
Sementara itu dari luar kamar inap Araxi. Kevin yang baru saja tiba dari kamar mandi itu tanpa sengaja matanya menatap ke arah Ivone yang tengah berjalan menghampiri dirinya.
Merasa gemas dengan putrinya itu membuat mata Kevin tak berhenti berkaca-kaca, sejak menjadi bayi merah yang selalu melekat dalam dekapan hangatnya, ia sangat bersyukur bisa menyayangi dan mencintainya tanpa syarat.
Meskipun bayi merah itu yang kini telah menjelma menjadi seorang gadis nan cantik itu pun tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita yang melahirkannya, akan tetapi ia tak pernah melihatnya mendendam pada seseorang yang telah menorehkan luka dihatinya tersebut.
“Sayang jangan lari-lari begitu nanti kamu bisa jatuh,” tegur Kevin yang berhasil menangkap dan mendekap tubuh putrinya tercinta.
“Ckck, Papa kenapa selalu posesif denganku sih. Aku itu bukan lari tapi jalanku saja yang kecepatan,” sahut Ivone sambil mengelak.
Sudut bibir Kevin pun berkedut, ia pun sangat yakin putrinya pasti mengelak saat dirinya menegur cara berjalan menghampirinya itu.
__ADS_1
“Oh iya Papa habis dari mana?” tanya Ivone yang tengah menatap ke arah Papanya.
“Papa habis dari kamar mandi sayang. Memangnya kenapa?” jawabnya dengan balik bertanya.
Ivone pun menggeleng kepala, berarti sedari tadi Papanya itu sama sekali belum masuk ke dalam kamar inap Araxi.
Tentunya ia bisa menebak di antara ketiganya, pasti dua dari orang di dalam sudah bangun tidur. “Jadi Papa dari tadi belum masuk ke dalam?”
“Kan sudah Papa bilang ke kamu. Kalau Papa barusan dari kamar mandi sayang,” ucap Kevin yang mengulang kembali jawabannya. “Lalu kamu sendiri apa sudah kenyang makan sendiri di kantin?”
“Saat aku sedang makan tadi, Leonard tak sengaja menyapa dan menggangguku makan, bahkan Theo juga sama tak pernah berubah dengan menjahiliku. Dasar pria gila dan menyebalkan,” gerutu Ivone sembari mengadu pada Papanya tentang kejahilan dua sahabat gilanya.
__ADS_1
“Jadi kamu di sana sedang melakukan reunian dengan para sahabatmu?” tanya Kevin yang heran dengan tingkah laku putrinya.
Tak menjawab pertanyaan dari Papanya, Ivone memilih mengangguk kepala akan tetapi ia baru teringat tentang obrolan yang tengah sahabatnya itu lakukan.
“Oh iya Pa, sebelum aku kembali dari kantin tadi aku tak sengaja mendengar obrolan mereka Pa.” Ivone pun memberanikan diri untuk memberitahukan pada Papanya, bahwa ia masih sangat ingat dengan jelas obrolan yang sedang dibicarakan oleh kedua sahabatnya tersebut.
“Memangnya apa yang sedang mereka bicarakan sayang. Sepertinya serius sekali?” tanya Kevin dengan nada candaan.
Dengan jengkel Ivone pun menatap tajam ke arah Papanya, bisa-bisanya Papanya itu sedang mencandai ucapan yang terlontar dari bibirnya.
“Papa,” protes Ivone jengkel. “Kalau Papa masih nekat mencandai ini, aku tak akan memberitahumu tentang obrolan mereka.” Dengan jengkel Ivone pun menegur Papanya untuk tak bercanda, saat ia tengah serius memberitahukan pada Papanya tentang apa yang ia dengar dari dua orang sahabatnya.
__ADS_1
“Oke maaf kalau begitu sayang. Papa tak akan mencandaimu kembali,” sesal Kevin dengan raut wajah yang terlihat serius.
“Baiklah Pa, aku langsung ke intinya saja supaya Papa tak bertanya lagi padaku!” ucap Ivone serius. “Aku tadi tak sengaja mendengar obrolan mereka mengenai seorang dokter yang menangani Araxi, akan tetapi aku tak terlalu jelas mendengar obrolan mereka. Hanya saja aku menangkap obrolan mereka perihal tes begitu Pa,” sahut Ivone yang langsung menjelaskan inti dari obrolan yang tak sengaja ia curi dengar.