
“Sejak kapan kamu bangun dari masa kritisnya itu Ra?” tanya Alexa yang tengah menghampiri kembarannya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alexa, justru Araxi menanyakan perihal tentang kedua kembarnya yang dikalahkan oleh seorang pria dalam menaklukkan sesosok makhluk yang meresahkan itu. “Kamu dan Alex kenapa bisa dikalahkan olehnya?” tanya Araxi yang mengalihkan obrolannya itu.
“Hei aku itu tanya padamu Ra! Kenapa malah mengalihkan pertanyaanku?” gerutu Alexa sembari bersungut-sungut. “Dari mana juga kamu tahu kalau aku dan Alex kembali ke desa itu?”
Alex yang sedari tadi menyimak pun angkat suara, sepertinya Alexa melupakan suatu kemampuan Araxi yang sangat bisa mengetahui perihal keberadaan mereka itu. “Sepertinya ada yang sedang melupakan kemampuan kembarannya itu,” ucap Alex dengan nada menyindir.
Alexa yang mendengar sindiran itupun hanya bisa meringis pelan, sambil menunjukkan giginya dengan senyum manis, bahwa ia sangat lupa dengan kemampuan Araxi yang mampu mengetahui keberadaan mereka.
Meskipun saat itu Araxi dalam keadaan masa kritis, akan tetapi ia bisa mengetahui perihal kedua kembarnya itu.
“Apa kalian juga mengenal dengan pria itu?” tanya Araxi dingin.
Kedua kembarnya kompak menggeleng, akan tetapi tidak bagi Araxi sendiri pun yang mengetahuinya tentang siapa sebenarnya pria yang bernama Theo tersebut.
__ADS_1
“Mengapa kenapa kau bertanya seperti itu padaku dan Alex? Apa kamu sendiri yang sangat mengetahuinya?” tanya Alexa balik.
“Itu bukan pekerjaanku mengorek informasi tentang pria yang mengalahkanmu,” jawab Araxi acuh. Maaf aku tak bisa mengatakan hal ini pada kalian, mengingat sampai saat ini nyawa kita masih menjadi incaran, dan juga pria itu aku memang sangat tahu, bahkan Albert sendiri pun yang sangat mengenal dekat dengannya. Batin Araxi meminta maaf pada kembarannya.
“Aku kira kamu tahu sesuatu Ra? Mengingat kamu juga tak terlalu begitu suka menggunakan kemampuanmu itu?”
Saat mereka asyik mengobrol, tanpa sadar baik Alexa maupun Alex menyadari bibir pucat Araxi terlihat sedikit membengkak, akibat ulah Albert yang menciumnya kedua kali bahkan dengan sedikit rakus.
Namun keduanya pun tak berani bertanya terus terang pada kembarannya itu, mengingat sampai saat ini Araxi masih sedikit lebih sensitif perihal tentang perasaan hati.
“Alex apa kamu sudah menyampaikan pesan dari Om Kevin?” tanya Alexa yang teringat akan pesan untuk Araxi. “Kamu saja yang mengurus Araxi terlebih dahulu, mataku sudah mengantuk nih!” Titah Alexa sembari menunjuk ke arah dua matanya yang terlihat mengantuk itu.
Alex pun tak bisa berkutik dengan titah dari Alexa, dengan pasrah ia memutuskan menjaga Araxi sambil mengingatkannya untuk meminum obat tersebut.
Setelah melihat Alexa yang terlelap di alam mimpi. Alex pun mengajak kembarannya mengobrol sambil menanyakan tentang pria yang sangat mengganggu pikirannya.
__ADS_1
“Ra apa tadi kamu sudah meminum obat?” tanya Alex membuka suara untuk memecahkan kesunyian di dalam kamar inap tersebut.
Tak mendapat jawaban respons dari Araxi, Alex pun mengganti topik pertanyaan dengan menanyakan tentang pria yang mengalahkannya itu. “Lalu kalau kamu tak mau meresponsku tentang obatmu itu tak masalah Ra! Hanya saja yang mengganggu pikiranku adalah pria yang mengalahkanku itu. Apa kamu benar-benar tak mengenalnya?”
“Seharusnya kamu bisa mencari tahu sendiri Lex. Gunakan kemampuanmu itu dengan baik, aku sangat yakin kamu pun tahu sesuatu yang terjadi denganku dan juga Albert!” sahut Araxi dingin nan tegas.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next time