
Kembali lagi di sebuah rumah sederhana dengan seorang Alexa yang tengah mondar-mandir di depan kamar saudari kembarnya itu pun menghela napas berat.
Hal tersebut tidak luput dari pandangan Alex yang tengah berjalan menghampiri dirinya.
“Sa,” suara bariton milik Alex seketika menghentikan langkah Alexa yang tengah mondar-mandir di depan kamar Araxi saudari sulungnya tersebut. “Apa yang kamu lakukan di depan kamar Ara?” tanya Alex bingung.
“Ara kenapa dari tadi tidak keluar kamar, sejak dia pulang dari sore sampai sekarang belum nampak batang hidungnya.” Kata Alexa sembari tetap terus bermondar-mandir.
Yang mana hal tersebut membuat Alex mendengus melihat tingkah laku dari Alexa.
“Duduklah Sa, aku pusing melihatmu mondar-mandir seperti sedang menyetrika baju yang sedang kusut,” ejek Alex dengan sindiran yang di tuju oleh Alexa.
“Alex kenapa kamu tidak khawatir dengan keadaan Araxi?”
“Kalau begitu kamu saja yang masuk kedalam kamarnya. Apa berani!” tantang Alex pada kembarnya.
Dengan bibir mengerucut mau tak mau Alexa pun menarik napas panjang, memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar saudari kembarnya tersebut.
Namun tiba-tiba ada sesosok pocong yang mengingatkan dirinya yang tengah berusaha membuka pintu kamar tersebut.
“Itu kau tidak bisa mengganggunya, karena dia memang sedang tidak ingin di ganggu,” ucap pocong itu.
“Apa maksudmu?” tanya Alex.
“Apa kalian berdua tak bisa merasakan apapun?” tanya balik pocong itu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari dua orang kembar berbeda gender itu pun, membuat sang pocong tersebut terheran dengan kemampuan yang di punyai oleh tiga kembar indigo itu.
Namun Alexa pun membuka suara untuk meramaikan keheningan yang tercipta diantara dirinya dengan Alex yang tengah berusaha mencari sesuatu yang membuat Araxi tidak ingin diganggu.
“Apa Araxi sedang ada dimensi ruang dari arwah penasaran yang mengikutinya?” tanya Alexa dengan penasaran.
“Sa,” panggil Alex yang tiba-tiba sadar akan sesuatu. “Lebih baik kita tunggu Araxi sampai selesai, sepertinya dia tidak ingin diganggu oleh kita. Nanti biar aku yang meminta bantuan pada Albert.”
Namun tak lama kemudian Albert pun datang dengan sendirinya, tentunya tanpa di panggil oleh Alex pun seketika Albert sudah berdiri tak jauh beberapa jarak darinya.
“Ada apa kau memanggilku?” tanya Albert.
“Itu loh Araxi sedari tadi berdiam diri dikamarnya. Aku pikir ada sesuatu hal yang terjadi dengan Araxi, apa kau bisa melihat apa yang dilakukan oleh Araxi?” jawab Alexa dengan meminta bantuan pada Albert untuk memeriksa keadaan saudari kembarnya itu.
Mata yang selalu menatap dingin itu pun tengah berada di sebuah dimensi ruang waktu dari sesosok arwah yang mengikutinya.
“Apa yang dilakukan oleh Araxi?” gumam Albert yang terheran melihat tingkah laku Araxi. “Apa jangan-jangan dia sedang berada di dimensi ruang waktu?”
Karena terus penasaran dengan yang dilakukan oleh membuat Albert sedikit mencemaskan keadaan Araxi.
Ya dimana seorang Albert mencemaskan energi Araxi bisa terkuras jika ia terlalu lama menggunakannya.
Namun bukan berarti Araxi bisa selemah itu seperti Alex, justru ia bisa lebih lama melakukan apa yang dia inginkan.
“Arwah siapa yang sedang kau tolong itu Ra?” beo Albert seraya meninggalkan Araxi seorang diri.
__ADS_1
Untuk melaporkan apa yang telah dilihat oleh Albert sebelumnya pada Alexa dan Alex yang tengah berada di depan kamar pribadi Araxi.
“Bagaimana keadaan Ara? Apa yang sedang dilakukan olehnya di dalam kamar ini? Mengapa harus mengurung diri segala” tanya Alexa dengan cecaran yang di tuju untuk Araxi pada Albert yang tiba-tiba keluar dari kamar tersebut.
“Dia saat ini tidak bisa kalian ganggu,” jawab Albert datar.
“Kenapa tidak bisa diganggu?” tanya Alex yang membuka suara.
“Araxi kalian sedang ada di dimensi ruang waktu milik arwah penasaran yang mengikutinya.” Kata Albert dingin nan tegas. “Untuk itulah kalian tidak bisa mengganggunya.”
“Kenapa dia harus melakukannya seorang diri?” tanya Alexa yang merasa heran dengan kepribadian Araxi.
“Mungkin saudara kembarmu itu tidak ingin kalian membantunya, bisa juga dia tidak ingin privasinya di ganggu,” ujar Albert yang menimpali pertanyaan dari Alexa.
“Sudahlah Sa, sebaiknya kita menunggu Araxi hingga selesai. Aku sangat yakin dia punya alasan lain, mengapa tidak ingin merepotkan kita,” ucap Alex yang mencoba memberi pengertian pada Alexa.
Karena Alex pun lebih memahami kepribadian dari Araxi, terlebih lagi ia pun sendiri bisa merasakan bahwa sesosok hantu tampan yang baru saja keluar dari kamar Araxi itu pun menyimpan perasaan yang mendalam terhadap saudari kembarnya tersebut.
Namun dirinya lebih memilih bungkam, karena Alex tidak ingin mencampuri sesuatu yang bukan menjadi bagian urusannya.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Alexa seraya menghela napas panjang. “Kalau begitu kita tunggu saja disini bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?”
Semuanya pun kompak mengangguk, dan menunggu Araxi yang saat ini masih berada di dalam dimensi ruang waktu milik arwah Sumarni yang mengikuti Araxi hingga sampai ke rumah ini.
Hal tersebut membuat Araxi mengambil alih semua yang biasa di lakukan oleh Alex.
__ADS_1