedihan.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like👍

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote😉


__ADS_2