
Tak lama kemudian kedua orang yang sedang berada di toilet itu telah kembali, mereka pun mengajak Marista dengan Prisilia untuk kembali ke mansion.
Dengan raut wajah yang kecewa, Marista akhirnya mengurungkan niatnya yang ingin membuat pria yang ia nikahi selama tujuh belas tahun itu pun bertekuk lutut pada dirinya. Gagal akibat pertemuan yang sangat tak diharapkan olehnya.
Sementara itu di tempat lain, dengan Andra yang berusaha membujuk sang putra tercinta agar tak memarahi dirinya. Tentang alasannya menyembunyikan semua rahasia yang selama ini tertutup dengan rapi.
“Ayolah Yo, jangan mendiamkan Ayahmu ini Nak! Kamu tahu bukan ayah seperti ini karena ada alasannya,” ujar Andra pasrah.
Mendengar penuturan dari sang Ayah tercinta, akhirnya Theo pun meminta penjelasan langsung dari mulut Ayahnya tersebut. “Katakan semua dengan jelas Ayah. Tentang semua rahasia yang selama ini Ayah simpan dariku!” pinta Theo dengan tegas.
Mengangguk dengan patuh Andra pun menceritakan semua rahasia tersebut dengan jelas, agar putranya itu tak marah lagi terhadapnya.
“Sudah jelas bukan? Mengapa Ayahmu ini menyimpan rahasia ini darimu!” jelas Andra dengan panjang.
“Maaf Ayah!” sesal Theo dengan menunduk. “Aku pikir Ayah sengaja menyimpan semuanya dariku! Ayah tahu tidak Leonard selalu membuat kepalaku pusing,” keluh Theo sembari mengadu pada sang Ayah tercinta.
“Ngomong-ngomong apa kamu bisa merahasiakan ini dari Leonard dan juga Papanya Nak?” pinta Andra dengan penuh harap.
“Mengapa bisa begitu Ayah? Tidakkah Ayah mengerti, Leo pasti marah kalau aku tak segera menemukan keberadaan adik kembarnya!” sahut Theo dongkol.
Entah alasan apa yang membuat sang Ayah tercinta menyimpan rahasia besar, yang selalu membuatnya pusing kepalang.
“Baiklah Ayah aku tak akan menyebar rahasia ini sampai bocor! Apalagi sampai terdengar di telinga ibu tiri Leo. Bisa-bisa dia berbuat nekat Ayah, aku hampir gila menghadapi kelakuannya yang kian menjadi!”
“Ayah harap kamu harus berhati-hati berhadapan dengan Ibu tirinya. Ayah tak ingin kamu terluka di celakai olehnya.” Peringat Andra dengan nada datar. 'Karena Ayah sangat trauma dengan kejadian Kakekmu Nak! Bahkan Ayahmu kini tak dapat memaafkan diri atas kejadian yang menimpa Kakekmu!'
“Baik Ayah aku akan tetap selalu waspada dengan Ibu tiri Leo. Bukankah aku mempunyai pasukan milik Kakek,” ucap Theo bangga.
__ADS_1
“Apa kamu sudah tak takut lagi berhadapan dengan mereka Nak?” goda Andra seraya mengejek sang putra.
Karena Andra bisa melihat dengan jelas, bahwa putranya tersebut masih ketakutan bila berhadapan dengan hantu yang membuat Andra menghela napas gusar.
“Sudahlah Ayah lebih baik tidur. Karena ini sudah semakin larut,” Pamit Andra seraya beranjak dari tempat duduknya. “Kamu harus selalu bisa mengatasi rasa takutmu, kalau kamu benar-benar ingin melindungi adik kandung bosmu itu!”
Selesai memberi perintah sekaligus ancaman untuk putranya, dengan cepat langkah kakinya menghilang dari pandangan Theo sendiri.
'Apa aku bisa mengatasi rasa takut ini Kek!' gumam Theo seraya mengusap wajah kasarnya.
Di sebuah mobil dengan Kevin yang mengendarainya, hanya bisa terdiam membisu ketika melihat keadaan putrinya yang terlihat sangat kacau akibat pertemuan yang tak terduga.
Benar-benar membuat darah Kevin mendidih, sampai kapan putrinya harus menerima perlakuan tak adil yang ia dapatkan dari mantan istrinya itu. sejak sang putri tercinta terlahir ke dunia.
“Sayang,” panggil Kevin dengan lembut. “Maafkan Papa sayang! Makan malam kita benar-benar kacau. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Kevin dengan cemas kediaman putrinya tersebut.
Sekian kalinya Kevin harus menerima kenyataan bahwa sampai kapanpun, mantan istrinya tersebut tak akan pernah menganggap Ivone sebagai putri kandungnya tercinta.
Hal tersebut menjadi pukulan berat bagi Kevin, selama ini dirinya berusaha mati-matian mendidik putrinya. Agar sang putri tercinta, tidak mengikuti jejak langkah yang berasal dari mantan istrinya itu.
Selang beberapa menit kemudian tibalah mobil mereka yang tumpangi masuk ke halaman parkiran mansion, dengan lesu Ivone pun turun dari mobil tersebut dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Dengan gerakan cepat Kevin berlari menyusul putrinya tercinta, membawanya ke dalam dekapan pelukan hangat yang selama ini tercurahkan dengan cinta kasih sayang yang tak pernah di dapatkan dari mantan istrinya tersebut.
“Sayang apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik hatimu?” tanya Kevin lembut seraya mengurai pelukannya. “Papa janji hari libur kerja nanti akan mengajakmu ke tempat Alexa. Mau ikut tidak?” sahut Kevin seraya menawari putrinya.
Untuk mengalihkan rasa luka hati dari penolakan yang di terima oleh putrinya dari mantan istrinya itu.
__ADS_1
Selang beberapa hari kemudian lebih tepatnya di hari minggu dengan Kevin yang tengah berjalan menghampiri kamar putrinya tercinta itu, untuk mengajaknya menemui ketiga kembar yang sedang berada dalam lindungannya.
Hati Kevin di buat mencelos, karena secara tak sengaja dirinya melihat pemandangan yang begitu sangat terluka. Yang mana hal tersebut sengaja di tuangkan putrinya dalam lukisan yang berada di dalam kamarnya tersebut.
“Sayang, apakah kamu benar-benar merindukan kasih sayang darinya? Maafkan Papamu yang tak sempurna ini dalam mencintaimu, jujur saja hati Papa selalu sakit saat menerima ketidakadilan darinya. Ketika mendengar penolakan yang selalu kamu dapatkan darinya, sedikit saja Papa ingin kamu benar-benar merasakan kebahagiaan itu.” Bisik Kevin dengan bergumam diri.
Tentunya Kevin terus bertekad akan tetap menyayanginya, karena Ivone satu-satunya separuh nyawa bahkan separuh napas akhir hidupnya. Hanya selalu ia berikan pada putrinya tercinta.
Kevin pun juga tak akan pernah melepaskan putrinya dari pria manapun, sampai saatnya ada seseorang pria yang tepat untuk putrinya tercinta.
Namun sebelum Kevin membangunkan putrinya dari alam mimpi, ia pun memutuskan untuk menghubungi Andra. Untuk menanyakan tentang agenda meeting hari ini yang membuatnya mendengus kesal, karena meeting tersebut membuat Kevin merasakan firasat buruk dengan mengambil ponsel pintarnya.
Sambil mendial sebuah nomor ponsel milik Andra yang tak lama kemudian deringan panggilan tersebut tersambung dari seberang telepon.
“Batalkan semua jadwal agendaku hari ini.” Perintah Kevin to the poin.
“Tapi Vin kalau kau membatalkan meeting penting ini dengan klienmu. Bisa-bisa kita mengalami kerugian banyak,” ucap Andra pada Kevin yang melawan seberang telepon yang tersambung.
“Ndra apa kau lupa hari ini aku itu akan membawa putriku berkunjung ke rumah si kembar. Sudah sangat lama aku tidak berkunjung ke rumah mereka, kau tahu bukan sampai saat ini dia masih berusaha mengincar nyawa ketiga kembar itu!” ujar Kevin dengan panjang lebar.
“Apa ada lagi yang mau kau katakan?” tanya Andra memastikan.
“Kau sudah menyelidiki semua yang aku minta Ndra?” tanya balik Kevin.
“Nanti saat bertemu dengan aku akan membahas ini. Kau tahu bukan semalam Theo marah denganku, karena aku yang menyembunyikan rahasia besar darinya. Aku tak mau kecolongan kembali saat membicarakan tentang si kembar!” jawab Andra sambil menghela napas gusar.
“Bagaimana bisa terjadi Ndra, bukankah rahasia kita ini harus tersimpan dengan rapat. Mengingat dia tak akan pernah berhenti dengan ambisinya itu,” omel Kevin dongkol. “Kita bahas masalah si kembar di Kantorku!” Tut panggilan terputus dengan Kevin menggeretakan giginya dengan marah.
__ADS_1