Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Berharap Bisa Melihat Wajah Kalian


__ADS_3

“Apa kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu? Kau mungkin belum lupa, aku hanya memiliki Leonard dan juga tak lupa dengan ketiga kembar anakku, lalu bagaimana mungkin bisa aku yang saat itu tiba-tiba menghamilimu. Bahkan saat makam mendiang istriku belum mengering, kau dengan sengaja datang dan merusak semua yang ada agar aku bisa menikah denganmu, dan sekarang aku sudah menikah denganmu selama tujuh belas tahun, tetapi jangan harap kau berpikir untuk menggeser posisi Siska dari hatiku.” kata Raymond tanpa menoleh kepala ke arah Marista yang tengah bermain drama. “Sekarang keluar dari ruanganku, ingat dan camkan apa yang aku katakan padamu. Jangan sampai kau membuatku menceraikanmu, jika kau masih tetap ingin hidup denganku, sesuai dengan semua keinginan hatimu itu.”


Dengan membawa amarah dan kekecewaannya yang mendalam, Marista Mayang pun bersumpah akan membalas dendam atas perkataan yang terlontar dari mulut Raymond tersebut.


Bahkan ia pun juga akan melakukan segala macam cara, agar Raymond suaminya tetap berada di dalam jangkauan matanya, meskipun harus membunuh anak kandung dari suaminya yang telah menjadi obsesinya sejak dahulu kala.


Setelah Raymond mengusir Marista, dengan cepat ia memerintahkan Sean untuk membersihkan ruangan miliknya, sebelum ia meluapkan amarahnya lebih dalam.

__ADS_1


Bisa-bisanya Marista Mayang merusak dan menghancurkan barang peninggalan milik mendiang istri tercintanya, bahkan ia sungguh sangat muak bila terusan melihatnya bahkan harus selalu di dekat wanita itu, tanpa pernah bisa menceraikannya.


“Pantas saja putramu tak begitu menyukai keberadaannya karena ini sifat aslinya,” ucap Sean. “Nanti akan aku suruh karyawan bagian office boy untuk membersihkan ruanganmu.”


Tak mengidahkan ucapan yang terlontar dari sahabatnya, ia hanya bisa menatap dingin ke arah barang-barang milik peninggalan mendiang Siska istrinya tercinta, bagaimana bisa wanita tersebut benar-benar sangat gila jika menyangkut perihal tentang kehidupan pribadinya.


“Ray, kau harus berhati-hati terhadapnya, mengingat ia tak segan berbuat sesukanya jika itu menyangkut tentang mendiang istrimu itu,” peringat Sean dengan tegas.

__ADS_1


“Bisakah kau tinggalkan aku sendiri Se,” usir Raymond dengan halus.


“Oke, aku akan pergi, dan untukmu tenangkan pikiranmu terlebih lagi hatimu saat ini, aku sangat yakin kau mampu melewati semua ini,” hibur Sean yang merasa sesak melihat keadaan sahabatnya tersebut. “Bukankah kau menyuruhku untuk menyelidiki latar belakang tentang daftar nama siswa yang kau minta dari pihak sekolahan itu Ray?”


Dengan mengangguk kepala, Raymond pun merasa sedikit tenang saat Sean berusaha menghiburnya, tetapi entah mengapa ia sedikit yakin bahwa salah satu yang mendapatkan donor darah dari putranya itu, merupakan putrinya yang selama ini rindukan.


Jika memang terbukti kebenarannya, ia akan berusaha menyembunyikan identitas mereka dari istri keduanya, mengingat ia sangat bisa mengerti bagaimana istrinya yang tak ia anggap sangat begitu membenci mendiang Siska istrinya tercinta.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku,” pamit Sean. “Lalu bagaimana dengan proposal yang sudah di cek oleh sekretarismu itu Ray?”


“Kau saja yang mengatur proposal itu, nanti aku akan mengecek kembali apa sudah pas atau belum. Dan kembalilah ke dalam ruanganmu, aku benar-benar butuh ketenangan jangan sampai ada orang lain yang mencari keberadaanku. Jika Leonard menghubungi menanyakan soal rapat itu, katakan padanya untuk tak perlu mencemaskan soal rapat ke depannya,” jelasnya tanpa menolehkan kepala ke arah Sean yang hendak beranjak dari ruangan miliknya.


__ADS_2