Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 193


__ADS_3

Tanpa berbasa-basi Kevin mencecarnya sebuah pertanyaan yang mana ia benar-benar mencemaskan jasad seorang yang sangat berharga untuknya.


“Sepertinya kita tak bisa bertindak gegabah, Vin. Kau tahu sendiri kan? Butuh strategi matang untuk bisa merebut jasad itu.” Andra berusaha memikirkan cara untuk merebut jasad mata-mata milik Kevin.


“Lalu kita harus bagaimana lagi? Aku benar-benar tak ingin jasad itu menjadi korban kekejaman dari mantan istriku, Ndra!”


“Aku tahu, Vin. Masalahnya adalah jasad itu akan dijadikan pengganti jasad istri Raymond.”


“Pikirkan strategi yang benar-benar menguntungkan untuk kita. Ku tunggu laporan darimu!” Kevin yang kesal pun memutuskan mematikan panggilan yang sedang tersambung.


Membuat pikirannya menjadi kalut dengan tindakan dari mantan istrinya benar-benar seperti iblis.


Sebenarnya apa maunya dia? Bukan-kah sudah hidup seperti keinginannya dengan Raymond? Lalu apa yang dicari itu?


Batin Kevin menjerit kesal sambil kakinya melangkah melewati lorong koridor yang terlihat sepi.


Hal tersebut membuat bulu kuduknya berdiri karena selama ini ia sedikit tidak terlalu memercayai hal-hal mistis. Namun, dia sendiri seolah-olah lupa dengan kejadian tujuh belas tahun yang lalu ketika menolong ketiga bayi kembar tersebut.


Begitu sampai di kamar tujuan tanpa mengetuk Kevin membuka dengan dia masuk ke dalamnya yang mendapat sambutan dari putrinya tercinta.


“Apa kamu begitu lama menunggu, Papa?” Tak lupa Kevin mengecup kening putrinya dengan lama.


“Tidak juga.”


Lalu pandangan mata Kevin mengarah ke Araxi yang sedang terlelap dengan nyenyak. “Sudah lama dia tertidur?”


Ivone menggeleng kepala. “Sebelum tidur dia selalu menanyaimu karena sedang ada keperluan denganmu, dan juga pastinya Ara ingin mengobrol denganmu, Pa!”


“Ya, sudah, lebih baik kita tunggu dia bangun.” Yang mendapat anggukan dari putrinya tercinta.


***

__ADS_1


Sampai-lah mereka di sebuah makam yang menjadi tempat pilihan Araxi. Dua mobil dengan satu ambulans tersebut tiba terlebih dahulu. Saat ini mereka sedang memindahkan sebuah peti yang terbujur kaku sejak lama.


“Apa kalian yakin di tempat ini mama benar-benar aman?” Leonard masih belum bisa memercayai perkataan dari adik kembarnya.


“Kakak masih memikirkan makam yang diincar oleh wanita itu?” Alex menyela perkataan yang akan dilontarkan oleh Alexa.


“Kenapa menyela perkataanku, Lex.” Dengkus Alexa kesal.


“Lihat-lah dia ini tak begitu percaya dengan pilihan Araxi, Sa! Apa kamu tak merasa jika mereka sama-sama dingin.” Alex begitu lantang menyebut kata dingin di depan kakak kandungnya.


Tak menggubris obrolan kembarannya dengan Leonard. Alex justru tengah menyaksikan peti yang di pindahkan ke tempat baru.


Ia tak menyangka raga yang telah menjadi tulang belulang itu pun masih diincar oleh seorang iblis yang berasal dari kerajaan bangsa demon.


“Kau tak perlu cemas karena aku sedikit memberi pagar untuk makam mendiang mamamu itu.” Alex tak begitu kaget setelah ia mendengar perkataan dari seorang iblis lain yang bersemayam di dalam raganya.


“Jika Araxi dan Alexa ada seseorang dari bangsa vampire. Apa kedua orang itu tak membutuhkan darah?”


.


.


.


.


.


Halo terima kasih sudah memberi dukungan


Yuk dukung sebanyak-banyak karena nanti aku mau ngadain party kecil-kecilan

__ADS_1


Caranya cukup beri bunga atau kopi sebanyak-banyak biar masuk daftar list fans teratas


Gak mau nih?


Yakin?


Pengumuman nanti aku kabarin lagi ya


Ingat jangan lupa kembang sama kopi biar masuk di list fans teratas


See you next time


Mampir juga ya di karya punya teman


.


.


.


.


.


Mengisahkan tentang seorang gadis desa bernama Raina Anastasya yang merasa hidupnya dipenuhi kesialan. Dipaksa menikah di usia belasan tahun. Tak boleh mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan perempuan tak perlu terpelajar karena tugas wajibnya hanya 3 yaitu (macak, masak, dan manak). Pergi ke kota orang dengan harapan bisa untuk menghilangkan nasib buruknya. Namun, kenyataannya kesialan itu tetap mengikuti kemana pun kakinya melangkah.


Tak ada yang indah di dalam hidupnya, begitu pun dengan perjalanan cintanya.


Lantas bagaimana Raina berdamai dengan diri sendiri dan keadaan?


Temukan jawabannya di Diary Usang!

__ADS_1



__ADS_2