
Sementara itu masih di tempat yang sama, di sebuah kantor perusahaan milik Raymond Wesley Wiratmaja itu. Terdapat seorang wanita paruh baya yang bernama Marista Mayang di buat geram dengan laporan putrinya tercinta, yang mengatakan ada seorang anak seusia putrinya itu.
Mampu mengetahui sebuah rahasia kelam yang selama ini ia sembunyi dengan rapi, ia benar-benar merasa mendapat ancaman besar. Bahwa dirinya menjadi takut dengan seseorang yang telah mengetahui masa lalunya yang kelam.
Ya dirinya menyimpan rahasia di balik sebuah kecelakaan yang di alami seseorang yang kini menjadi suaminya itu, namun dugaannya salah. Karena sampai saat ini, ia tetap tidak bisa menjerat hati suaminya tersebut.
Apa yang ia alami merupakan kutukan dari sesosok makhluk tak kasat mata, pasukan dari seorang dukun yang ia bunuh belasan tahun yang lalu. Bahkan ia pun tidak bisa memiliki seorang anak yang terlahir dari darah Raymond Wesley Wiratmaja, karena semua hal tersebut merupakan campur tangan dari Tuhan, yang tidak menginginkan ia bahagia dengan seorang yang selama ini yang selalu membuatnya ingin memiliki dirinya. Serta tidak lupa sesosok lain yang selalu melindungi Raymond tersebut.
Dengan geram sebelum ia menemukan sesuatu yang mengganjal akibat laporan dari putrinya tersebut, ia menekan sebuah nomor. Untuk menghubungi salah satu suruhannya, guna memastikan keberadaan tiga bayi kembar yang pernah berusaha sempat ia bunuh itu.
Panggilan dari arah seberang itu pun tersambung yang mana membuatnya bertanya tanpa bersapa pada orang itu.
“Apa kau tahu kesalahanmu,” ucap Marista tanpa bersapa.
Dengan berdehem tiga orang dari seberang tersebut terdiam membisu setelah di tegur oleh seseorang yang mengangkat panggilan dari sang Nyonya Besar.
“Maaf Nyonya maksudnya apa ya?” tanyanya pada Marista.
“Aku tanya sekali lagi. Siapakah di antara kalian yang berhasil menculik tiga bayi kembar belasan tahun lalu?” sahut Marista bertanya balik. “Bukankah aku menugaskan kalian membunuh mereka bertiga?” todong Marista dengan mencecar suruhannya itu menanyakan perihal tiga bayi kembar yang belasan tahun lalu hampir di bunuh oleh dirinya.
Kala itu dirinya benar-benar gelap mata setelah berhasil membuat sepasang suami istri kecelakaan yang berakibat meninggalnya salah satu di antara keduanya. Dengan tega ia pun menyuruh orang-orang suruhan dirinya untuk membunuh ketiga bayi kembar yang tidak berdosa itu dengan menculik ketiga bayi itu.
“Kami mohon maaf Nyonya. Pada waktu menculik tiga bayi kembar tersebut, dalam perjalanan kami mengalami kecelakaan Nyonya. Sehingga mobil yang kami tumpangi saat itu mengalami pecah ban, beruntungnya kami semua bisa selamat,” kata suruhan Marista tegas tanpa ragu.
__ADS_1
Karena tanpa ia sadar mereka yang ia tugaskan untuk menculik dan membunuh bayi kembar tersebut, diselamatkan oleh Kevin Morgan Adhitya serta Andra asisten pribadinya untuk di sembunyikan oleh dua orang tersebut di sebuah desa yang tidak pernah di datangi oleh seorang manusia. Atas desakan dari sesosok arwah yang selalu menemani tiga kembar tersebut hingga saat ini.
“Apa kau dan rekanmu itu sudah memastikan, bahwa bayi-bayi sudah menyusul ibunya?” tanya Marista kembali.
“Bayi-bayi yang Nyonya maksud meninggal semua. Apa perlu Nyonya datang ke makamnya?”
“Kau menyuruhku menginjakkan kakiku ke sana. Cih aku sangat tidak sudi, biarkan mereka menyusul ibunya dengan tenang!”
“Lalu apa ada lagi yang ingin Nyonya katakan?”
“Tidak ada! Nanti aku akan mengirimmu email, kau selidiki apa yang aku minta.” Perintah Marista sembari memutuskan panggilannya secara sepihak.
‘Kalau benar mereka masih, sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa bertemu dengan Papanya. Cih ini sungguh membuatku sangat muak, setiap hari harus di suguhkan tatapan dan pandangan datar dingin. Aku menyesal menikah denganmu Ray.’ Gumam Marista lirih. Yang sialnya terdengar langsung oleh seseorang dari beberapa jarak tempatnya berdiri di balkon gedung kantor tersebut.
“Ada apa Sasa?” tanya Angel yang seakan mengerti keadaan Alexa.
“Tidak!” jawab Alexa. Namun arah pandangan matanya menatap sesosok orang yang dengan kain kafan yang membalut melompat-lompat.
Entah kainnya terlalu panjang ataupun dirinya tidak memahami cara pakai kain yang membalutnya, terlilit oleh kakinya sendiri. Yang mana membuat jatuh tersungkur ke bawah tanah yang tanpa di sadar sesosok tersebut melesak ke dalam sebuah selokan. Hingga membuat kainnya menjadi menghitam, hal tersebut seketika membuat tawa Alexa pecah sampai membuat Alex menatapnya dengan terheran-heran.
“Kenapa kamu tertawa keras begitu Sa?” tegur Alex dengan bertanya pada Alexa.
Berdehem lalu berucap sambil tetap terus memegangi perutnya yang tidak hentinya tertawa terbahak-bahak itu. “Coba kamu tengok ke arah selokan itu, di sana kamu pasti tidak akan tahan untuk tidak tertawa,” ucap Alexa sambil menyarankan Alex, untuk mendekati selokan tersebut.
__ADS_1
Penasaran apa yang di katakan oleh saudara kembarnya itu, dengan perlahan-lahan Alex pun melangkahkan kakinya. Mendekati selokan yang dimaksud oleh Alexa, alangkah terkejutnya mendapati sesosok yang tercebur itu sukses membuatnya tertawa terbahak-bahak.
Sambil terus memegangi perutnya Alex pun tidak hentinya tertawa, yang mana membuat perutnya serasa sedikit nyeri.
“Kamu benar Sa, diselokan itu sepertinya aku sangat mengenali bentuk tubuhnya yang terbalut kain kafan itu,” sahut Alex sambil tetap memegangi perutnya yang serasa nyeri.
Lantas hal tersebut menarik perhatian dari Angel yang tengah menatap heran ke arah ke duanya yang tengah tertawa sambil memegangi perut masing-masing.
“Apakah ada yang lucu, sehingga membuat kalian bisa tertawa puas seperti ini?” tanya Angel.
“Oh itu maaf Angel coba kau sendiri tengok ke dalam selokan itu,” ucap Alex sembari menunjuk ke arah selokan tempat sesosok makhluk berbalut kain kafan itu jatuh.
Tanpa banyak bicara kemudian Angel pun menengok ke arah selokan itu, namun ia terkejut saat melihat sesosok yang terjatuh di selokan tersebut. Sambil berusaha bangun sendiri dari tempatnya terjatuh.
“Jadi karena dia kalian berdua tertawa seperti itu,” ucap Angel pada Alexa dan juga Alex sembari menunjuk ke arah selokan itu.
Alex dan Alexa pun kompak mengangguk, sambil terus memegangi perut mereka yang terasa nyeri.
“Kalian ini,” gumam Angel sambil menolong sesosok yang terjatuh di selokan tersebut.
Keduanya itu pun tidak berhenti tertawa yang mana membuat perut mereka sakit, akibat ulah lucu dari sesosok yang terjatuh dari selokan itu.
“Apa kalian berdua tidak bisa berhenti tertawa sedikit!” celetuk Angel dengan memberikan mereka sedikit teguran keras, untuk tidak terlalu tertawa.
__ADS_1
“Angel, bagaimana kami mau berhenti tertawa. Kalau saja ada sesuatu yang membuat kami berdua seperti ini!” sahut Alex santai.