Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Perasaan Asing Antara Raymond & Leonard Pada Triplets


__ADS_3

Tak menjawab ajakan kembarannya, Alexa pun merasakan sesuatu yang terjadi pada desa tersebut, sehingga mau tak mau ia menarik lengan kembarannya dengan cepat untuk segera sampai di desa itu kembali.


Meninggalkan Theo yang terdiam membisu tanpa berniat mengikuti langkah dari seorang gadis yang membuat jantungnya berdebar dengan hebat.


Namun lamunan Theo dikejutkan dengan suara yang sangat ia kenal, “Mengapa kau tak mengikuti mereka? Kau tahu bukan lawan mereka saat ini agak berat, aku tak yakin mereka bisa mengatasinya.”


“Aku tak seperti mereka yang bisa berkomunikasi denganmu,” sahut Theo ketus.


“Pikirkan kembali dan tentukan pilihanmu ini, jika kau tak ingin membantu mereka. Maka selamanya kau akan terus dilanda rasa takut itu, bahkan kau tak akan mendengar suaraku kembali.”


Setelah mengatakan itu sesosok yang selama ini melindungi Theo itupun menghilang kembali, sebelum Theo benar-benar memutuskan pilihannya.


Tanpa berpikir dua kali, Theo pun bergegas menyusul Alexa dan Alex yang tengah berjalan beriringan menuju desa itu, untuk menghancurkan jenglot yang meresahkan masyarakat di desa tersebut.


“Tunggu biar kalian aku antar ke desa itu,” ucap Theo sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam mobil yang di kendarai olehnya.


Mobil tersebut melaju meninggalkan halaman parkiran rumah sakit tempat Araxi di rawat, untuk menuju desa tempat jenglot tersebut berada.


Sementara itu di sebuah kantor setelah mendapat telepon dari Theo asisten sekaligus sahabatnya itupun, Leonard sedikit kesal karena sahabatnya itu meminta izin pada dirinya.


Seakan ada yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu, sehingga tanpa sadar pintu ruangannya di masuki oleh dua orang yang tengah menghampirinya.


“Ada apa Boy?” tanya Raymond pada putranya. “Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?”

__ADS_1


Leonard pun terkejut saat mendapati sang Papa dengan asistennya memasuki ruangan kerja miliknya.


“Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?” Raymond pun mengulang kembali pertanyaan yang ia tujukan untuk putra sulungnya tercinta.


“Tidak ada!” jawab Leonard singkat padat.


Merasa kurang puas dengan jawaban putranya, dengan terpaksa Raymond menyuruh Sean untuk menutup rapat ruangan milik Leonard serta tak lupa ia mengaktifkan peredam suara dari luar, agar seseorang dari luar tak dapat mendengar obrolan yang terjadi di dalam ruangan putranya tersebut.


“Pastikan ruangan Leonard tertutup rapat Se, jangan lupa aktifkan peredam suara dan juga matikan CCTV ruangan ini. Supaya dari luar ruangan tak ada yang bisa mendengar maupun melihatnya!” Perintah Raymond dengan tegas.


Karena ia ingin obrolannya dengan sang putra tercinta tak terdengar dari arah luar ruangannya tersebut.


“Coba sekarang katakan pada Papa apa yang sedang mengganggu pikiranmu itu hm?” setelah Sean melakukan perintah darinya Raymond pun mengulang lagi pertanyaan yang sama pada putranya tersebut.


Raymond sendiripun juga sama, entah mengapa ada perasaan asing yang sedang melandanya, perasaan cemas gelisah semua menjadi satu.


Namun Raymond hanya bisa menutupnya dengan wajah dinginnya itu. Karena ia tak ingin dianggap lemah oleh putra sulungnya tercinta.


“Lalu ke mana asistenmu itu Boy?” tanya Raymond dingin seraya mengalihkan arah pembicaraan. “Bukankah hari ini kamu akan memimpin rapat itu?”


“Theo meminta izin cuti Pa,” jawab Leonard acuh. “Aku sebenarnya malas membahas privasi tentangnya, akan tetapi aku merasa Theo sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Yuk bisa yuk minta kembang sama kopinya ya


Biar makin semangat buat nge up


See you next time


Love you all

__ADS_1


__ADS_2