
Saat Sean tak berada di dalam ruangan, dengan gerakan cepat ia mematikan CCTV di dalam ruangannya, lalu kemudian ia pun melampiaskan amarah dan rasa kesalnya pada Marista Mayang, tanpa memedulikan darah segar yang mengalir di sela jarinya tersebut.
Sejauh apapun kau ingin menggeser Siska dari posisi hatiku, kau tak akan pernah bisa menggantikannya. Karena bagiku kau bukanlah mencintaiku, tetapi obsesimu padaku yang membuatku begitu membencimu.
******
Suasana kamar inap Araxi pun mendadak menjadi hening saat mereka tak mengobrol kembali, tetapi tidak dengan Alex dan Araxi melalui telepati batin masing-masing mereka membahas perihal makam sang Mama yang tengah diincar tersebut.
“Apa kamu mendengar semua itu Ra?” tanya Alex begitu mereka sudah bertelepati.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alex, dengan nada dingin Araxi justru memerintah kembarannya untuk segera menyelamatkan tulang milik mendiang mama kandungnya tercinta.
“Kau pergilah dengan Sasa,” ucap Araxi. “Selamatkan tulang milik Mama, apapun yang terjadi, jangan sampai orang lain tahu.”
__ADS_1
Araxi bukan tak ingin menjawab, hanya saja ia terlalu malas untuk mendebatkan suatu yang tak pasti, tentunya tanpa Alex bertanya pun ia juga telah mendengarkan semua pembicaraan Papanya dengan seseorang yang mereka sebut ibu tiri.
“Lalu siapa yang akan menjagamu di sini Ra? Apa tak apa kamu di jaga dengan Albert, sementara nanti Angel yang menemaniku dan Sasa? Karena aku ...”
Perkataan Alex pun di sela langsung oleh Araxi sendiri. “Pergilah dengan mereka semua, kamu bawa semuanya biar bisa menemanimu di sana.”
Alex pun merasa heran dengan tingkah laku dari Araxi, entah mengapa kembarannya satu ini menolak tawaran untuk di temani oleh Albert, apa mungkin kembarannya itu kesal dengan Albert.
Ini tak sesederhana yang di pikir oleh Alex, dan ia pun menebak bahwa kembarannya tersebut itu masih belum terlalu bisa menerima kenyataan, bahwa dia begitu sangat di cintai oleh hantu tampan yang selama ini mereka.
Yang membuat Araxi mendengus kesal dengan keputusan yang di ambil Alex. Bukan tak ingin di jaga oleh Albert, hanya saja ia terlalu malas bertatap muka jika sudah menyangkut hantu tampan tersebut.
Obrolan mereka pun terputus saat mendengar teguran dari Alexa, keduanya tak menyangka bahwa Alexa sedikit mendengar obrolan lewat telepati batin masing-masing.
__ADS_1
“Hei, kalian berdua kenapa curang sekali,” gerutu Alexa sambil mengerucut kesal.
“Maksud kamu apa Sa?” tanya Alex.
“Pikir sendiri,” jawab Alexa dengan nada ketus.
Obrolan mereka pun menarik perhatian dua orang pria yang menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, di antaranya adalah Leonard tak menyangka adik kembarnya ini memiliki sifat yang sangat berbeda, bahkan ia sangat bisa memahami sifat dingin Araxi justru turunan dari sang Papa tercinta.
“Kalian bertiga sedang membahas apa sih?” tanya Leonard sembari ikut menimbrung obrolan ketiga adik kembarnya.
“Kita sedang membahas perihal tentang Mama Kak,” jawab Alexa dengan nada lembut.
Kening Leonard mengerut bingung saat mendengar obrolan dari adik kembarnya tentang Mama mereka, apakah ada yang sedang ia lewatkan, hal itulah yang saat ini mengganggu hati dan pikirannya tersebut.
__ADS_1
“Lalu apa kalian bertiga ingin mengunjungi makam Mama?”
“Tidak Kak, yang akan mengunjungi Mama nanti aku dan Alex,” jawab Alexa sambil balik bertanya.