Jodoh Teman Kelas

Jodoh Teman Kelas
BAB 110 : JTK


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian Dira yang cemburu pada sekretaris seksi itu, kini Arga benar benar telah mengganti sekretarisnya dengan seorang laki laki, apalagi setelah kejadian tersebut wanita itu dengan beraninya menggoda Arga secara terang terangan saat ia mengantar berkas ke ruangan Arga dan hal itu membuat Arga murka dan langsung memecatnya.


Kini hubungan Dira dan Arga semakin hari semakin mesra, mereka benar benar tidak terpisahkan, bagaimana tidak, karna Dira setiap hari akan ikut ke kantor Arga, entah kenapa ia yang tidak pernah mau datang ke kantor sang suami dengan alasan takut menggangu pekerjaan Arga, sejak beberapa hari ini selalu ikut ke tempat kerja suaminya itu, bukan hanya itu saja keanehan Dira, ia yang sebelumnya sangat percaya dengan Arga dan tidak pernah mempermasalahkan hal hal kecil kini tiba tiba telah menjelma menjadi sosok istri yang pencemburu, bahkan cemburunya Dira berkali kali lipat dari sebelumnya, tidak jarang ia menangis hanya karna melihat Arga tersenyum pada wanita lain.


Seperti hari ini di ruang kerja Arga. Arga dengan penuh kesabaran sedang membujuk Dira yang sedang merajuk hanya karna ia berjabat tangan sambil tersenyum pada seorang klien wanita.


"Sayang ayolah, aku melakukan hal itu hanya untuk menghormati klien, bukan karna aku tertarik dengannya, lagi pula aku hanya bersalaman saja, tidak melakukan sesuatu yang di luar batas, bahkan kamu sendiri melihatnya kan?" ucap Arga berusaha sabar menghadapi Dira yang beberapa hari ini agak aneh.


"Tapi aku melihatnya dengan jelas kalau tadi Mas tersenyum begitu manis pada wanita itu, padahal biasanya hanya akan memperlihatkan wajah datar pada orang lain," ucap Dira tanpa melihat Arga.


"Sayang dia itu klienku aku tidak mungkin membicarakan soal kerja sama perusahaan dengan ekspresi cemberut kan? Aku juga tidak pernah tersenyum manis padanya, seperti yang baru saja kamu katakan," ucap Arga.


"Iya berawal dari senyum lama lama–"


"Sudah cukup Anindira! Kamu terlalu berlebihan, kalau kamu terus terusan seperti ini itu artinya kamu tidak percaya dengan suamimu, bukankah sudah sering aku katakan kalau aku hanya mencintaimu, jadi aku tidak mungkin melirik wanita lain," ucap Arga yang tanpa sadar membentak Dira, karna menurutnya sikap Dira kali ini terlalu berlebihan, istrinya itu cemburu tanpa alasan yang jelas.


Dira terdiam menundukkan kepalanya sambil meremas tangannya, untuk pertama kalinya suaminya itu membentaknya, walaupun Arga terkenal dengan sifat dinginnya, tapi sejak mereka menikah Arga selalu berbicara dengan lembut padanya, dan saat Arga meninggikan suaranya seperti tadi membuat Dira merasa sedih.


"Maaf Mas kalau sikapku berlebihan, aku hanya takut kamu berpaling dariku, mulai sekarang aku tidak akan melakukan hal itu lagi, kamu bebas bertemu dan menyentuh siapa pun," ucap Dira lirih, cairan bening mulai keluar dari pelupuk matanya.


"Bukan itu maksudku Anindira ..." ucap Arga meremas rambutnya prustasi dengan perubahan sikap istrinya yang sebentar-sebentar berubah ubah.


Dira terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan cairan bening yang jatuh membasahi rok yang ia gunakan.


"Sayang ..." Arga yang menyadari apa yang baru saja ia lakukan menyakiti perasaan istrinya langsung memeluk Dira sambil mengusap usap rambut panjangnya. "Sayang maaf jika ucapan ku barusan menyakitimu," ucap Arga merasa bersalah.


Dira tidak membalas ucapan Arga, ia terisak dalam pelukan sang suami, dan hal itu semakin membuat Arga semakin merasa bersalah pada sang istri.

__ADS_1


Dira menghentikan tangisannya, setelah itu ia kembali berucap, "Mas aku mau pulang," ucap Dira melepaskan tubuhnya dari pelukan Arga.


"Sayang aku benar benar minta maaf, jangan menangis lagi itu sangat melukai perasaanku," ucap Arga sambil menghapus air mata Dira, ia ikut merasakan sesak mendengar Isak tangis sang istri.


"Mas aku ingin pulang," ucap Dira kembali.


"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang," ajak Arga sambil mengusap kepala Dira lembut, lalu ia pun bangun dari duduknya dan menggenggam tangan Dira keluar dari ruangannya.


Dira juga tidak ingin bersikap seperti ini, tapi entah kenapa sudah seminggu ini perasaanya sangat sensitif, terutama jika hal hal yang berkaitan dengan Arga. Ia merasa kesal saat melihat Arga di dekati wanita lain, perasaan was was jika Arga akan berpaling darinya membuatnya tidak bisa mengontrol sikap dan tindakannya.


Sepenajang perjalanan Dira hanya diam saja, ia menyenderkan kepalanya pada jendela mobil sambil menatap jalanan.


"Sayang, kamu masih marah?" tanya Arga karna sejak tadi Dira terus mendiamkannya, raut kesedihan masih terlihat diwajahnya.


Dira hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Sayang aku benar benar minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membentak mu, apalagi sampai membuatmu bersedih seperti ini," ucap Arga, tapi Dira tetap bungkam tanpa mengatakan sepatah kata pun dan tetap asik dengan pemandangan jalanan yang ia lewati.


Beberapa menit kemudian mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah, tanpa mengatakan apa pun Dira langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya dia benar benar masih marah," gumam Arga mengehela napas pasrah dan menyusul sang istri yang masih merajuk.


-


-


-

__ADS_1


Dua hari kemudian.


Arga menatap wajah Dira yang terlihat sangat fokus memasangkan dasi untuknya. Walaupun sedang marah tapi Dira tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasanya. Arga tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Dira, wajah yang sejak dua hari ini terus mendiamkannya karna kejadian tempo hari, padahal beberapa hari sebelumnya istrinya terlihat sangat manja dan terus menempel padanya, kadang juga ia akan marah-marah tidak jelas padanya, tapi hal itu lebih baik dari pada Dira mendiamkannya


"Sayang–"


"Ayo Mas, nanti kamu telat aku sudah minta bibi buat siapkan bekal makan siang kamu," ucap Dira lalu keluar dari kamar.


"Sabar Arga, orang sabar itu di sayang istri," gumam Arga menyusul Dira.


Setelah sarapan Dira seperti biasa mengantar Arga ke halaman depan. Arga mendekat kearah Dira hendak menciumnya.


"Jangan mendekat aku ingin–" Dira tiba tiba saja menutup mulutnya saat Arga mendekatkan wajahnya ke hadapannya.


Arga mengerutkan alisnya melihat hal itu. "Sayang ada apa? Apa kamu masih marah soal kejadian waktu itu? Kalau begitu aku minta maaf," ucap Arga.


"Mas–"


"Sampai kapan kamu akan terus menghukum ku? Aku sudah tidak tahan lagi jika kamu diamkan. Kamu bisa memukulku jika masih marah, tapi jangan mendiamkan ku, apalagi sampai menghindar seperti ini," ucap Arga yang melihat Dira terus menutup hidung serta mulutnya dan terlihat menghindarinya.


"Aku tidak marah Mas, dan aku tidak bermaksud menghindari mu, tapi–"


Hoek!


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa like👍

__ADS_1


Komen


Favorit and Vote😉


__ADS_2