Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Akhir Hidup Si Pemilik Jenglot


__ADS_3

Namun tanpa ia sadari, bahwa sejujurnya tanpa di beritahu pun. Siska sebagai ibunya telah mengetahui tentang putrinya yang di cintai dalam diam oleh sesosok arwah hantu tanpa yang menemani dan menjaganya itu.


Tak aku sangka kau benar-benar mencintai putri sulungku sedalam ini Al? Bahkan tanpa mengungkapkan perasaanmu, kaupun tak segan-segan mencuri ciuman itu. Kalau begitu aku tak ragu denganmu Al, aku percaya suatu nanti kau benar-benar akan bersatu dengannya. Tunggu dan bersabarlah, hingga waktunya tiba nanti aku dengan senang melihatmu bisa bahagia dengan putriku tercinta.


Sementara itu saat Ivone membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Araxi, tanpa sadar Ivone melihat monitor tubuh Araxi menjadi garis lurus, seketika itu membuatnya panik tak karuan.


Sambil tangannya mengambil ponsel pintarnya, untuk menghubungi dan mengabari tentang keadaan Araxi yang tiba-tiba menjadi buruk.


Tentunya Albert tengah membisikkan sesuatu, seketika di buat terkejut dengan teriakan yang dilakukan oleh Ivone.


Dari tempat lain masih dengan Kevin dan Leonard tengah terdiam membisu, tanpa membuka obrolan kembali setelah salah satu diantaranya mendengar pernyataan.


Yang mana membuat seorang Kevin Morgan Adhitya dilanda kebingungan, antara mengatakan jujur atau terus menyembunyikan rahasia tersebut.


Memijat kepala yang sedikit berdenyut itu, dengan terpaksa Kevin akhirnya memutuskan untuk membongkar rahasia itu, agar ia sendiri terbebas dari rasa bersalah yang merenggut pikiran dan hatinya. “Aku akan mengatakan sebuah rahasia yang selama ini tersimpan dengan rapi. Apa kau siap mendengarkan rahasia itu?” ucap Kevin sambil bertanya.


“Katakan langsung pada intinya saja Om. Karena sejujurnya aku sangat tak suka mencampuri urusan pribadimu, bahkan tentang mantan istrimu itu pun bukan kehendakku.” Leonard pun memberitahui Kevin perihal kehidupan dan privasinya, yang tak perlu di buka terlalu dalam.


Biarlah kenangan dan rasa sakit itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan oleh Kevin.

__ADS_1


“Baiklah dengarkan ini dengan baik, bahwa sejujurnya mereka ketiga kembar itu a–!” perkataan Kevin terpotong dengan datangnya deringan panggilan masuk melalui ponselnya.


******


Setelah Theo berhasil menangkap jenglot itu, dengan cepat Alex menghampirinya, untuk mengurung kembali makhluk yang meresahkan warga tersebut.


Agar semua warga di sekitar desa tersebut, tak mendapat teror kembali dari sesosok yang selalu mengganggu kehidupan mereka.


“Maaf ini mau di apakan?” tanya Theo datar.


Tentunya ia tak ingin rasa takut itu terus menyergapnya ketika berhadapan dengan makhluk dari dunia lain.


“Saya tak tertarik dengan hal seperti ini Pak, meskipun saya dapat melihat beberapa makhluk yang biasa di sebut hantu.” Dengan nada datar Theo pun sedikit enggan mengikuti jejak almarhum Kakeknya meskipun sampai sekarang ia mampu melihat apa yang tak seharusnya ia lihat.


“Kalau begitu simpan di tempat yang tak bisa di jangkau oleh manusia kembali, biar bapak yang menyiapkan tempat penyimpanan untuknya.” Setelah berkata demikian Pak Sholeh pun dengan cepat mengambil jenglot tersebut, untuk di simpan di tempat yang tak akan bisa melakukan hal yang membuat warga menjadi resah.


“Pak sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit,” ucap Alexa yang tiba-tiba membuka suara.


Namun niat baik Alexa tak mendapat respons dari pemilik tubuh yang terpakar tak berdaya itu.

__ADS_1


Dengan sedikit terbata-bata di ambang kematian, ia pun menolak untuk di bawa ke rumah sakit. “Tak u–usah membawaku ke sa–sana.”


.


.


.


.


.


Sudah up yo ges


Jangan lupa vote ya beri dukungan untuk karya receh ini


See you next time


Love you all

__ADS_1


__ADS_2