Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Memasuki Dunia Alam Ghaib


__ADS_3

Setelah itu Kevin tak lagi menatap ke arah Araxi, dengan cepat dirinya kembali bertanya pada putrinya tercinta.


Tentang kenekatannya dalam mengikuti langkah kaki ketiga kembar tersebut. “Sayang,” panggil Kevin dengan lembut.


“Apa kamu yakin ingin ikut dengan mereka?” tanya Kevin sembari memastikan keadaan putrinya tercinta.


Mendengar pertanyaan dari sang Papa membuat Ivone mendengus, Papanya ini sama sekali tak pernah berubah. “Ayolah Pa izinkan aku ikut dengan mereka,” pinta Ivone dengan memelas.


Karena tak tahan dengan wajah memelas putrinya, mau tak mau Kevin akhirnya mengizinkan Ivone pergi mengikuti si kembar tersebut berada.


“Baiklah Papa mengaku kalah berdebat denganmu. Papa akan mengizinkanmu untuk ikut dengan mereka. Dan Papa yang akan mendampingi kalian ke desa itu, apa kamu tak keberatan sayang?” tanya Kevin pada putrinya.


“Tidak!”


Sudut bibir Kevin berkedut, putrinya ini telah dewasa. Entah mengapa sifat keras kepalanya sedikit menurun dari mantan istrinya, ia berusaha menepis perasaan yang mengganjal dihatinya.


Tentunya ia menjadi takut putrinya tersebut menjadi seperti mantan istrinya itu, meskipun Kevin tak pernah mempermasalahkannya.


Namun melihat reaksi tersebut, benar-benar mengingatkan akan obsesinya seseorang dimasa lalu.


‘Papa sangat takut sekali sesuatu terjadi denganmu, semoga saja kamu tak seperti Mamamu!’ gumam Kevin lirih tanpa terdengar oleh siapa pun.


Kevin sendiri pun tak menyadari ada seseorang yang begitu tajam mendengar semua yang dilontarkan oleh dirinya.


Di dalam jiwa Araxi berada dengan berdebat dan beraguman pendapat, yang mana membuat keduanya tak mau mengalah.


Karena sesosok tersebut tak mengizinkan Araxi kembali terlebih dahulu, sebelum ia menjelaskan semua yang berhubungan dengan seseorang yang tengah mereka kejar, sampai ke alam ini.


“Hei tunggu dulu jangan kembali,” cegahnya dengan menahan langkah kaki Araxi. “Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu.”


Memutar bola mata malasnya, Araxi pun benar-benar tak mengidahkan sesosok tersebut, yang tengah menahan langkahnya untuk kembali ke dalam tubuhnya.


Namun suatu hal tak terduga pun terjadi, telinga tajamnya kembali mendengar gumaman seseorang yang berasal dari orang yang sangat terluka.

__ADS_1


“Kau pasti telah mendengar hal itu bukan? Bahkan emosimu kembali mencuat, setelah mendengar itu.”


Bukannya menjawab justru Araxi bertanya balik pada sesosok tersebut. “Lalu mengapa kalau aku mendengarnya? Lagi pula mengapa juga kau menahan kakiku ini. Dan juga aku harus segera ke desa itu.”


“Sudah aku katakan bukan. Kau akan kembali setelah mendengarkan semua yang akan aku sampaikan.”


“Katakan!” desak Araxi tak sabar.


“Kau tahu mengapa hanya dirimu yang bisa mendengar penderitaan mereka?” tanyanya pada Araxi.


Araxi mengernyit dengan bingung, mengapa hanya ia saja yang mampu mendengar penderitaan dua orang tersebut.


“Karena ada sesuatu besar yang sedang aku dan leluhurmu incar. Kebetulan kau mempunyai kemampuan yang sangat lebih, tetapi hanya kau dan salah satu kembaranmu yang dijaga ketat olehku dan leluhurmu.” Begitu penjelasan yang masih membuat Araxi menjadi bingung.


“Kau tak usah bingung tentang siapa yang menjaga kembaranmu,” sahutnya yang mengerti pikiran Araxi. “Belum saatnya beliau muncul sepertiku.”


“Lalu kapan aku akan kembali ketubuhku?” tanya Araxi dengan dingin.


Dengan berdehem sesosok tersebut terus memberi Araxi peringatan untuk berhati-hati, agar ia dengan kembaran tak terlalu mencolok bila sedang menolong para hantu yang masih penasaran.


“Mengincarku?” beo Araxi dingin. “Itu tak akan mungkin terjadi denganku dan kembaranku.”


“Karena orang yang kau hadapi nanti itu adalah ...” tak melanjutkan perkataannya dengan cepat ia melempar Araxi untuk kembali ke tubuhnya sendiri.


Saat membuka mata Araxi di kejutan dengan mobil yang bergerak melintasi jalanan sunyi, menengok ke arah kanan dan arah kiri membuat Kevin mengernyit bingung saat melihat tingkah laku Araxi.


“Ada apa Ra?” tanya Alexa bingung.


“Tidak ada!” jawab Araxi cepat. “Apa kau yakin masih ikut denganku ke desa itu?” tanya Araxi dingin.


“Hei kamu bertanya pada siapa Ra?” tanya balik Alexa.


Araxi mendengus mendengar pertanyaan balik dari saudari kembarannya. “Aku tak bertanya denganmu bodoh!” jawab Araxi sambil melipat tangan di perutnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan yang terlontar dari Araxi, membuat Alexa mengerucut kesal. Entah mengapa kembarannya ini selalu berkata pedas saat akan membuka mulut.


“Bisa tidak kamu tak mengataiku bodoh,” omel Alexa dongkol.


Mengendikan bahunya dengan acuh, Araxi pun terus memperhatikan jalanan yang sedang mereka lewati.


Netra matanya pun memicing ke arah jalanan yang mulai sepi, Araxi pun berpikir dan menebak mengapa jalanan sepi ini yang mereka lewati, atau mungkinkah mereka memasuki area yang sangat berbahaya?


Itulah yang menjadi tanda tanya dipikirannya.


Seperti yang Araxi tebak, mobil yang di kendarai oleh Kevin itu memasuki kawasan yang paling angker, hal tersebut semakin membuat Araxi tertantang untuk berhadapan dengan hantu lain yang membuatnya semakin bersemangat menghadapinya.


“Ara,” panggil Alex dari arah depan kursi penumpang. “Kita semua ada di mana ini?” tanya Alex dengan bingung.


“Menurutmu!” jawab Araxi singkat dan padat. “Seharusnya tanpa bertanya pun, kamu sudah menebak kita semua berada di mana. Dan untukmu Om jangan pernah berhenti sebelum aku memberimu perintah, karena kita semua sedang masuk ke dalam dunia lain.”


“Apa!” pekik Alexa dan Ivone bersamaan.


“Lebih baik kalian berdua diam. Jangan banyak berbicara, saat ada yang memanggil nama kalian. Jangan pernah sedikitpun untuk menoleh ke arah belakang.” Titah Araxi dengan nada dingin nan tegas.


Membuat nyali keduanya menciut tanpa berani membantah perintah dari Araxi.


Namun saat mobil yang di kendarai Kevin melaju dengan pelan, tiba-tiba mobil tersebut berhenti mendadak. Tentunya Araxi pun mengetahui siapa yang telah menghentikan mobil tersebut, karena Araxi bisa merasakan hawa dari pemilik alam ghaib yang tengah mereka masuki itu.


Tanpa di panggil oleh Araxi pun dengan sendirinya Albert telah datang ke hadapannya, untuk membantu Araxi keluar dari alam ghaib tersebut.


“Bagaimana kau bisa masuk ke alam ini Ra?” tanya Albert dengan bingung.


Tak mengidahkan pertanyaan dari Albert Araxi pun mengamati keadaan sekitar dari dalam mobil tersebut, hingga netra matanya memicing ke arah sebuah warung dari hutan itu.


Namun itu bukanlah warung biasa, akan tetapi merupakan warung yang di jaga oleh penghuninya yang selalu meminta tumbal pada manusia yang melintas di daerah kekuasaannya.


Karena tak ingin membuat kedua orang di dalam mobil celaka, dengan terpaksa Araxi memukul tengkuk mereka hingga membuat keduanya pingsan.

__ADS_1


Agar keduanya tak di incar oleh penghuni alam ghaib tersebut.


“Kalian berdua apa siap berhadapan dengan penghuni hutan ini?” tanya Araxi dingin. “Karena hutan ini adalah kawasan yang sangat terlarang, sehingga mobil Om Kevin masuk ke dalam wilayahnya.”


__ADS_2