
"Mas sebenarnya apa maksud ucapan Elena barusan? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu seolah olah kamu adalah orang yang telah membuatnya di keluarkan dari kampus?" tanya Dira yang sudah di selimuti rasa penasaran.
"Nanti akan aku beritahu semuanya setelah sampai di rumah," jawab Arga sambil tetap fokus melihat jalan.
"Kalau begitu tolong jelaskan semuanya tanpa ada yang terlewatkan Mas," ucap Dira pada Arga. Ia pun kembali duduk dengan tenang dan berusaha menahan rasa penasarannya hingga mobil yang membawa mereka sampai di rumah. Jika tebakannya benar kalau suaminya yang sudah membuat Elena di keluarkan dari kampus, lalu apa alasannya sampai Arga melakukannya, itulah yang ada dibenak Dira saat ini.
Beberapa menit kemudian.
Arga dan Dira telah sampai di rumah mereka. Dira langsung duduk di sofa ruang tamu sambil menatap Arga. "Mas sekarang kamu sudah bisa menjelaskannya kan?" tanya Dira.
Arga yang melihat Dira sudah tidak sabaran untuk mendengar penjelasannya, langsung saja duduk di samping sang istri dan mulai menceritakan pada Dira soal Elena yang hendak menabraknya dan itulah awal mula ia meminta pihak kampus untuk mengeluarkan Elena bahkan sampai menjebloskannya ke penjara. Namun entah siapa orang yang telah membantu Elena bebas dari jeruji besi itu.
Tentu saja Dira yang mendengar tentang hal itu dibuat terkejut, ia selama ini tau kalau Elena begitu tergila gila pada suaminya, tapi ia tidak menyangka kalau wanita itu mampu melakukan hal senekat itu.
"Jadi Elena adalah pelaku penabrakan itu Mas?" tanya Dira setelah mendengar penjelasan Arga. Ia masih tidak percaya kalau orang yang hendak menabraknya ternyata Elena.
"Benar, maka dari itu mulai sekarang kamu harus lebih berhati hati dengannya, jangan biarkan wanita licik itu mendekati mu," ujar Arga mengingatkan Dira.
"Aku gak habis pikir Elena melakukan hal itu hanya karna ingin memiliki Mas, tapi kenapa kamu gak kasih tau aku soal itu dari awal Mas?" tanya Dira.
"Aku sengaja menyembunyikannya dari kamu karna aku tidak mau kamu sampai kepikiran tentang hal itu, selain itu juga aku gak mau kalau Elena sampai memanfaatkan kebaikan kamu itu sayang, dan meminta kamu untuk mengeluarkannya dari penjara," ucap Arga, ia bisa bayangkan bagaimana Dira akan memohon mohon padanya agar Elena tidak sampai di penjara.
"Aku gak sepolos itu juga Mas, kamu pikir aku protagonis wanita di drama ikan terbang yang setelah ditindas kemudian akan memaafkannya begitu saja, kayaknya hati aku tidak selembut itu, biar bagaimana pun Elena harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, bahkan sekarang aku ingin sekali menyuruh Mita untuk memberikannya tendangan mautnya pada ulat bulu itu biar dia tau rasa," ucap Dira dengan nada bercanda, tapi ekspresinya tetap saja terlihat kesal.
"Aku pikir kamu yang akan memberikan pelajaran pada wanita itu, ternyata ujung ujungnya Mita juga yang akan melakukannya," ucap Arga membalas candaan Dira.
"Aku juga maunya begitu Mas, tapi masalahnya sekarang aku harus lebih menjaga jantung aku yang sudah semakin lemah ini dari pada harus menguras tenaga buat mukulin Elena." ucap Dira.
Disaat yang bersamaan ia menyadari ucapannya yang malah membahas kondisi jantungnya dan menatap ekspresi Arga yang terlihat sendu.
"Aku pasti akan mencari cara agar kamu bisa sehat kembali sayang," ucap Arga lirih.
"Oh iya Mas, tapi kenapa Elena cepat sekali bebasnya, seharusnya dia di penjara lebih lama lagi Mas ... jangan jangan dia berhasil menggoda mu Mas supaya kamu mengeluarkannya dari penjara," ucap Dira dengan ekspresi yang terlihat marah, ia sengaja mengatakan hal seperti itu untuk mengalihkan perhatian Arga.
"Enak aja aku gak bakalan tertarik dengan modelan ulat bulu, kamu lebih seksi dari wanita itu dan aku lebih mudah tergoda oleh istriku ini," ucap Arga dengan senyum mesumnya, sambil menatap tubuh Dira dari atas sampai bawah.
"Dasar mesum," ucap Dira sambil menyilang kan kedua tangannya untuk menutupi dadanya dan melempar bantal ke wajah Arga.
"Tapi kamu suka kan kalau aku mesum sama kamu?" ucap Arga menggoda Dira.
__ADS_1
"Itu mah kamu bukan aku," protes Dira tidak terima.
Kalau gitu ayo kita buktikan sekarang," ucap Arga sambil mendekat ke arah Dira dan memeluknya sambil memonyongkan bibirnya.
"Ih Mas lepasin jangan aneh aneh deh, ingat sekarang kita tidak hanya berdua doang di rumah, di sini masih ada Bibi nanti dia malah liat keanehan kamu ini," ucap Dira mendorong tubuh Arga agar melepaskan pelukannya di tubuhnya.
"Kamu tenang aja Bibi lagi keluar buat beli persedian bahan bahan di dapur," ucap Arga.
Di saat Arga masih terus memeluk Dira tiba tiba ponsel Arga berdering. "Mas ponsel kamu bunyi angkat gih siapa tau penting," ucap Dira.
"Ck, siapa sih ganggu orang aja," ucap Arga lalu melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya. Arga semakin kesal saat melihat nama sang penelpon.
"Siapa Mas?"
"Arka," Ya ternyata orang yang menelpon Arga adalah Arka.
"Ya udah cepet angkat kasian dia, mungkin ada hal penting, aku ke belakang dulu," ucap Dira lalu beranjak ke dapur.
"Mas kamu mau kopi gak?" tanya Dira.
"Boleh, tapi hati hati."
"Halo, ada apa?" Arga pun akhirnya menjawab panggilan telpon dari Arka setelah kepergian Dira.
"Santai bro, galak amat sih," ucap Arka di sebrang telpon.
"Cepat katakan, kenapa Lo nelpon gue? Ganggu aja Lo," ucap Arga.
"Emangnya Lo lagi ngapain? Ha, jangan jangan lo–"
"Cepat katakan atau gue tutup ni telponnya," potong Arga.
"Iya iya, buset deh Lo Ga galak amat jadi orang. Gini tadi kan saat di kampus gue gak sengaja ketemu Elena, nah gue mau tanya Lo udah bebasin wanita ular itu dari penjara Ga? Kok bisa dia datang ke kampus?" tanya Arka.
"nggak," jawab Arga.
"Kalau bukan Lo, itu artinya ada orang lain yang membantunya?" tanya Arka kembali.
"Mungkin, tapi untuk saat ini gue belum tau siapa orang yang ada di belakangnya, bang Rangga juga masih mencari tau soal itu, dan sepertinya orang yang membantunya bukan sembarang orang, soalnya bang Rangga agak kesulitan menemukan informasi mengenai hal itu," jelas Arga.
__ADS_1
"Jadi gitu ya, tapi sebaiknya sekarang Lo harus lebih berhati hati Ga, terutama soal keselamatan Dira." Arka mengingatkan sahabtnya.
"Ya udah kalau gitu gue mau lanjut usaha buat buka hati dedek Mita gue dulu, Lo tenang aja gue sama Ivan juga pasti akan selalu bantu Lo," ucap Arka.
"Iya, makasih Ka ..." ucap Arga sebelum mematikan sambungan telponnya.
Prang!
Arga terperanjat saat mendengar suara sesuatu yang jatuh di arah dapur, dan ia ingat kalau Dira ada di sana.
"Dira," gumam Arga lalu berlari kearah dapur.
"Hah ... hah ... Ma–s," ucap Dira dengan napas tersengal-sengal sambil memegangi dadanya.
"Sayang!" ucap Arga dengan ekspresi khawatir.
Arga langsung mengangkat tubuh sang istri yang terduduk di lantai. "Kita ke rumah sakit ya?"
"Gak usah Mas aku minum obat aja," tolak Dira.
Arga pun tidak mau memaksa Dira dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
"Obat kamu ada di tas kan?" tanya Arka yang dijawab anggukan oleh Dira.
"Dengan gerakan cepat Arga mengambil air untuk Dira minum obat. Setelah meminum obatnya napas Dira pun perlahan lahan kembali normal.
Tanpa mengatakan apa pun Arga kembali mengangkat tubuh Dira dan menggendongnya ke kamar.
"Istirahat lah, aku akan ke bawah sebentar," ucap Arga dengan ekspresi yang sulit diartikan, sambil menyelimuti Dira dan langsung keluar dari kamar.
"Maaf Mas ..." gumam Dira sambil menatap pintu setelah Arga keluar dari kamar.
Bersambung . . . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
Favorit and Vote😉
__ADS_1