
Ges aku cuman mau bilang ya di puisi tadi yang sebelumnya aku tulis itu ingin meminta bantuan pada kalian untuk mendoakan seluruh korban yang terkena erupsi gunung Semeru di Lumajang
Semoga yang meninggal di lapangkan kuburnya dan husnul khotimah
Keluarga yang ditinggalkan di beri kesabaran dalam menghadapi cobaan.
.
.
.
.
.
Iapun tak habis pikir, bagaimana bisa mantan istrinya ini melakukan sesuatu yang membuatnya mengcengkeram erat setir kemudi, sehingga menarik perhatian putrinya yang sedari tadi diam melihat keadaan Papanya tersebut.
Mengingat sampai kapanpun ia akan selalu melindungi dan menjaga bayi kembar yang dulunya ia tolong itu.
“Papa,” suara panggilan dari putrinya memecahkan keheningan, dan membuyarkan lamunan pikirannya. Ada apa denganmu Pa? Apa yang sedang Papa pikirkan?
__ADS_1
Karena sang Papa tak menjawab pertanyaan darinya, dengan terpaksa meninggalkannya seorang diri, untuk berjalan ke arah kamar inap Araxi, sembari membanting pintu mobil tersebut dengan keras.
Yang mana hal itu langsung membuyarkan lamunan pikiran Kevin. “Apa Ivone marah denganku?” beo Kevin sembari menatap punggung putrinya yang telah menjauh darinya.
Tak ingin ketinggalan jauh dengan terpaksa, Kevin mengejar langkah putrinya yang telah melewati beberapa lorong koridor rumah sakit.
Sampai pandangan netra matanya menatap ke arah empat orang berjalan beriringan, yang secara tak langsung berpapasan dengan putrinya.
Menghentikan langkah kakinya, Kevin hanya bisa memandangi obrolan mereka dari jarak yang tak begitu jauh, sehingga iapun memutuskan untuk diam sambil mendengar obrolan keempatnya yang terlihat begitu sangat serius.
Ivone sendiri yang tengah kesal dengan tingkah laku Papanya itupun memutuskan, untuk berjalan terlebih dahulu sambil membatin dengan perasaan yang begitu sulit diartikan. Mau sampai kapan Papa seperti ini, justru Papa semakin tak bisa memahami perasaanku. Andai Papa tahu, bahwa saat ini aku sangat begitu terluka dan kecewa, akibat perlakuannya padaku yang tak pernah adil.
Tanpa sadar ketika tengah membatin, dari arah lain bahu Ivone bertabrakan dengan bahu Theo, yang tengah melewati lorong koridor, sehingga dengan marah Ivone memarahi orang yang menabraknya itu.
Saat Theo berusaha membalasnya, ia terkejut bahwa orang yang sedang bertabrakan dengannya itu merupakan sahabatnya itu sendiri. “Di mana-mana, kalau jalan itu pakai kaki Von.” balas Theo dengan balik kesal.
Leonard, Alex, dan juga Alexa yang mendengar perdebatan dua orang itupun hanya bisa menahan tawa, entah mengapa mereka sedikit terhibur dengan perdebatan dua orang tersebut, sampai Alexa menanyakan pada Ivone yang terlihat terburu-buru melewati lorong koridor rumah sakit. “Kak, mengapa jalanmu seperti terburu-buru Kak? Apa yang sedang terjadi?”
“Tak ada, hanya saja aku sedang kesal dengan Papa,” jawab Ivone acuh.
Alexa pun mengerut kening heran mendengar jawaban dari Ivone, entah mengapa Ivone tengah menyimpan suatu rahasia yang di sembunyikan dengan rapi, tanpa semua orang lain pun tahu.
__ADS_1
Tak ingin terlalu mencampuri urusan pribadi Ivone, Alexa pun dengan terpaksa bertanya kembali tujuan Ivone yang tengah terburu-buru itu. “Lalu, kalau Kakak sedang kesal dengan Om Kevin, tujuan Kakak jalan terlihat terburu-buru apa ingin menemani Araxi di dalam kamar rawat inapnya?”
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alexa, justru Ivone bertanya balik padanya. “Eh, kau sendiri mau ke mana? Kenapa Araxi kau tinggalkan sendirian di kamarnya?”
Alexa pun mendengkus kesal, kakaknya satu ini selalu saja membuat darahnya mendidih, tetapi ia juga menyayanginya dengan tulus.
Karena hanya ialah orang yang selalu menjadi tempat curahan hatinya, di saat tengah dilanda gundah gulana.
“Aku mau pergi sama Alex dan juga dia Kak,” jawab Alexa sambil menunjuk ke arah Leonard dan juga Theo.
.
.
.
.
.
See you next time
__ADS_1
Love you all