
“Sa, mengapa kamu harus menceritakan kemampuan kita padanya.” Alex sedikit memprotes karena dia sendiri sejujurnya tak terlalu menyukai kehadiran Leonard.
“Sudah jangan banyak protes atau aku akan mengadukan hal ini pada Ara!” Alexa berkata sambil mengancamnya dengan sarat makna. “Lebih baik kita harus segera memindahkan makam mama, Lex. Kalau bisa makam di sini harus benar-benar kosong. Mengerti maksudku.”
Leonard yang mendengar perbedabatan sang adik kembarnya merasa gemas dengan salah satu di antara kedua kembaran itu seperti ta menyukai keberadaannya.
Apa kamu benar-benar tak suka dengan kehadiranku? Bahkan sejak aku kecil selalu mendambakan dan selalu menunggu kehadiran kalian. Maaf atas ketidakberdayaan Kakak ketika harus melihat mama melahirkan dengan bertaruh nyawa. Karena pada saat itu kan menjadi sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan. Yang tak mengetahui dia meletakkan sesuatu dan itu di depan mataku sendiri hingga detik ini sampai kapan pun tak akan pernah menganggapnya sebagai pengganti mama. Oleh karena itu ketika bertemu kembali dengan kalian maka dengan segenap jiwa raga ini kan selalu melindungi dan menjaga kalian bertiga.
Namun, Leonard tak menyadari dari arah rumah sakit terdapat gadis tomboi yang mendengar semua hal tertuang di batinnya dan sial lagi dialah Araxi.
Alexa yang sedang berdebat dengan kembarannya pun tertegun saat mendengar semua curahan hati dari kakak kandungnya. Dia sedikit menyayangkan sikap ketidaksukaan Alex pada sang kakak tercinta.
“Cepat atau lambat makam mama akan seger diburu. Apa kamu mau jasad tulang mama dibakar lalu abunya dibuang ke laut, hah!” omel Alexa dongkol.
__ADS_1
“Oke-oke, aku diam sekarang.” Alex akhirnya mengalah meskipun wajahnya terlihat menggemaskan di depan Leonard.
“Lihatlah wajahnya sungguh menggemaskan,” ujar Leonard sambil terkekeh pelan.
“Wajar saja, Kak, dia seperti karena ketampanannya ter–” Tanpa sadar Alex membekap kembali mulut kembarannya yang sedang ingin mengatakan kejujuran pada sang kakak tercinta.
“Jangan bilang kalau aku cemburu dengannya,” bisik Alex lirih.
Kedua kembaran itu pun berdebat melalui batin mereka. Sampai deheman dengan nada dingin dari Leonard membuyarkan perdebatan itu.
Keduanya pun kompak berhenti, dan baru menyadari bahwa ada kesamaan nada dingin yang dilontarkan oleh sang kakak. Yang selalu mengingatkannya pada Araxi.
Mau tak mau terpaksa Alexa meminta sang kakak untuk mempercepat proses pemindahan makam mendiang mamanya tersebut.
__ADS_1
“Kak, apa kamu bisa langsung memindahkan makam mama?” Alexa bertanya dengan raut wajah yang terlihat serius.
Leonard mengangguk dan setuju dengan pendapat dari adiknya ini. “Bisa, tapi aku harus menghubungi papa terlebih dahulu. Biar beliau tak kaget soal kepindahan makam mama yang mendadak. Ngomong-ngomong suaramu sangat mirip dengan mama.”
“Jangan terlalu berlebihan memujinya. Nanti bisa besar kepala, dia,” sahut Alex ketus sambil menunjuk ke arah Alexa.
Alexa mengerucut kesal saat Alex tak terima suara darinya dinyatakan mirip dengan mendiang mama tercinta. “Apa kamu iri denganku, hah!”
“Tidak.”
“Setelah dari makam mama kita harus membantu Ara untuk ….” Alexa kebetulan tak sengaja melihat Araxi memasuki dimensi ruang waktu milik hantu anak lelaki yang berada di rumah sakit. Namun, saat dia sedang membuka suara Alex menyelanya.
“Untuk apa memangnya, Sa?” sela Alex dengan bertanya.
__ADS_1
Alexa menggeleng kepala bukan karena tak mau menjawab pertanyaan dari kembarannya.
Hanya saja dia sendiri takut dengan kemurkaan Alex saat mengetahui Araxi diam-diam masuk ke dalam dimensi ruang waktu.