
Dira yang sedang berada di dalam kamar duduk bersandar di tempat tidurnya sambil menonton acara televisi, walaupun hal itu cukup membosankan untuk dilakukan tapi ia tetap menyaksikan acara tv tersebut, karna hanya itu kegiatan yang bisa ia lakukan untuk mengisi waktunya selama di rumah selain bermain ponsel.
Sebenarnya Dira sangat ingin melakukan kegiatan lainnya, tapi Arga selalu melarangnya apalagi beberapa hari terakhir ini entah kenapa ia lebih cepat merasa lelah dan nyeri di dadanya semakin sering ia rasakan, tapi ia sengaja tidak mengatakannya pada Arga maupun yang lainnya, ia tidak ingin membuat orang orang di sekitarnya terus terusan mengkhawatirkannya.
Di tengah tengah kegiatan menontonnya Dira tiba tiba kembali merasakan sakit pada dadanya.
"Ishh ... kenapa sakit sekali ... Shh," Dira terus meremas dadanya saat rasa nyeri itu kembali ia rasakan.
Dengan langkah tertatih Dira pun turun dari tempat tidurnya untuk mengambil obatnya.
Rasa sakit yang ia rasakan kali ini lebih dari biasanya, Dira hanya bisa meremas dadanya, bahkan untuk sekedar memanggil orang orang yang ada di rumah itu pun suaranya seperti tidak bisa keluar, ia terduduk di lantai dengan memegangi dadanya dan sebelah tangannya berusaha untuk meraih obatnya, Dira mulai merasakan penglihatannya semakin menggelap.
"Mas Ar–"
Bruk!
Dira terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri dengan obat yang berserakan.
-
-
-
Arga yang saat ini sedang berada di ruang meeting, entah kenapa ia tiba tiba merasakan perasaan tidak enak, dadanya terasa seperti tertimpa sesuatu, bahkan ia sampai melonggarkan dasinya untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang saat ini ia rasakan, ia sama sekali tidak bisa fokus mendengar penjelasan dari karyawannya yang sedang melakukan persentasi, pikirannya saat ini hanya tertuju pada sang istri yang ada di rumah.
Setelah meeting selesai Arga langsung memeriksa ponselnya untuk menghubungi Dira dan Arga mendapati ada banyak panggilan tak terjawab dari mamanya dan hal itu semakin membuatnya bertambah cemas.
"Dira pasti baik baik saja, palingan mama menelpon karna ingin dibelikan sesuatu," gumam Arga berusaha menepis pikiran pikiran buruknya tentang sang istri.
Ponsel Arga kembali berdering dan tertera nama mamanya di sana.
Arga menarik napas sebelum menjawab panggilan dari mamanya.
"Hallo Ma," jawab Arga berusaha tetap tenang.
__ADS_1
"Ga cepat pulang Dira pingsan lagi dan sekarang mama dan juga papa sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," ucap mama Arga.
Tanpa mengatakan apa pun Arga langsung mematikan sambungan telponnya setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan mamanya tentang Dira.
Tanpa menunggu lama Arga langsung berlari keluar dari perusahaan tanpa mempedulikan tatapan bingung para karyawannya, bahkan ia tidak mendengar panggilan Rangga yang juga ikut berlari menyusul Arga yang terlihat sangat panik.
"Sayang kamu harus baik baik saja, seharusnya aku tetap di rumah menjaga istriku," gumam Arga sambil berlari menuju mobilnya.
"Biar saya yang menyetir, terlalu bahaya jika anda menyetir dalam keadaan seperti ini," ucap Rangga formal karna mereka masih berada di lingkungan kantor.
Arga pun memberikan kunci mobilnya pada Rangga tanpa membantah dan ia pun langsung masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Arga hanya diam saja dan sesekali ia menyeka air matanya yang tanpa sadar sudah membasahi pipinya. Bayangan bayangan buruk tentang istrinya terus berseliweran di otaknya, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri saat mengingat perkataan dokter tentang kondisi Dira yang semakin parah.
"Percayalah kalau Dira adalah wanita kuat, ia pasti bisa melewati semua ini," ucap Rangga menenangkan Arga yang terlihat sangat mencemaskan Dira sambil tetap fokus dengan kemudinya.
"Sayang, tolong bertahanlah ... jangan tinggalkan aku, bertahanlah sebentar lagi aku mohon ... Tuhan jangan ambil istriku begitu cepat izinkan dia untuk lebih lama lagi berada di sisiku ..." batin Arga.
Arga langsung turun dengan tergesa gesa begitu mobil yang membawanya telah sampai di depan rumah sakit.
"Dira masih di tangani oleh dokter, kamu juga harus kuat Ga," mama Arga berusaha menenangkan Arga yang terlihat sangat khawatir sambil mengusap usap bahu Arga lembut.
"Ma aku takut Dira akan meninggalkanku," ucap Arga memeluk mamanya.
Papa Arga yang melihat punggung Arga bergetar mendekat lalu menepuk bahu putranya yang terlihat sangat rapuh itu.
"Benar kata mama kamu Ga, kamu harus kuat, ingat istri kamu di dalam sana sedang berjuang untuk kita semua, berdoalah semoga Dira bisa melewati semua ini dan tetap bersama kita," ucap papa Arga ikut menenangkan putranya.
"Arga tidak akan sanggup bila harus kehilangan Dira," ucap Arga semakin mempererat pelukannya pada tubuh mamanya.
*****
Arga yang terlihat sangat panik terus mondar mandir di depan ruang IGD menunggu dokter yang sedang menangani Dira keluar dari ruangan tersebut. Arga berkali kali mengusap wajahnya sambil menarik napas untuk mengurangi rasa cemasnya, bahkan ia sebentar bentar duduk lalu bangun lagi.
Sesekali ia melihat jam tangannya dan sudah hampir satu jam Dira berada di ruangan itu, namun masih belum ada tanda tanda dokter akan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sementara kedua orang tua Arga hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan Arga tanpa berani mengatakan apa pun, mereka dapat memahami bagaimana perasaan Arga saat ini.
Saat Arga sedang menunggu tampak kedua orang tua Dira datang dengan tergesa gesa.
"Bagaimana keadaan Dira Ga? tanya mama mertuanya khawatir.
Arga menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Ayu merasakan kakinya lemas saat melihat respon Arga, ia hampir saja terjatuh kalau saja suaminya tidak ada di sampingnya.
"Pa putri kita ..." lirih mama Dira mulai terisak.
"Sabar Ma, kita doakan saja semoga putri kita baik baik saja," ucap papa Dira.
Tidak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan itu, Arga dan yang lainnya langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Arga.
"Iya dokter bagaimana kondisi anak kami, dia baik baik saja kan dok?" tanya mama Dira cemas.
"Kerusakan pada jantung Dira sudah semakin parah, dan kita harus segera melakukan operasi transplantasi jantung, untuk mengganti jantung yang sudah rusak itu dengan jantung yang baru, dan kami sudah mendapatkan pendonor yang cocok untuknya," ucap sang dokter menjelaskan tentang kondisi Dira.
Deg.
Arga terdiam saat mendengar ucapan dokter tentang pendonor.
"Kita akan memindahkan Dira keruang perawatan, jadi bapak ibu bisa menemuinya secara bergantian di sana," ucap dokter mengingatkan agar tidak terlalu banyak orang yang masuk ke ruang perawatan Dira.
"Apakah Ivan orang yang akan menjadi pendonor untuk Dira? Apakah ia akan benar benar kehilangan salah satu sahabatnya," batin Arga. Ia sangat senang mendengar kabar kalau Dira sudah mendapatkan pendonor yang cocok, namun di sisi lain entah kenapa ia merasa takut bagaimana kalau pendonor itu adalah Ivan, jika itu benar itu artinya ia akan kehilangan sahabatnya.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
__ADS_1
Favorit and Vote😉