
Di kediaman Arga.
Arga mendudukkan tubuh Dira di sofa ruang tamu dengan penuh hati hati.
"Kamu nggak mau langsung ke kamar sayang? Supaya kamu bisa langsung istirahat," ucap Arga.
"Gak usah mas, aku ke kamarnya nanti aja," ucap Dira.
"Dir Lo beneran gak papa?" tanya Mita yang masih saja khawatir dengan sahabatnya itu.
"Iya Mit ... Lo tenang aja gue baik baik aja. Kalau Lo terus bersikap seperti ini gue ngerasa kayak orang yang bentar lagi bakalan mati loh Mit," ucap Dira bercanda, tapi ia malah mendapat tatapan tajam dari Mita dan Arga.
"Astaga kenapa kalian berdua terlihat sangat menyeramkan, tatapan kalian bisa buat gue ma–"
"Jangan pernah menyebutkan kata itu!" ucap Arga dan Mita serentak.
Dira langsung menutup telinganya mendengar suara suami dan sahabatnya yang begitu kompak.
"Wah ... kalian berdua bener bener kompak," ucap Arka sambil bertepuk tangan dan menatap Arga dan Mita bergantian.
"Jika orang luar melihatnya mereka pasti akan mengira kalian adalah sepasang kekasih," ucap Dira sambil geleng gelang kepala melihat tingkah suami dan sahabatnya.
"Jangan bercanda gue serius Dir ... awas jangan coba coba menyebutkan satu kata itu," Mita kembali mengingatkan.
"Iya," jawab Dira, ia lebih baik mengiyakan saja ucapan Mita, karna sahabatnya itu sama dengan suaminya, mereka sangat sensitif mendengar satu kata itu, apalagi jika itu keluar dari mulut Dira.
"Anindira!"
Suara seseorang yang sangat menyebalkan bagi Arka tiba tiba terdengar di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," ucap Dira, menjawab panggilan Vino yang tiba tiba masuk tanpa mengucapkan salam.
"He, assalamualaikum ..." ucap Vino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kebiasaan banget sih Dev kalau masuk rumah orang main nyelonong dan teriak teriak kayak di pasar," ucap Dira menatap Vino kesal.
"Iya maaf Dir, habisnya gue panik saat dengar kabar dari nyokap Lo kalok Lo sakit, tapi saat sampai rumah sakit gue cuma ketemu sama mertua dan orang tua Lo, kata mereka Lo udah pulang ke rumah makanya gue buru buru ke sini karna khawatir sama Lo," jelas Vino panjang lebar.
"Makasih Dev udah khawatir sama gue, tapi Lo tenang aja gue sekarang baik baik aja," ucap Dira sambil tersenyum kearah Vino.
"Syukurlah kalau gitu," Vino pun duduk di samping sahabatnya itu. "Dir, Lo harus yakin kalau kali ini Lo juga pasti bisa melewati semuanya seperti waktu itu, jadi jangan patah semangat Lo harus yakin kalau Lo bisa sembuh," ucap Vino dengan ekspresi serius. Ia tentu saja tau soal kondisi jantung Dira waktu kecil, karna ia dan Dira tetanggaan sekaligus berteman sejak mereka kelas satu SD.
"Makasih Dev," ucap Dira kembali tersenyum.
"Sayang kenapa kamu tersenyum manis ke dia," ucap Arga tiba tiba sambil menarik tubuh Dira untuk mendekat ke sampingnya.
"Mas masak aku harus menjawab ucapan Devi sambil cemberut, kan gak sopan, apalagi dia menanyakan keadaan aku karna khawatir dengan aku," protes Dira.
__ADS_1
"Pokoknya gak boleh, senyum kamu cuma buat aku," ucap Arga tanpa ingin dibantah.
Vino dan Arka memutar bola matanya malas melihat tingkah Arga yang mulai menunjukkan kecemburuannya.
"Lo juga Vin, kenapa harus duduk di dekat istri gue? Lo beneran gak ada perasaan sama istri gue kan?" tanya Arka dengan tatapan penuh curiga.
"Astaga Arga ... kalau gue mau udah dari dulu gue nikahin istri Lo, gak akan gue biarin Lo punya kesempatan buat nikahin dia."
"Syukurlah, awas aja kalau Lo berani punya perasaan sama istri gue," ancam Arga, membuat semua yang ada di sana hanya bisa geleng geleng kepala dengan tingkah laki laki dingin di hadapannya yang benar benar berbeda jauh kalau sudah menyangkut tentang Dira.
"Lo tenang aja, Dira sudah gue anggap seperti adik gue sendiri sama seperti Mita, gue akan selalu melindungi mereka berdua jadi jangan coba coba untuk menyakiti mereka," ucap Vino sambil menunjuk Arga dan Arka.
"Gimana kalau Lo yang buat perasaan Mita sakit?" tanya Arka pada Vino.
"Gue gak akan pernah biarkan hal itu terjadi," jawab Vino. "Emang gue pernah buat perasaan Lo sakit Mit?" tanya Vino sambil menatap Mita.
"Nggak lah, yang ada Lo selalu buat gue kesel," jawab Mita dengan ekspresi yang dibuat buat kesal, untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Baguslah kalau gitu."
"Kalian berdua tenang aja gue gak bakalan rebut wanita wanita kalian, karna gue cintanya cuma sama kesayangan gue, ayang Tania," Vino kembali berucap sambil tersenyum, seperti ABG yang baru saja mengenal cinta. Tanpa ia sadari semua yang ia katakan barusan membuat perasaan seseorang semakin hancur.
"Dasar bucin," ucap Mita dengan ekspresi mengejek kearah Vino.
"Lo belum ngerasain aja gimana rasanya jatuh cinta Mit, tuh liat aja si Arga yang dinginnya udah ngalahin kulkas dua pintu bisa terlihat bodoh kalau menyangkut istri tersayangnya."
Dira hanya diam saja menatap Mita, ia sangat paham dengan apa yang sedang dirasakan Mita saat ini, ia tau sahabatnya itu pasti tidak baik baik saja saat mendengar semua ucapan Vino, dan berusaha untuk tetap tersenyum.
"Oh iya ngomong ngomong si Ivan mana ya? Katanya tadi dia bakalan nyusul tapi sampai sekarang dia belum datang juga," tanya Arka sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin perasaan Mita kembali terluka.
"Mungkin dia masih ada urusan," jawab Arka singkat.
"Mit temenin gue ke kamar yuk, gue mau istirahat," ajak Dira pada Mita.
Arga yang mendengar hal itu langsung bangun dari duduknya.
"Kamu mau ngapain mas?" tanya Dira yang melihat Arga menunduk di hadapannya.
"Gendong kamu ke kamar," jawab Arga.
"Gak usah Mas aku masih bisa sendiri, ayo Mit," ucap Dira lalu menggandeng tangan Mita menuju kamarnya di lantai atas.
*****
"Lo baik baik aja Mit?" tanya Dira begitu mereka sampai di kamar.
"Emangnya gue kenapa?" bukannya menjawab pertanyaan Dira Mita malak kembali bertanya.
__ADS_1
"Udah, Lo gak usah sok tegar gue tau apa yang Lo rasain, Lo boleh sedih Mit tapi ingat jangan pernah membiarkan kesedihan itu menghalangi masa depan Lo," ucap Dira lalu memeluk sahabatnya itu.
Mita pun mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya, ia menangis di dalam pelukan sang sahabat. Dira pun membiarkan Mita untuk mengeluarkan tangisnya sambil menepuk bahu Mita semuanya pasti akan baik baik saja.
Setelah mengeluarkan semua mengeluarkan semuanya Mita melepaskan pelukannya. "Dir suara gue gak bakalan kedengaran kan?" tanya Mita.
"Kayaknya sih kedengaran deh Mit," jawab Dira.
"Lo serius Dir?" tanya Mita panik.
"Nggak gue cuma bercanda." jawab Dira santai.
"Sialan Lo Dir," kesal Mita. "Makasih ya Dir, seharusnya kan gue yang menghibur Lo, tapi malah sebaliknya. Dir jangan pernah tinggalin gue ya ... pokoknya Lo harus sembuh," ucap Mita sambil menggenggam tangan Dira.
"Insyaallah Mit, kan hidup seseorang tidak ada yang tau, apakah gue bisa sembuh atau malah sebaliknya, yang Lo harus ingat adalah ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi ke depannya, gue tentu saja akan berusaha semampunya untuk sembuh, tapi semua itu kembali lagi dengan kehendak tuhan Mit," ucap Dira sambil tersenyum.
"Dira," ucap Mita lalu ia pun kembali memeluk Dira, ia tidak tau harus berkata apa, yang bisa ia lakukan adalah hanya berdoa untuk kesembuhan sahabatnya.
Sementara itu di ruang tamu.
"Eh ga coba lihat, bukannya ini laki laki yang ada di foto bersama Dira," ucap Arka sambil menunjukkan ponselnya, tapi kali ini ia tidak membiarkan Arga memegangnya takut ponselnya kembali dibanting Arga.
"Apa lagi yang ingin dia lakukan," ucap Arga sambil menatap layar ponsel yang menayangkan sebuah Vidio life seorang pria yang ingin sekali ia hajar, tapi hal itu tertunda karna ia terlalu fokus pada kondisi Dira.
Di Vidio tersebut laki laki yang merupakan seorang model, sedang melakukan klarifikasi tentang artikel yang tersebar di internet yang membuat kesalahpahaman beberapa hari yang lalu, dan membuat Dira mendapatkan komentar komentar negatif, untungnya Arga sudah menyuruh Rangga untuk menghapus semua komentar yang menyudutkan Dira.
Laki laki itu benar benar melakukan apa yang di perintahkan oleh Ivan, ia mengungkapkan semua perbuatannya yang menjebak Dira, bahkan ia menyebutkan siapa orang yang telah memerintahkannya melakukan hal itu, dan orang itu merupakan pemilik agensi tempatnya bernaung.
"Wah, apa Lo yang udah buat orang itu mengakui kejahatannya yang sudah memfitnah Dira Ga? Gue pikir Lo bakalan langsung melenyapkannya," tanya Arka.
"Entahlah, tapi gue belum meminta bang Rangga untuk mengurus bocah tengik itu," jawab Arga.
"Mungkin bang Rangga berinisiatif sendiri untuk membereskan semuanya, karna tau Lo sedang fokus dengan Dira," ucap Arka.
"Siapa yang melakukannya itu tidaklah penting, yang terpenting adalah orangnya sudah mengakui perbuatannya dan nama Dira tidak tercemar hanya karna berita murahan itu." ucap Vino, yang merasa lega.
"Tapi Dira belum tau soal itu kan?" tanya Arka kembali.
"Nggak, gue sengaja gak kasih tau, gue gak mau Dira sampai kepikiran soal itu, jadi kalian jangan pernah ungkit soal itu di depannya." Arga mengingatkan Arka dan Vino.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
Favorit and Vote😉
__ADS_1